Tips Jitu Membimbing Anak Generasi Alfa di Tengah Pandemi

    Sunnaholomi Halakrispen - 21 Mei 2020 16:08 WIB
    Tips Jitu Membimbing Anak Generasi Alfa di Tengah Pandemi
    Ilustrasi-Pexels
    Jakarta: Generasi alfa merupakan mereka yang lahir mulai tahun 2010, biasanya lahir dari anak generasi millenial atau kelahiran tahun 1977-1995. Generasi ini sangat akrab dan bergantung dengan teknologi dibandingkan generasi sebelumnya. Maka metode bimbingan pun berbeda.

    Anak generasi alfa mempunyai karakteristik yang khas dan berbeda dari generasi sebelumnya, yakni independen, inovatif, dan tecnologycal based. Mereka memiliki sifat kritis dalam pola berpikirnya dan pengajaran yang dipaksakan akan sia-sia.

    "Orang tua tidak dapat memaksakan metodenya dalam belajar pada anak, namun dengan melakukan pendekatan yang dibutuhkan dan sesuai dengan gaya belajar anaknya dalam membantu anak memahami materi yang dipelajarinya secara optimal" ujar Psikolog Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, dalam virtual press conference bersama Sampoerna Academy.

    Jovita memaparkan bahwa gaya belajar merupakan cara yang paling disukai anak dalam berpikir, memproses, dan memahami suatu informasi. Setiap anak mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.

    Di antaranya, gaya belajar auditori, visual, read or writer, dan kinestetik. Pada anak yang memiliki tipe belajar visual, anak lebih memahami proses belajar dengan memerhatikan gambar, grafik, bagan, diagram, dan warna.

    "Gaya belajar auditori akan lebih mudah memahami informasi dengan cara mendengar. Anak dengan gaya belajar writer atau reader, anak lebih mudah memahami informasi dengan cara dia membaca ataupun menulis," paparnya.

    Sedangkan anak dengan gaya belajar kinestetik tidak bisa menyerap materi dengan baik, jika hanya mendengar atau membaca. Anak dengan tipe ini akan mencoba melakukannya secara langsung menggunakan gabungan inderanya dan juga menerapkannya dalam kesehariannya.

    "Anak yang punya gaya belajar kinestetik akan lebih menyukai aktivitas pembelajaran yang aktif, bergerak, lewat sebuah permainan, berbeda dengan gaya belajar anak auditori yang lebih menyukai ketenangan," jelasnya.

    Setelah memahami gaya belajar spesifik dari sang anak, akan memudahkan orang tua untuk mendukung mereka menerima dan menangkap pelajaran maupun informasi. Apalagi saat anak menjalani virtual schooling, orang tua harus menjadi pendamping dan jembatan antara guru dan anak di rumah.

    Supaya orang tua memahami gaya belajar anak, orang tua perlu memerhatikan anak secara seksama agar tidak keliru. Kemudian, luangkanlah waktu. Dengan sering menghabiskan waktu bersama anak, secara tidak langsung dapat memahami gaya belajar si kecil.

    "Selain itu, perlunya menanyakan kesulitan yang dihadapi dan juga melakukan komunikasi antar orang tua dan guru, selaku tenaga pendidik yang sehari-hari mengajarkan anak secara langsung di sekolah," pungkasnya.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id