Perusahaan Bus AKAP Ditaksir Rugi Triliunan Rupiah

    Siti Yona Hukmana - 12 Mei 2020 07:31 WIB
    Perusahaan Bus AKAP Ditaksir Rugi Triliunan Rupiah
    Ilustrasi bus di terminal. ANT/Indrianto Eko Suwarso
    Jakarta: Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menyarankan pemerintah membuka kembali operasional angkutan umum. Bus angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) ditaksir kehilangan pemasukan sekitar Rp10,5 triliun bila tidak beroperasi selama musim mudik lebaran.

    "Sekarang ini, aliran uang pemudik mengalir ke pengusaha angkutan pelat hitam," kata Djoko di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020.

    Djoko menyebut pelarangan mudik susah diterapkan kepada masyarakat. Sebab, mereka yang mengotot pulang ke kampung halaman adalah orang yang sudah tidak mampu membayar sewa kontrakan tempat tinggal dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di kota.

    Dia menyebut kebanyakan pemudik nekat berasal dari Jawa Tengah. Rata-rata perantau merupakan pekerja informal pendapatan harian, seperti pedagang kaki lima, porter stasiun kereta, pengusaha warung makan, pengemudi taksi, pengemudi bajaj, pengemudi ojek, penjual nasi goreng, penjual bubur ayam, dan penjaja kopi keliling.

    Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah mencatat jumlah perantau yang kembali ke Jawa Tengah sebanyak 676.178 orang sejak 26 Maret 2020 hingga 24 April 2020 (awal pelarangan mudik). Pemudik terus berdatangan hingga 9 Mei 2020 dengan jumlah mencapai 824.833 orang.

    (Baca: Kemenhub Sebut Operasional Bus AKAP Bukan untuk Mudik)

    Ada penambahan pemudik ke Jawa Tengah sebanyak 148.655 orang setelah kebijakan pelarangan mudik. Padahal, moda transportasi umum seperti bus, kereta api, pesawat udara, dan kapal cenderung menurun drastis sejak penetapan larangan mudik dan penghentian operasional moda transportasi umum.
     
    "Angkutan pelat hitam lah yang merajalela beroperasi memenuhi mobilitas orang antarkota antarprovinsi yang cukup tinggi," ujar dia.

    Sebanyak 148.655 perantau di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) diprediksi pulang ke Jawa Tengah menggunakan kendaraan pribadi, sepeda motor, serta kendaran sewa berpelat hitam. Djoko menyebut mereka lolos dari pengawasan polisi dengan melewati jalur tikus.

    "Dasar pertimbangannya, daripada memberikan peluang pada angkutan pelat hitam mengangkut orang, lebih baik membolehkan angkutan umum resmi beroperasi," kata dia.

    Djoko mengatakan beroperasinya transportasi umum sejatinya tidak untuk mudik. Namun, sulit untuk menghindari penggunaan perjalanan mudik pada masa jelang lebaran.

    "Untuk itu, penting memastikan seseorang yang mendapatkan pengecualian menggunakan transportasi umum itu benar-benar negatif covid-19," kata dia.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id