comscore

Mau Investasi Properti? Ketahui 2 Risikonya agar Tak Menyesal

Rizkie Fauzian - 18 Februari 2022 19:23 WIB
Mau Investasi Properti? Ketahui 2 Risikonya agar Tak Menyesal
Risiko investasi properti. Foto: Shutterstock
Jakarta: Properti merupakan salah satu instrumen investasi yang banyak dilirik kaum muda. Investasi properti dianggap memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan instrumen lainnya.

Presiden Direktur Era Indonesia Darmadi Darmawangsa mengatakan investasi properti juga punya risiko. Menurutnya ada dua risiko yang bisa terjadi saat memilih investasi properti.
"Risiko pertama salah memilih developer, hal ini sangat bahaya sekali karena belum tentu semua pengembang punya komitmen yang sama. Ini salah satu kunci membuat investasi properti risikonya lebih aman," katanya dalam webinar, dikutip Jumat, 18 Fenruari 2022.

Menurutnya, risiko kedua adalah membeli properti di waktu yang salah. Dirinya menjelaskan, membeli properti yang salah ibarat membeli tiket pesawat mendekati Lebaran.

"Saat membeli tiket mendekati lebaran, harga tiket pesawat pasti mahal dan sulit, kalau beli harga pesawat belum ramai, mungkin ada promo dn harganya juga baik," jelasnya.

Darmadi menjelaskan, membeli properti saat semua orang semangat membeli properti tetapi supply sedikit. Hal tersebut membuat orang berlomba-lomba membeli sehingga harganya semakin tinggi.

"Waktu terbaik membeli properti ada dua, pertama yaitu 10 tahun lalu karena harganya pasti sudah naik tahun ini," ujarnya.

Selanjutnya, waktu terbaik membeli properti adalah saat masa krisis menuju pemulihan seperti saat ini. Masyarakat saat ini masih cenderung wait and see, sehingga belum terjadi perlombaan untuk membeli properti.

"Saat ini harga sedang terkoreksi, market sedang bergerak dari krisis ke pemulihan. Karena fasenya masih tenang dan bagus untuk diserap di awal," ungkap Darmadi. 

Selain itu, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) saat ini masih rendah berkisar 4-8 persen atau di bawah 10 persen. Bunga deposito juga sudah turun sampai 1,5 persen nett dan inflasi 3 persen. 

Jadi uang akan mengalami minus bila terus disimpan di bank. Apalagi insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk kategori hunian tertentu serta down payment (DP) 0 persen masih berlaku. 

"Pelaku industri maupun pengamat menilai tahun ini akan menjadi booming properti dan situasi ini akan memberikan pengaruh kuat pada kebangkitan sektor properti Tanah Air," katanya.

(KIE)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id