Tips Menghindar dari Sengatan Listrik saat Banjir

    Sunnaholomi Halakrispen - 03 Januari 2020 09:05 WIB
    Tips Menghindar dari Sengatan Listrik saat Banjir
    Ketika tubuh dalam kondisi basah, gunakanlah sarung tangan berbahan karet apabila Anda ingin menyentuh instalasi kelistrikan. (Ilustrasi/Pexels)
    Jakarta: Air banjir berpengaruh pada aliran listrik. Bahayanya, terjadi sengatan listrik pada manusia dengan atau tanpa disadari. Agar hal tersebut tidak terjadi, lakukanlah upaya untuk menghindarinya.

    Langkah pertama, saat hujan dan atau banjir, hindari berteduh di dekat instalasi kelistrikan. Di antaranya, tiang listrik, gardu, panel PJU (Penerangan Jalan Umum) dan lainnya.

    "Bila akan melewati genangan banjir, gunakan sepatu boots yang kedap air agar terhindar dari risiko bahaya, seperti bakteri, pecahan kaca, paku, dan tegangan listrik yang bocor," tulis PLN UID Jakarta Raya dalam keterangan resmi yang diterima Medcom.id.

    Kemudian, ketika tubuh dalam kondisi basah, gunakanlah sarung tangan berbahan karet apabila Anda ingin menyentuh instalasi kelistrikan. Cara ini berfungsi menghindari sengatan listrik langsung ke tubuh.

    "Bila menjumpai instalasi kelistrikan yang berootensi bahaya, beri tanda bahaya dan laporkan ke Contact Center PLN 123," papar mereka.
    Tips Menghindar dari Sengatan Listrik saat Banjir
    Ketika tubuh dalam kondisi basah, gunakanlah sarung tangan berbahan karet apabila Anda ingin menyentuh instalasi kelistrikan. (Ilustrasi/Pexels)

    Tips sekaligus imbauan kelistrikan di musim penghujan tersebut perlu disebarluaskan untuk diketahui seluruh masyarakat. Supaya, tidak terjadi hal yang merugikan atau kejadian yang berakibat fatal bagi masyarakat selama musim penghujan.

    Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem masih berpotensi melanda Jabodetabek hingga Jumat, 10 Januari 2020. Warga Jakarta dan sekitarnya pun diminta tetap waspada. 

    "Dari data terakhir dari analisis kami, diperkirakan atau diprediksi 5-10 Januari (cuaca ekstrem)," ucap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kantor BNPB Jakarta Timur, Kamis, 2 Januari 2020. 

    Dwikorita menjelaskan bahwa cuaca ekstrem terjadi karena masuknya aliran udara basah dari Samudra Hindia, tepat di bagian barat Pulau Sumatra. Jalur masuk aliran udara basah itu berada di sepanjang ekuator, sehingga intensitas curah hujan di musim hujan ini dapat menjadi ekstrem lagi.

    Wilayah terdampak cuaca ekstrem yakni bagian barat Sumatra dan beberapa wilayah Pulau Jawa. Cuaca ekstrem diperkirakan melanda Sumatra Barat, Riau, Sumatra Selatan, Jambi, dan Lampung pada periode 5-10 Januari. 

    Pada lima hari tersebut, aliran udara basah dari Samudra Hindia bakal bergerak ke Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Fenomena ini dapat meningkatkan kembali intensitas curah hujan.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id