Tren Hunian Berbasis Pendidikan dan Transportasi

    Antara - 19 September 2019 13:22 WIB
    Tren Hunian Berbasis Pendidikan dan Transportasi
    Hunian berbasis pendidikan biasanya memiliki fasilitas sekolah. (Foto: Shutterstock)
    Jakarta: Hunian berorientasi pendidikan (education oriented development/EOD) kini menjadi tren di kawasan Jabodetabek. Namun, untuk mewujudkannya pengembang harus menggandeng sekolah terkemuka.    

    "EOD itu bagaimana mengombinasikan fasilitas pendidikan dengan hunian layak," kata Direktur PT Repower Asia Indonesia Andy Natanael di Jakarta, Kamis, 19 September 2019. 

    Andy menjelaskan EOD umumnya menjadikan sekolah sebagai fasilitas dari apartemen atau hunian tapak. Oleh karena itu pembeli yang berasal dari end user atau penggunaan pribadi akan lebih banyak daripada investor.

    "Untuk itu end user harus dominan, perbandingannya bisa 60:40 (60 end user dan 40 persen investor). Sekolah atau fasilitas pendidikan merupakan kekuatan hunian berkonsep EOD," urai Andy. 

    Andy mengatakan fasilitas pendidikan yang disediakan bisa untuk usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Lalu, jenis sekolah yang dihadirkan disesuaikan dengan segmen yang dibidik di masing-masing proyek. 

    "Para konsumen end user atau orangtua, kini mempertimbangkan lokasi sekolah ketika membeli hunian. Segmen ini yang dibidik pengembang EOD seperti kami," ujar Andy.  

    Menurut dia, kenyamanan utama para orangtua adalah memberi pendidikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Semakin dekat lokasi sekolah dengan kualitas pendidikan yang bermutu, kian mendorong konsumen untuk membeli hunian yang ditawarkan.  

    "Konsumen tipe ini kebanyakan adalah end user, bukan investor. Walau, tentu saja hunian yang kami bangun dapat juga sekaligus sebagai instrumen investasi," jelasnya.

    Andy Natanael mengatakan bila mayoritas apartemen yang dibangunnya dimiliki oleh investor, dikhawatirkan terjadi penurunan harga di pasar sekunder. Misal, bila apartemen dimiliki oleh berkisar 70-90 persen investor yang semata mencari keuntungan (capital gain), harga di pasar sekunder akan melemah.   

    "Saat bersamaan mereka ingin menjual kembali, pasar kelebihan penawaran. Saat itulah hukum ekonomi muncul, semakin banyak penawaran, harga kian turun. Saat ini, di pasar sekunder harga terpangkas berkisar 30-40 persen," tukas dia.    

    Sementara itu, Presiden Direktur PT Repower Asia Indonesia Aulia Firdaus mengatakan kini pihaknya menyiapkan proyek di Jakarta Selatan, Bekasi Timur, dan Tangerang.

    Proyek apartemen yang tersebar di tiga lokasi tersebut akan dibangun mulai 2020 dan ditargetkan rampung berkisar 2021 hingga 2023. Segmentasi yang dibidik adalah kalangan menengah dan menengah atas.   

    "Semua proyek hunian kami dilengkapi fasilitas pendidikan sesuai konsep EOD," ujar Aulia.



    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id