Studi: Jarang Bermimpi sama Buruknya seperti Kurang Tidur

    Anda Nurlaila - 15 Oktober 2019 12:01 WIB
    Studi: Jarang Bermimpi sama Buruknya seperti Kurang Tidur
    Ilustrasi--Pexels
    Jakarta: Seberapa sering Anda bermimpi saat tidur? Dapatkah Anda mengingat mimpi yang dialami semalam? Sebuah studi menemukan jika Anda tidak bermimpi atau jarang bermimpi dapat  menempatkan Anda pada risiko kesehatan.

    Beberapa di antaranya adalah obesitas, kehilangan ingatan, dan peradangan di seluruh tubuh. Semua ini dapat menyebabkan masalah autoimun. Studi yang diterbitkan dalam Annals of New York Academy of Sciences pada 2017 menyelidiki bahaya kehilangan fase tidur gerak mata cepat (REM) dan alasan potensial mengapa kita tidak banyak bermimpi.

    Seperti dilansir Readers Digest, penulis artikel dan spesialis tidur dan mimpi di Andrew Weil Center for Integrative Medicine di University of Arizona Rubin Naiman menyebut jarang bermimpi sebagai "epidemi" yang membahayakan kesehatan dan kualitas hidup kita.

    Mimpi berkualitas bermanfaat restoratif

    Tidur paling nyenyak bagi sebagian besar orang yaitu saat Anda tidak mengingat apa-apa. Namun Naiman mengatakan jika mengalami mimpi indah atau menyenangkan, Anda akan merasa lebih baik di pagi hari.

    Mimpi juga tampaknya sangat penting untuk sistem perbaikan tubuh dan untuk proses pembelajaran dan memori otak. “Bermimpi juga memproses dan mengkonsolidasikan memori. Gangguan kognitif ringan dan gangguan neurologis serius seperti penyakit Alzheimer dikaitkan dengan mimpi buruk atau yang terganggu. Jika tidak bermimpi dengan baik, kita tidak akan mengingatnya dengan baik," katanya.

    Hubungan antara kurang mimpi dan kesehatan yang buruk telah lama menjadi keprihatihan ilmiah. Pada 1960-an, para peneliti menemukan bahwa subjek yang secara selektif kehilangan tidur REM mengalami penambahan berat badan, kesulitan konsentrasi, lekas marah, gelisah, tegang, delusi, dan halusinasi. Tetapi penelitian yang sama menemukan bahwa bermimpi juga terjadi dalam tidur non-REM.

    Mereka menemukan bahwa alat bantu tidur, obat-obatan psikiatrik, dan obat alergi dapat menekan tidur REM. “Tetapi bahkan setelah mengetahui pentingnya tidur REM terhadap memori dan kesehatan mental, ada kecenderungan untuk mengabaikannya. Sangat mengejutkan bahwa ilmu kedokteran hampir tidak memperhatikannya," paparnya.

    Penyebab lain dari kurang bermimpi

    Naiman menambahkan penggunaan tablet, telepon pintar, komputer, dan lampu buatan pada larut malam, dan alarm di awal pagi dapat memotong tidur REM. Tidur REM sebagian besar terjadi pada paruh kedua waktu tidur Anda.

    Penggunaan alkohol dan narkoba juga merupakan penyebab masalah ini, meskipun umumnya dua hal ini dipakai mengurangi stres dan meningkatkan kualitas tidur. Alkohol memungkinkan pelepasan hormon yang mengganggu REM dan pada gilirannya memengaruhi seseorang bermimpi.

    Dalam simpulan makalahnya, Naiman mengatakan kurang bermimpi akibat kita tidak menghargai mimpi yang memberi manfaat fisiologis. Selain itu kita juga dapat memperluas proses persepsi kita, menjadi kurang kaku, dan melihat kehidupan melalui mata yang lebih artistik.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id