Tips Perbaiki Anak yang Berperilaku Buruk

    Sunnaholomi Halakrispen - 16 Mei 2020 16:09 WIB
    Tips Perbaiki Anak yang Berperilaku Buruk
    Perilaku anak tak hanya dipengaruhi oleh didikan orang tuanya, tetapi juga karena pengetahuan dan lingkungan tempat bergaul. (Ilustrasi/Pexels)
    Jakarta: Perilaku anak tak hanya dipengaruhi oleh didikan orang tuanya, tetapi juga karena pengetahuan dan lingkungan tempat bergaul. Lalu, bagaimana cara tepat dalam menghadapi anak yang melakukan perilaku tidak baik?

    "Menerima anak yang melakukan kesalahan dan membantu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jadi, bukan orang tua yang melakukan permintaan maaf pada pihak yang dirugikan," ujar Kriminolog Haniva Hasna, M. Krim kepada Medcom.id.

    Sebab, apabila anak melakukan kesalahan atau tindakan tidak baik namun orang tua yang meminta maaf kepada orang lain, anak tidak akan paham tentang tanggung jawab. Haniva menjelaskan bahwa hal itu karena di setiap kali melakukan kesalahan selalu orang tua yang menyelesaikan masalah.

    Padahal, anak yang kerapkali melakukan kesalahan biasanya ada di usia remaja. Usia tersebut pun seharusnya menjadi patokan pola berpikir anak yang sudah bisa membedakan mana ya baik dan mana yang buruk. Telebih pada anak berusia remaja akhir.

    "Anak remaja akhir sudah selayaknya bisa mengontrol perilaku, menunda keinginan, mengontrol emosi (dari Emosi Aksi Pikir – Emosi Pikir Aksi/EAP - EPA), serta reaksi masyarakat atas perbuatan yang dilakukan," tuturnya.

    Ia menjelaskan, jika hal itu gagal dilakukan oleh remaja, berarti ada yang salah dalam pembentukan karakter dan kepribadiannya. Walaupun demikian, perlu diingat bahwa ada hal lain yang ikut memengaruhi perilaku selain dari pengasuhan, yaitu lingkungan dimana dia bertumbuh. "Bisa lingkungan di keluarga atau peergroup yang buruk penyebab perilaku yang tidak ideal," jelasnya.

    Lantaran demikian, untuk memperbaiki hubungan dengan anak, ada sejumlah hal yang selanjutnya perlu diterapkan orang tua. Di antaranya, menghormati pilihan anak, aktif mendengarkan apa yang anak bicarakan, memberikan teladan yang baik, serta berperan sebagai partner. 

    "Anak remaja akhir sidah tidak bisa diperintah, tetapi lebih nyaman bila diajak diskusi. Semakin sering diperintah, anak akan semakin merasa bete. Berbeda ketika diajak untuk diskusi, anak tidak merasa didikte, cenderung merasa dipercaya dan bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan," paparnya.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id