Tips Memilih Hunian dengan Gaji Minimum

    Rizkie Fauzian - 24 Desember 2019 12:15 WIB
    Tips Memilih Hunian dengan Gaji Minimum
    Hunian yang disarankan bagi pekerja dengan upah minimum adalah rumah tapak. Foto: Shutterstock
    Jakarta: Harga rumah semakin mahal tiap tahun, bahkan kenaikannya tidak berbanding lurus dengan penghasilan seseorang. Hal ini kerap menjadi batu sandungan bagi yang ingin memiliki rumah terutama dengan gaji minimum.

    Namun, para pekerja dengan upah minimum memiliki kesempatan yang setara untuk membeli rumah dengan menabung secara rutin atau menyisihkan pendapatan tambahan seperti bonus.

    Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan mengungkapkan beberapa hunian yang disarankan bagi para pekerja dengan upah minimum adalah jenis rumah tapak. 

    "Meskipun harga rumah tapak dan apartemen meningkat sepanjang 2018, namun harga rumah tapak masih lebih terjangkau bagi mereka," katanya dalam keterangannya, Rabu, 24 Desember 2019.

    Menurut data Rumah.com Property Index, harga rumah tapak pada Oktober 2019 berada pada kisaran Rp15 juta per meter persegi. Sedangkan apartemen di kisaran Rp24 juta per meter persegi.

    Menurut Ike, harga apartemen sempat mengalami penurunan bersamaan dengan banyaknya suplai hunian yang baru dipasarkan. Sepanjang 2019 ini indeks harga rumah tapak dan apartemen memiliki korelasi yang negatif, artinya preferensi terhadap salah satu hunian akan menurunkan yang lain.

    "Upaya berhemat lain bagi para pekerja dengan upah minimum adalah dengan memilih hunian yang dekat dengan akses transportasi umum," ungkap Ike. 

    Dengan hadirnya berbagai sarana transportasi umum seperti MRT Jakarta, LRT Jakarta, maupun LRT Jabodebek, maka memudahkan mobilitas para penghuninya menuju tempat aktivitas atau pekerjaannya.

    "Alternatif lainnya adalah hunian yang berbasis transportasi publik dan menerapkan konsep pembangunan berupa Transit Oriented Developmnent (TOD)," jelasnya.

    Konsep tersebut saat ini banyak digunakan oleh para pengembang untuk menjadi salah satu daya tarik utama kepada konsumen. Apalagi pemerintah juga sedang gencar mendorong pengembangan hunian berbasis TOD ini.

    "Meskipun memiliki cakupan yang terbatas, area sekitar stasiun merupakan wilayah yang paling diincar oleh para pengembang sehingga cenderung dibangun vertikal untuk memaksimalkan kapasitas," ungkap Ike.

    Hal ini diwujudkan dalam bentuk apartemen TOD yang dibangun oleh kerja sama beberapa BUMN seperti misalnya LRT City, Perumnas Mahata, dan Wika Solterra yang banyak dipasarkan di 2019. Bahkan, MRT dan PT KAI baru saja mencapai MOU untuk membentuk joint venture pengelolaan stasiun dan pembangunan TOD di Jabodetabek.

    "Berbagai fasilitas KPR dan pilihan hunian juga bisa dimanfaatkan mereka. Pemangku kepentingan properti harus bersama-sama memberikan kesempatan bagi para pekerja dengan upah minimum untuk bisa memiliki rumah," pungkas Ike.



    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id