Alasan Psikologis Mengapa Seseorang Percaya Teori Konsiprasi Covid-19

    Raka Lestari - 23 Mei 2020 18:15 WIB
    Alasan Psikologis Mengapa Seseorang Percaya Teori Konsiprasi Covid-19
    Ilustrasi-Pexels
    Jakarta: Ada banyak teori konspirasi yang muncul terkait pandemi covid-19. Mirisnya, tak sedikit yang memercayainya.

    Kendati begitu, para ahli sudah tidak terkejut mengapa ada banyak orang yang memercayai teori konspirasi di balik covid-19 ini.

    “Orang-orang tertarik pada teori konspirasi di tengah periode krisis dan serba ketidakpastian seperti sekarang,” ujar Karen Douglas, seorang profesor psikologi di University of Kent di Inggris, kepada Huffington Post.

    Otak kita secara alami mencoba membuat koneksi mengenai semua hal yang terjadi dalam hidup kita dan apa yang terjadi di dunia. Manusia juga menyukai cerita dan penjelasan, hal-hal yang bersifat logis mengenai suatu kejadian. Sesuatu yang masih menjadi misteri tidak disukai oleh otak manusia.

    Joanne Miller, seorang profesor ilmu politik dan hubungan internasional di Universitas Delaware, mengatakan bahwa hal tersebut disebut dengan 'connecting the dots'. Memang terkadang titik-titik tersebut bisa terhubung satu sama lain. Tetapi ada juga titik-titik itu tidak harus terhubung satu sama lain.

    “Ketika peristiwa negatif atau menakutkan terjadi, manusia akan mencoba memahami dan menjelaskan alasan di balik peristiwa tersebut. Dan dalam mencari penjelasan, kita mungkin membuat hubungan antara hal-hal yang tidak masuk akal dan itu akhirnya menjadi teori konspirasi,” kata Miller.

    Douglas juga mengatakan kalau orang-orang mencoba untuk mencari jawaban atas situasi mengerikan yang sedang terjadi. Mereka merasa khawatir dan tidak pasti, dan juga bingung terhadap informasi yang mereka terima yang biasanya seringkali bertentangan.

    “Dan terkadang, manusia yang merasa tidak memiliki kekuatan atau merasa cemas akhirnya menjadi memercayai teori konspirasi dan mereka merasa aman melalui penjelasan dari teori konspirasi yang beredar tersebut,” kata Douglas.

    Selain itu, sebuah studi juga menyebut bahwa seseorang yang mengalami isolasi sosial kemungkinan lebih percaya pada teori konsrpiasi. Sebusah studi yang dari Princeton University menemukan bahwa pengucilan sosial terkait dengan pemikiran yang gelap dan takhayul.

    "Saya pikir ada kemungkinan bahwa, ketika jarak sosial terus berlanjut dan orang-orang merasa lebih terisolasi secara sosial, keyakinan akan teori konspirasi mungkin meningkat," tutup Douglas.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id