Studi Ungkap 'Waktu Gawai' Pengaruhi Perkembangan Otak Anak

    Anda Nurlaila - 26 November 2019 14:06 WIB
    Studi Ungkap 'Waktu Gawai' Pengaruhi Perkembangan Otak Anak
    Kebiasaan menatap layar terlalu lama pada anak usia balita bukan saja berisiko pada kesehatan tapi juga kesiapan sekolah mereka. (Ilustrasi/Pexels).
    Jakarta: Gawai dan televisi adalah salah satu andalan orang tua agar anak tenang saat mereka sedang menyelesaikan pekerjaan. Namun kebiasaan menatap layar terlalu lama pada anak usia balita bukan saja berisiko pada kesehatan tapi juga kesiapan sekolah mereka.

    Semakin banyak waktu yang dihabiskan anak menatap layar meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti obesitas dan penyakit lainnya. Alasan terbaru membatasi waktu anak dengan gawai adalah semakin banyak anak menonton televisi dan gawai semakin tidak siap mereka untuk bersekolah.

    Studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics pada November 2019, menggunakan pencitraan tensor difusi-sejenis MRI- untuk melihat materi putih di otak. Peneliti mengukur hasil dari 47 tes kognitif anak-anak usia prasekolah. Kemudian membandingkannya dengan statistik tentang penggunaan media berbasis layar anak-anak prasekolah yang dikompilasi oleh orang tua dalam survei "ScreenQ".

    Hasil temuannya adalah anak-anak dengan ScreenQ lebih tinggi memiliki "integritas struktural dan mielinisasi" lebih rendah di otak. Oleh karena itu, lebih banyak waktu menatap layar dikaitkan dengan penurunan kemampuan bahasa dan literasi pada anak-anak prasekolah.

    Seperti dimuat dalam CNN, penulis utama Dr. John Hutton, seorang dokter anak dan peneliti klinis di Rumah Sakit Anak Cincinnati mengatakan, studi ini adalah studi pertama yang mendokumentasikan hubungan antara penggunaan layar yang lebih tinggi dan ukuran struktur dan keterampilan otak yang lebih rendah pada anak usia prasekolah.

    "Ini penting karena otak berkembang paling cepat dalam lima tahun pertama. Saat itulah otak sangat plastis dan menyerap semuanya, membentuk koneksi kuat ini yang bertahan seumur hidup," kata Dr. John Hutton.

    Hasil penelitiaan ini mirip dengan temuan dari New York University, yang muncul dalam Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics pada April 2017. Para peneliti dalam studi tersebut melihat 807 anak TK dari berbagai latar belakang.

    Orang tua dari anak-anak tersebut diminta melaporkan pendapatan keluarga dan jumlah jam menonton televisi anak-anak setiap hari. Studi tidak memasukkan ketelibatan video, tablet dan ponsel cerdas. 

    Kesimpulannya: menonton televisi selama lebih dari beberapa jam sehari dikaitkan dengan kesiapan sekolah rendah pada anak TK. Hal ini terutama di kalangan keluarga berpenghasilan rendah.

    Kemudian, para peneliti menilai peserta dalam hal keterampilan dasar kesiapan sekolah dalam matematika, memahami huruf dan kata-kata. Termasuk kompetensi kognitif dan sosial-emosional utama, seperti memori kerja, fleksibilitas kognitif, dan kontrol penghambatan. Mereka menemukan ketika anak-anak menonton televisi lebih dari dua jam sehari, kesiapan mereka masuk TK terpengaruh.  

    Pada saat pendapatan keluarga menurun, hubungan antara menonton televisi dan penurunan kesiapan sekolah meningkat. Keluarga yang berada di dekat garis kemiskinan mengalami penurunan terbesar.

    Yang menarik, para peneliti mencatat tidak ada hubungan antara kesiapan sekolah dan menonton televisi di rumah-rumah berpenghasilan tinggi. Para peneliti menduga bahwa anak-anak dari keluarga berpenghasilan tinggi mungkin menonton lebih banyak konten pendidikan. Dan orang tua mungkin menonton program tersebut bersama anak-anak mereka yang mendorong pembelajaran.

    Kedua studi studi memperkuat rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) bahwa anak-anak usia 2 hingga 5 tahun hanya menonton televisi satu jam per hari. Tetapi pada kenyataannya, banyak orang tua kesulitan melakukannya.

    Penulis utama studi Universitas New York ini Andrew Ribner, kandidat doktoral di Departemen Psikologi Terapan di NYU Steinhardt, mengatakan, penelitian melaporkan bahwa anak-anak yang menonton lebih dari jumlah yang disarankan yang semakin banyak berasal dari teknologi seperti gawai dan tablet meningkatkan waktu anak menatap layar yang lebih banyak daripada sebelumnya.

    Yang dapat orang tua lakukan, katanya, adalah melakukan yang terbaik untuk membatasi  waktu layar anak.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id