Studi Ungkap Cara Cinta dan Otak Saling Memengaruhi

    Anda Nurlaila - 16 Desember 2019 18:32 WIB
    Studi Ungkap Cara Cinta dan Otak Saling Memengaruhi
    Ilustrasi-Pexels
    Jakarta: Setiap orang berbeda dalam mengekspresikan perasaan, termasuk rasa cinta. Sebagian mungkin terkenal romantis sementara orang lain cenderung dingin mengungkap perasaan meski pada pasangan.

    Adakah daerah tertentu di otak yang penting dan memengaruhi perasaan cinta? Apakah perubahan dalam bagian otak tersebut memengaruhi rasa cinta seseorang?

    Seperti dimuat dalam Psychology Today, pencitraan otak hanya dapat memperlihatkan gambaran waktu, dan tidak mungkin menangkap pengalaman cinta yang kompleks. Namun pencitraan tersebut memberi beberapa wawasan tentang wilayah otak yang terlibat dalam cinta.

    Menggunakan teknik pemindaian otak MRI fungsional (fMRI), yang mengukur aliran darah atau metabolisme glukosa, para peneliti memeriksa otak orang-orang yang sedang jatuh cinta saat melihat foto pasangan romantis mereka. Mereka mengidentifikasi bahwa jaringan otak yang terkait cinta romantis tumpang tindih dengan bagian otak yang terlibat dalam 'sistem penghargaan' saraf kita.

    Pemindaian otak orang yang jatuh cinta mengungkapkan aktivasi atau peningkatan aliran darah ke bagian lobus frontal, ganglia basal, dan hipotalamus. Yakni daerah otak yang memproses hadiah. Hebatnya, terdapat berbagai pola aktivasi dan konektivitas fungsional antara daerah di otak pada orang yang jatuh cinta dan mereka tidak pernah jatuh cinta.

    Bahkan ketika otak 'diam' atau 'netral' atau tidak melihat foto kekasih, ada perbedaan orang yang jatuh cinta dan tidak. Bagian dari lobus frontal menunjukkan perbedaan dalam aktivitas saraf yang disinkronkan. Ini tergantung apakah seseorang sedang jatuh cinta atau tidak dan berapa lama sejak mengalami cinta.

    Dikutip dari Sex in the Brain: How your brain controls your sex life, orang yang jatuh cinta mengalami peningkatan aktivitas saraf yang lebih selaras. Anehnya, ini terkait dengan lamanya waktu mereka jatuh cinta dan lebih besar pada yang telah lama jatuh cinta daripada yang baru mengalaminya. Di sisi lain, mereka yang tidak cinta pada pasangan atau sudah lama putus memiliki kesinkronan lebih sedikit.

    Ketika kita jatuh cinta, konektivitas fungsional ini meningkat di antara wilayah otak yang terlibat dalam penghargaan, motivasi, dan regulasi emosi dan kognisi sosial. Jadi, seperti hubungan ayam-telur, tampaknya cinta meningkatkan fungsi otak yang berguna untuk merasakan cinta.

    Sebuah penelitian pada orang-orang dengan demensia frontotemporal, mereka dengan atrofi frontal kiri lebih besar menunjukkan peningkatan ekspresi kebahagiaan sebagai respons terhadap sebuah film. Kerusakan selektif pada daerah otak frontal kiri melemahkan regulasi emosi positif dan meningkatkan respons emosional positif atau kebahagiaan.

    Temuan ini memperluas penelitian sebelumnya yang menunjukkan lobus frontal kiri terlibat dalam menghasilkan emosi positif. Hal tersebut menunjukkan bahwa kerusakan pada daerah ini sebenarnya tetap memungkinkan untuk mengekspresikan emosi positif.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id