Menipisnya Kuota FLPP Dikhawatirkan Hambat Target Sejuta Rumah

    Rizkie Fauzian - 25 Agustus 2019 21:25 WIB
    Menipisnya Kuota FLPP Dikhawatirkan Hambat Target Sejuta Rumah
    Realisasi Program Sejuta Rumah terhambat. (Foto: Kementerian PUPR)
    Jakarta: Tahun ini, pencapaian Program Sejuta Rumah masih jauh dari target. Per 5 Agustus 2019, realisasinya baru mencapai 735.547 ribu unit atau sekitar 60,3 persen dari target tahun ini.

    Meski pemerintah optimistis pencapaian Program Sejuta Rumah tak akan meleset dari target, Ketua DPD REI Jawa Barat (Jabar) Joko Suranto ragu.

    "Saya sangsi target Sejuta Rumah akan terpenuhi. Posisi saat ini developer sudah terombang-ambing dari awal tahun," kata Joko kepada Medcom.id di Jakarta, Minggu, 25 Agustus 2019.

    Ada beberapa hal yang membuat target tersebut terancam tak bisa dipenuhi pemerintah. Salah satunya ialah kuota rumah subsidi berupa Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang kian menipis.

    "Kuota FLPP yang mulai habis di beberapa daerah dan klimaksnya Agustus ini akan habis sehingga sangat mungkin Program Sejuta Rumah akan terhambat, karena FLPP adalah penopang utama Program sejuta rumah," ucap Joko.

    Pemerintah sebelumnya membantah bahwa kuota FLPP telah habis. Penyerapan FLPP hingga kuartal II-2019 telah mencapai 67 persen atau sekitar 46.174 unit.

    "Di situ problemnya, kalau memang masih ada mestinya bisa direalisasikan dong. Mungkin pertanyaanya adalah kenapa bisa begitu? Kenapa Kementerian PUPR malah membuat banyak Permen yang menyulitkan dan bersifat teknis. Sulit kita memahami," ucap Joko.

    Menurutnya, pemerintah mendorong kemudahan hingga membuat Paket Kebjiakan, tetapi di sisi lain kementrian membuat ketentuan yang menghambat. Kebijakan seharusnya dilakukan dengan komprehensif, jangan perlakukan seperti proyek yang parsial.

    "Pembangunan perumahan sebenarnya adalah domain pemerintah untuk menyelenggarakan dan sebagai kebutuhan primer maka permasalahan perumahan memang selayaknya dikelola oleh kementerian tersendiri, sehingga kebijakannya lebih terjaga kesinambungannya dan proporsional," kata Joko.

    Terlepas dari program pemerintah, proyek pembangunan perumahan merupakan sebuah bisnis, dan yang berlaku adalah mekanisme bisnis pasar.

    "Bisnis tidak bisa diperlakukan seperti stop kontak yang bisa on off seketika. Rencana pembangunan, perizinan, pematangan lahan, pengelolaan dan pemasaran, serta biaya tidak bisa diubah-ubah tidak pasti. Sebab, ini memang menyangkut banyak hal, banyak variable bahkan bisa menyangkut hidup matinya usaha. Jadi, enggak bisa dan enggak boleh berubah. Apalagi dengan coba-coba," tuturnya.

    Ditegaskan Joko, Program Sejuta Rumah sangat baik selama direncanakan dengan baik pula, dianggarkan dengan benar, dikelola lebih profesional dan proporsional. “Bukan parsial dan coba-coba,” katanya.




    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id