Kemenag: Hilal Diperkirakan Belum Tampak

    Siti Yona Hukmana - 22 Mei 2020 18:23 WIB
    Kemenag: Hilal Diperkirakan Belum Tampak
    Ilustrasi/Antara/Zabur Karuru.
    Jakarta: Pakar astronomi dari Tim Falakiyah Kementerian Agama, Cecep Nurwendaya, menjelaskan soal visibilitas (ketampakan) hilal awal Syawal 1441 Hijriah. Menurut dia, belum ada referensi empirik dalam pemantauan hilal di 80 titik seluruh Indonesia.

    "Semua wilayah Indonesia memiliki ketinggian hilal negatif antara minus 5,29 sampai dengan minus 3,96 derajat. Hilal terbenam terlebih dahulu dibanding matahari," kata Cecep di Jakarta, Jumat, 22 Mei 2020. 

    Menurut Cecep, penetapan awal bulan hijriah didasari hisab dan rukyat. Proses hisab sudah dilakukan oleh hampir semua organisasi masyarakat Islam. 

    "Secara hisab, awal Syawal 1441 Hijriah jatuh pada hari Minggu (24 Mei 2020). Ini sifatnya informastif, konfirmasinya menunggu hasil rukyat dan keputusan sidang isbat," ujarnya.

    Menurut dia, rukyat adalah observasi astronomis. Maka itu, harus ada referensinya. Cecep mengatakan bahwa kalau ada referensinya diterima, sedang kalau tidak berarti tidak bisa dipakai.

    Baca: BMKG Padang Panjang Perkirakan 1 Syawal pada 24 Mei

    Posisi hilal awal Syawal 1441 Hijriah

    Berdasarkan data di Pelabuhan Ratu, posisi hilal awal Syawal 1441H atau pada 29 Ramadan 1441H yang bertepatan dengan 22 Mei 2020, di Pelabuhan Ratu secara astronomis tinggi hilal: minus 4,00 derajat; jarak busur bulan dari matahari: 5,36 derajat; umur hilal minus 6 jam 55 menit 23 detik.

    Cecep mengatakan, dasar kriteria imkanurrukyat yang disepakati Majelis Agama Islam Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) adalah minimal tinggi hilal dua derajat. Selain itu, elongasi minimal 3 derajat, dan umur bulan minimal delapan jam setelah terjadi ijtima'. 

    "Ini sudah menjadi kesepakatan MABIMS," tuturnya.

    Menurut Cecep, istilah Limit Danjon menyebutkan bahwa hilal akan tampak jika jarak sudut bulan - matahari lebih besar dari 7 derajat. Konferensi penyatuan awal bulan Hijriyah International di Istambul tahun 1978 mengatakan bahwa awal bulan dimulai jika jarak busur antara bulan dan matahari lebih besar dari 8 derajat dan tinggi bulan dari ufuk pada saat matahari tenggelam lebih besar dari 5 derajat.

    Sementara rekor pengamatan bulan sabit dalam catatan astronomi modern adalah hilal awal Ramadan 1427H di mana umur hilal 13 jam 15 menit dan berhasil dipotret dengan teleskop dan kamera CCD di Jerman. Bahkan, dalam catatan astronomi modern, jarak hilal terdekat yang pernah terlihat adalah sekitar 8 derajat dengan umur hilal 13 jam 28 menit. Hilal ini berhasil diamati oleh Robert Victor di Amerika Serikat pada 5 Mei 1989 dengan menggunakan alat bantu binokulair atau teropong. 

    Sidang isbat akan digelar malam ini pukul 19.30 WIB. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Sidang Isbat Awal Syawal 1441H hanya dihadiri secara fisik oleh Menteri Agama Fachrul Razi, Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi, Ketua Komisi VIII Yandri Susanto, Ketua MUI KH Abdullah Jaidi, dan Direktur Jenderal Bimas Islam Kamaruddin Amin. 

    Sementara para pimpinan ormas, pakar astronomi, Badan Peradilan Agama, serta para pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama lainnya mengikuti jalannya sidang isbat melalui media konferensi video.



    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id