Cara Menghindari Perceraian Akibat Karantina

    Kumara Anggita - 26 Maret 2020 14:04 WIB
    Cara Menghindari Perceraian Akibat Karantina
    Ilustrasi. (Foto: Pexels)
    Jakarta: Setiap rumah tangga memiliki permasalahannya masing-masing, namun situasi menjadi semakin tegang dengan kehadiran covid-19. Jangan sampai situasi ini merembet ke hal lain seperti yang akhir-akhir ini sering dibahas di internet yaitu “perceraian karantina”.

    "Saat ini, semua orang memiliki banyak tekanan, ketegangan, ketakutan, dan kecemasan yang mendasarinya, dan orang-orang berada di luar rutinitas dan ritme mereka. Mereka menghadapinya bersama pasangan mereka," kata Stephanie Macadaan, ahli terapi berbasis di Los Angeles yang dilansir dari Parents.

    "Semua orang sedikit lebih cemas, jadi lebih mudah dipicu. Ini hampir seperti gelasmu penuh, dan tidak butuh banyak hal untuk membuatnya meluap,” ujarnya.

    Kombinasi rasa takut, ketidakpastian, dan hidup tanpa henti di atas satu sama lain adalah badai sempurna untuk mengantarkan orang pada perceraian. Namun bukan berarti, hal ini tak bisa dicegah. 

    Di sini, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk menjaga hubungan Anda tidak hanya bertahan tetapi berkembang melalui kondisi kehidupan yang terus berubah yang dilansir dari Parents.

    Coba untuk penasaran

    Banyak pasangan yang berjuang untuk melihat secara langsung strategi pengasuhan anak terbaik untuk berbicara dengan anak-anak tentang apa yang terjadi atau jarak sosial. "Kami cenderung tidak setuju tentang cara kami menjelaskan peristiwa terkini kepada anak-anak kami," kata Kelly Kamenetzky, seorang ibu dari tiga anak di Los Angeles, California. 

    “Kami sepakat bahwa kami harus jujur ??pada mereka dan memberikan fakta kepada mereka, tetapi saya pikir suami saya memiliki cara untuk mengutarakan sesuatu sehingga kedengarannya lebih menakutkan daripada yang diperlukan untuk anak berusia 7 dan 10 tahun,” lanjutnya.

    Biasanya, memiliki pandangan yang berlawanan dapat menciptakan keseimbangan dalam suatu hubungan, tetapi pada saat ini, ketakutan dan kecemasan hanya berfungsi untuk meningkatkan potensi bermusuhan.

    Cara mengatasinya: "Cobalah untuk beralih dari mencoba membuat poin Anda sendiri ke tempat yang penasaran dan terbuka dengan pasangan Anda," kata Macadaan.

    "Ketika Anda mulai berubah pikiran, itu hanya berubah menjadi perebutan kekuasaan, jadi yang benar-benar ingin Anda lakukan adalah memahami dari mana mereka berasal,” ujarnya.

    Ini juga berarti menghindari pernyataan yang memasukkan kata "seharusnya." "Itu tidak lain adalah bentuk menghakimi, tekanan. Hal ini  akan membuat pasanganmu bersikap defensif karena apa yang Anda sampaikan seperti perintah. Sebagai gantinya, Anda dapat mengatakan, "Saya merasakan XYZ ..." dan kemudian bertanya kepada pasangan Anda mengapa mereka merasa berbeda. Sikap penasaran ini dapat membuat komunikasi menjadi lebih produktif.

    Cari akar konflik

    Macadaan menjelaskan bahwa dia melihat orang tua bertengkar karena bingung memilih untuk membawa anak-anak ke taman atau ke rumah teman. Dalam kasus-kasus seperti ini, satu orangtua dianggap sebagai pengendali, dan yang lainnya dianggap sembrono. Dia menyarankan agar keduanya saling bertanya, apa yang mendasari pertengkaran? Hal ini dapat menumbuhkan empati, kasih sayang, dan pengertian di antara pasangan.

    Jika sekarang ada ketegangan tinggi dan Anda mengalami kesulitan untuk masuk ke jalan yang sama, Macadaan menyarankan untuk beristirahat.

    "Satu hal yang sering saya katakan kepada pasangan saya adalah memperlambat segalanya," katanya. "Hal tersulit di dunia adalah untuk berhenti sejenak, tetapi jika kita bisa melakukannya, itu adalah cara paling efektif untuk menyelesaikan argumen,” lanjutnya.

    Hal ini  memungkinkan kedua pasangan untuk menyerap situasi, posisi satu sama lain, dan mendingingkan kepala.

    Saling memberi ruang

    Bahkan ketika dunia tidak menghadapi pandemi, akan sulit menemukan ruang dan waktu untuk memenuhi kebutuhan pribadi sebagai orang tua. Tetapi isolasi keluarga yang dipaksakan hanya membuat situasi itu lebih sulit, kata Macadaan.

    Menemukan resolusi di sini adalah penting, catat Macadaan. Ketika berpasangan, rasanya bisa seperti mencekik. Kadang-kadang kita berharap bahwa jika kita berada di ruang yang sama, bahwa kita harus berbagi bersama. Rasanya seperti ada yang salah kalau tak melakukan sesuatu bersama. Namun tak ada salahnya untuk memberikan ruang dan waktu pada pasangan dan diri Anda sendiri. 

    Prioritaskan koneksi.

    Tak ada salahnya untuk membuat gerakan romantis. Temukan cara-cara kecil dan halus untuk terhubung dengan pasangan Anda sangat penting untuk melewati ini sebagai sebuah tim.

    "Merasa aman secara emosional satu sama lain, seolah-olah kita dapat membagikan apa yang kita pikirkan dan rasakan, dan pasangan kita akan mendengar dan merespons serta menghargai itu, yang membuat kita merasa terhubung dengan mereka," catat Macadaan.

    Itulah beberapa cara yang bisa Anda coba agar suasana bisa lebih positif. Semoga dengan adanya covid-19, hubungan yang baik yang tercipta bukanlah perceraian. 





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id