Prank Perkelahian di Thamrin dari Sudut Pandang Psikologi

    Sunnaholomi Halakrispen - 22 Februari 2020 11:50 WIB
    <i>Prank</i> Perkelahian di Thamrin dari Sudut Pandang Psikologi
    Ilustrasi perkelahian. (Ilustrasi/Pexels)
    Jakarta: Prank atau akting untuk lelucon pada pertengkaran antara dosen dengan mahasiswa yang terjadi di area Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, telah viral. Para pelaku pun ditangkap polisi. 

    Berdasarkan sudut pandang psikologi, hal tersebut sebagai pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri. "Pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan aktualisasi diri. Jadi kebutuhan inilah yang membuat manusia berusaha untuk populer, dikenal, dan dikagumi," ujar Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi, kepada Medcom.id.

    Orang yang ingin menjadi populer terkadang tak segan untuk nekat melakukan pansos (panjat sosial). Meskipun, bertindak ilegal atau bahkan hingga merugikan kenyamanan dan keamanan orang lain di sekitar mereka.

    "Hanya saja bagi sebagian orang yang kurang memiliki kemampuan berpikir antisipatif, cara-cara yang mereka pergunakan bisa saja melanggar aturan norma, hukum, dan bisa saja merugikan pihak lain," paparnya.

    Terkait peristiwa yang terjadi di Thamrin, dua pelaku yang diduga membuat video viral di sosial media Instagram, didalami sebagai kasus oleh pihak kepolisian. Bukan hanya menunjukkan pertengkaran, tetapi juga terekam adegan perkelahian yang direkayasa.

    Si pria tengah menenteng tas berwarna hitam dikeroyok empat orang yang terlihat tidak dikenal dalam video tersebut. Video yang viral itu pun menjadi perhatian ratusan ribu netizen atau warga net pengikut akun @peduli.jakarta.

    Sementara dua orang yang diduga sebagai pelaku merupakan mahasiswa dengan dosennya, yakni perempuan dengan inisial YA dan pria berinisial FG. Kapolsek Metro Menteng, AKBP Guntur Muhammad Thariq, mengiyakan kasus tersebut.

    "Setelah video selesai dibuat, pelaku FG dan F mengaku dirinya dengan sengaja mengirimkan video yang dibuatnya ke akun @peduli. jakarta untuk diviralkan dengan membayar Rp 50.000 yang ditransfer via M-Banking ke admin akun @peduli.jakarta," tutur Guntur, dikutip dari Antara, Selasa, 18 Feburari 2020.

    YA bertugas merekam agedan pengeroyokan itu. Tujuannya, hasil rekaman video dipublikasikan di sosial media untuk mengesankan bahwa di Jakarta tidak aman dan rawan terjadi tindak pidana. 

    FG mengaku, video tersebut sebagai konten demi menaikkan popularitas. Meski hanya untuk konten media sosial, dua terduga pelaku terancam 10 tahun penjara karena melanggar Undang- Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

    Jeratan lantaran membuat resah dan onar dengan berita bohong atau hoaks. Pasal yang dijerat jalah UU ITE, pasal 28 ayat 1 jo 45 A Undang-undang 19 tahun 2016 tentang perubahan Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 dan atau pasal 14 sub 15 Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id