Cinta Ibu untuk Berbagai Kondisi Si Kecil - Medcom

    Cinta Ibu untuk Berbagai Kondisi Si Kecil

    Sunnaholomi Halakrispen - 30 September 2019 20:00 WIB
    Cinta Ibu untuk Berbagai Kondisi Si Kecil
    Awalnya Cerebral Palsy mendera Btari Chandri Kinnara, putri cantik yang kini berusia lima tahun. Anak ketiga dari Amanda dan Dedy Sudarwanto. (Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)
    Jakarta: Bagi perempuan yang telah menikah, memiliki anak menjadi anugerah paling indah. Konsekuensi hangat untuk merawat dan mencintai si buah hati dengan penuh kasih. Begitu juga saat anak diterpa sesuatu yang membuatnya berbeda.

    Adalah Amanda Andono, seorang Public Relation (PR). Wanita yang telah melahirkan anak ketiga itu tak pernah menolak atau merasa enggan merawat putri kedua yang kondisinya berbeda dari sebelumnya. Bahkan rasa lelah, tak dihiraukannya.

    Btari Chandri Kinnara, putri cantik yang kini berusia lima tahun. Tak ada yang beda saat ia dilahirkan dengan mata yang indah, senyum manis yang menawan, dan tubuh yang sempurna.

    Ledakan tangisan saat Chancan, sapaan gadis mungil itu, memecah kekhawatiran Amanda ketika melahirkannya. Bahagia melengkapi rasa seluruh keluarga saat itu.

    Namun suatu ketika di tahun 2015, seperti ada ledakan bom menghampiri Amanda dan Dedy Sudarwanto suaminya. Perkembangan Chandri terhambat, tubuhnya lemas. Di usia satu tahun, ia belum bisa merangkak.

    "Mulai curiga sekitar usia empat bulan, dia belum bisa merangkak. Sedangkan anak lain sudah merangkak," kenangnya sambil menahan tangis.

    Cinta Ibu untuk Berbagai Kondisi Si Kecil
    (Awalnya Cerebral Palsy mendera Btari Chandri Kinnara, putri cantik yang kini berusia lima tahun. Anak dari Amanda dan Dedy Sudarwanto. Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)

    Terlahir normal

    "Awalnya dia lahir normal, sehat, enggak ada masalah, lahir lumayan besar dengan berat 3,3 kilogram. Dia menyusu pintar, satu bulan pun enggak masalah pertumbuhannya. Berat badannya sesuai dengan chart-nya," ungkapnya.

    Insting seorang ibu yang sangat merasakan apa yang dialami anaknya meski si kecil belum bisa berkomunikasi secara langsung. Amanda segera menanyakan kondisi Chandri ke sejumlah dokter spesialis anak.

    Mereka mengatakan tidak ada masalah pada Chandri, karena pertumbuhan setiap anak itu berbeda. Dokter pun meminta Amanda untuk tenang dan tidak perlu khawatir dengan perkembangan Chandri yang dinilai lamban dibanding anak lainnya.

    Tapi Amanda tak berhenti begitu saja. Saat usia Chandri delapan bulan dan Amanda mengikuti acara kumpul keluarga besar dari sang ibunda, kekhawatirannya terjawab. Ada jalan terbuka yang menuntunnya untuk bertindak.

    Salah satu pamannya memerhatikan Chandri dan menyarankan Amanda untuk memeriksakan Chandri ke dokter tumbuh kembang. Ucapannya santai, namun terasa menekankan wanita berusia 43 tahun itu untuk bergegas.

    "Aku kepikiran dan pulangnya bilang ke suamiku. Baru tuh kita terpikirkan periksa ke klinik tumbuh kembang anak di Fatmawati. Ternyata Cerebral Palsy. Itu sumpah, kagetnya minta ampun," akunya dengan mata terbelalak mengenang kejadian saat itu.

    Bagian otak atau syarafnya terganggu, sehingga kinerja motoriknya pun ikut terganggu. Gadis mungil yang dilahirkannya mengalami kondisi sulit selama delapan bulan, tanpa diketahui pasti sebelumnya.

    Cinta Ibu untuk Berbagai Kondisi Si Kecil
    (Amanda dan Dedy Sudarwanto suaminya terus memberikan kasih sayang serta perhatian pada perkembangan Chandri. Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)

    Terpukul dengan keadaan

    Entah apa yang terjadi, Amanda terheran. Ia tak pernah mengonsumsi obat-obatan yang berbahaya bagi tubuhnya. Seketika ia teringat proses melahirkan yang sempat mengalami kesulitan.

    Chandri tidak mudah keluar dari rahim sang ibu. Amanda merasakan sakit yang luar biasa setiap kali teriak berusaha melahirkan. Sudah lama ia sakit di bagian pinggang. Tapi saat itu, sakitnya terasa hingga ke kepala.

    Chancan beberapa kali hampir keluar dari rahim ibunya, tapi masuk kembali. Kondisi itu terjadi beberapa kali. Tapi Amanda yakin bisa melahirkan secara normal. Akhirnya, Chancan pun lahir.

    "Dia mungkin sempat kekurangan oksigen saat lahiran. Di masa kehamilan dia, sempat aku nyerah karena sudah ada anak cewek-cowok, secara moril dan materiel pun aku down banget, lagi enggak kerja juga yang bikin drop," tutur dia.

    Wanita yang lahir di Semarang ini sempat terpukul dengan keadaan yang dialaminya. Air susunya pun tak lagi terproduksi meskipun telah mengonsumsi vitamin. Chancan tak lagi minum ASI sejak usia 1,5 tahun.

    Ibu tiga anak ini semakin stres saat itu. Padahal, di AIMI ia merupakan Co-Founder. Salah satu pendiri AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), aktivis laktasi. Rasa bersalah menyelimuti hari-harinya karena tidak lagi bisa memproduksi ASI untuk si manis.

    "Tamparan banget. Jadinya aku males berkomunikasi sama orang. Sampai sempat aku merasa kok dunia enggak adil ya sama aku. Lihat ke Facebook dan Instagram, semuanya hidup enak, makan di mana saja. Padahal aku mau makan saja perlu mikir," katanya.

    Menyalahkan diri sendiri bisa dibilang menjadi pelengkap hari-harinya. Seandainya bisa melahirkan dengan cara yang lebih baik, seandainya tidak hamil, dan beragam pikiran penyesalan menyelimutinya. Flashback tiada henti, rasa bersalah pun tak hilang.

    "Putus asa sempat. Anakku sempat juga keluar dari sekolah swasta tanpa diberikan rapor karena belum bayar uang sekolahnya. Finansialnya memang sedang drop. Setahun anakku tidak bisa sekolah, akhirnya suamiku dapat sekolah di Pamulang yang bisa memahami kondisi kami," imbuh dia.

    Meski badai menerpa, Amanda dan suami terus berjuang mengupayakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Hingga ada jalan terbuka sebagai solusi. Amanda diminta bekerja di salah satu perusahaan public relation dan digelutinya selama tiga tahun belakangan.

    Cinta Ibu untuk Berbagai Kondisi Si Kecil
    (Perempuan karier yang tetap peduli dengan anak-anaknya, memantau setiap perkembangan buah hatinya. Termasuk kepada si bungsu, Chandri. Harapannya satu, berusaha agar Chancan bisa berkembang sesuai dengan kemampuannya. Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)

    Bangkit, membuka diri

    Perlahan, wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Trisakti Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD) itu, membuka diri setelah kembali bekerja. Terlintas ada penyesalan karena sempat menutup diri dari dunia. Kesibukan bekerja sambil mengurus rumah tangga pun semakin menjadi temannya.

    Saat tengah bekerja mengurus konferensi pers salah satu acara besar, telepon Amanda berdering. Kabar tak menyenangkan terjadi. Chancan mengalami serangan di area otak.

    "Anakku Chandri tiba-tiba terkena serangan seizure sampai hampir sejam, dan masuk UGD, lalu sempat beberapa hari di ICU yang ternyata otaknya terkena athropy."

    Gejala yang terjadi, tiba-tiba di siang hari, Chancan panas tinggi, lalu muntah-muntah, kejang-kejang, drowling air liur, dan tidak bisa berkomunikasi. Kejang hampir satu jam dan belum sadarkan diri hingga sore hari. Bahkan, lidahnya banyak berdarah karena terluka terkena gigitan.

    Bagaikan tersambar petir, sedih tak tertahankan mendengar kabar itu. Lebih menyesakkan, Amanda tidak bisa meninggalkan pekerjaannya secepat itu karena sedang menemani para awak media. Dalam menangani emosinya, ia bergegas ke toilet, menangis.

    "Masuk toilet, nangis sesenggukan telepon sana sini, rapiin muka lagi, keluar toilet sudah siap lagi dan senyum sana senyum sini supaya terlihat cerita tanpa ada masalah," papar wanita ramah ini.

    Pancaran wajah bahagia itu terpaksa dilakukannya demi profesionalitas dalam pekerjaan yang ditekuninya. Padahal, sesak dirasakannya, sangat panik, anaknya sakit masuk UGD.

    Kamis, 21 Februari 2019, Chancan diobservasi di ICU RS Suyoto dan malam harinya mendapatkan slot di PICU (Pediatric Intensive Care Unit). Diberikan selang melalui hidung menuju ke lambung untuk mengeluarkan cairan lambung yang menghitam.

    Malam keesokan harinya, anak terkasihnya sadarkan diri. Tapi ada muncul benjolan besar yang agak lunak di bagian belakang kepala.

    "Diagnosa awal belum terpatahkan, radang selaput otak (meningitis). Sumpah, panik to the max," tutur Amanda.

    Cinta Ibu untuk Berbagai Kondisi Si Kecil
    (Amanda sangat bersyukur memiliki Chandri. Perkembangannya kini semakin terlihat membaik. Si kecil sudah bisa makan dan duduk. Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)

    Perjuangan tiada henti

    Pekerjaan menuntut waktunya tidak bisa standby 24 jam di dalam rumah. Bahkan di hari sabtu dan minggu, tak jarang ada kegiatan yang mengharuskannya meninggalkan rumah. Untungnya, sang suami dan ketiga anaknya memahami kondisi tersebut.

    Wanita yang bergelut di dunia PR selama 18 tahun ini pun terkadang mengajak keluarganya turut hadir melihat Amanda bekerja. Pastinya, saat ada kegiatan yang seru dan ramah untuk didatangi anak-anak. Salah satunya, saat event di Monas, Jakarta Pusat.

    Perempuan karier yang tetap peduli dengan anak-anaknya, memantau setiap perkembangan buah hatinya. Termasuk kepada si bungsu, Chandri. Harapannya satu, berusaha agar Chancan bisa berkembang sesuai kemampuannya.

    "Ini adalah sesuatu yang harus diperbaiki, memang tidak bisa disembuhkan karena mungkin memang ini sudah jalan dari Allah. Goal aku dan suami, supaya dia bisa mengejar keterlambatannya dia dan setelah umur tiga tahun alhamdulillah dia bisa duduk walaupun belum tegak."

    Rasa bangga memiliki anak, tetap dipertahankannya. Sering kali, di waktu luangnya, Chancan diajak bepergian ke luar rumah. Pergi ke mal, salon, car free day di sekitar Monas, dan tempat umum lainnya. Di saat weekend diusahakan jalan-jalan sekeluarga.

    Diceritakannya Chandri ke teman-temannya, bukan berarti minta dikasihani. Tapi untuk memberitahukan kondisi Chandri. Ia sadar, banyak orang tua yang enggan membawa anak berkebutuhan khusus untuk jalan-jalan di tempat umum.

    "Mungkin bukan karena dia malu, tapi merasa repot. Sekarang sih aku mikirnya kasihan juga kalau kita enggak mau repot untuk dia, karena kan dia terperangkap dalam tubuhnya yang enggak bisa ngapa-ngapain," jelasnya.

    Amanda sangat bersyukur memiliki Chandri. Perkembangannya kini semakin terlihat membaik.

    Si kecil sudah duduk tegak dan makan sendiri walau berantakan. Ia pun sudah bisa membalikkan badan, tapi belum bisa merangkak, masih harus bersabar sampai berjalan.

    Senyuman ceria tak bosan terpancar dari gadis mungil itu.

    "Yang membuat aku yakin untuk ngurus dan sayang dia itu mikirin anak lain yang jauh lebih buruk dari dia. Anak lain ada yang kakinya benar-benar kecil, tubuhnya menyusut, enggak bisa kontak mata dan komunikasi apa pun. Masa baru dikasih kondisi begini sudah nyerah?" tutup Amanda.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id