Kota baru Hong Kong untuk pensiuan & milenial

Rizkie Fauzian - 14 Juni 2018 09:19 wib
Wisawatan berdesak-desak mencari posisi terbaik untuk berfoto
Wisawatan berdesak-desak mencari posisi terbaik untuk berfoto bersama dengan latar belakang Hong Kong. Warga usia pensiunan dan generasi milenial adalah kelompok paling kesulitan menjangkau hunian layak di Hong Kong. AFP Photo/Anthony Wallace

Hong Kong: Lahan yang hanya 1,1 km persegi tapi dihuni 7 juta jiwa, menjadikannya sebagai kota terpadat dunia. Tingginya permintaan hunian di wilayah yang sangat kecil ini, membuat harga properti di Hong Kong adalah yang tertinggi di atas planet bumi.

Sedemikian tinggi harganya, hingga sangat tidak terjangkau oleh warga kebanyakan. Terlebih kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka terpaksa tinggal di hunian serba tidak layak dan minim fasilitas manusiawi di kota binis yang kaya raya ini.

Sebagaimana dilansir AFP, saat ini otoritas Hong Kong berencana membangun dua kota satelit di dataran Tiongkok. Dua kota di wilayah Nansha dan Foshan dibangun khusus bagi generasi milenial yang penglaju dan para pensiunan.

baca juga: Hong Kong krisis lahan terbuka hijau

Adalah MRT Corporation -sebuah BUMN di Hong Kong- yang bertindak sebagai pengembang. Proyeknya mencakup jalur rel kereta api dari Hong Kong ke Nansha dan Foshan yang harga lahannya dinilai masih masuk akal.

Kota baru akan dibangun dengan suasana Hong Kong yang dilengkapi dengan fasilitas komersil dan kesehatan yang terletak di dekat stasiun kereta cepat. Kota baru ini ditujukkan bagi para pensiunan dan juga generasi milenial.

Kepala MTR Frederick Ma menawarkan proposal lain untuk membangun membangun apartemen di atas pelabuhan sebagai solusi atas kekurangan lahan. Proposal itu memicu kekhawatiran tentang kemungkinan konflik kepentingan para konglomerat.

Hunian Layak Huni

Permasalahan hunian layak huni adalah isu penting bagi warga Hong Kong. Apartemen sederhana dua kamar seluas 49 meter persegi misalnya, ditawarkan mulai Rp 6,6 miliar. Bandingkan dengan di Jabodetabek untuk luas sama harganya Rp 500-an jutaan.

baca juga: Rumah pipa bagi bujangan Hong Kong

Permasalahan rumah layak huni juga jadi perhatian khusus dari negara-negara di Asia Pasifik. Setiap tahunnya 35 negara bertemu dalam Forum Perumahan Asia Pasifik yang diselenggarakan oleh Habitat for Humanity bersama International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) yang menyoroti permasalahan rumah tak layak huni.

AFP Focus/Elaine Yu


(LHE)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.