Sejumlah Faktor yang Bikin Seseorang Membuat Prank

    Kumara Anggita - 12 Mei 2020 13:05 WIB
    Sejumlah Faktor yang Bikin Seseorang Membuat Prank
    Ilustrasi-Pexels
    Jakarta: Prank adalah salah satu konten yang sering dibuat oleh para youtuber. Candaan ini dianggap sah-sah saja selama dilakukan dengan aturan yang tepat dan tidak merugikan orang lain.

    Namun, salah satu youtuber Ferdian Paleka membuat prank di luar batas. Yaitu membagikan sembako yang ternyata berisi sampah dan batu ke para transpuan. Videonya viral dan membuat masyarakat jadi terganggu hingga marah.

    Kira-kira mengapa Ferdian bisa tega buat prank sampai di luar batas seperti itu ya? Berikut penjelasannya menurut Haniva Hasna M. Krim.

    Menurutnya, prank yang dilakukan Ferdian biasanya tidak terorganisir dengan baik. Sebab pelaku kurang pengalaman dan belum terdapat ikatan kohesif yang masif.

    Pada umumnya, pelakunya adalah anak muda dari kelas menengah, tinggal di kota besar yang melakukan perbuatan destruktif karena didorong oleh kebutuhan untuk menonjolkan ego dan ingin menghilangkan kejemuan.

    Namun ada pula faktor lain yang mendorong seperti:

    -Pengaruh sosial kultural

    Menurut Haniva, pengaruh sosial dan kultural memainkan peranan besar dalam menentukan perilaku seseorang. Anak remaja yang mendapat perlakukan sosial negatif cenderung akan berperilaku negatif juga.

    “Kejahatan remaja merupakan peristiwa minimnya konformitas remaja terhadap norma sosial yang berlaku. Mereka terpengaruh oleh stimuli sosial yang jahat sehingga menjadi berperilaku tidak selayaknya,” ujar Haniva.

    Kontrol sosial yang lemah

    Orang melakukan pelanggaran seperti itu juga bisa karena memiliki kontrol sosial yang lemah. Menurut Haniva, pengaruh lingkungan yang buruk ditambah dengan kontrol diri dan kontrol sosial yang lemah akan mempercepat tumbuhnya perilaku tidak terpuji ini.

    Bosan

    Orang buat prank juga bisa didorong rasa bosan. Mungkin orang seperti ini ingin mendapatkan hiburan cepat, namun lupa mempertimbangkan konsekuensinya.

    “Mereka melakukan untuk mengisi waktu luang dan kebosanan akibat pandemic dan kebutuhan aktualisasi diri yang dituangkan dalam konten yang kurang tepat,” ujarnya.

    “Dalam kondisi bosan ini remaja mendapatkan keberanian untuk bereksperimen dalam bentuk tindakan ‘kriminal’ dan pada akhirnya mereka benar benar menjadi kriminal,” tegas Haniva.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id