Keluarga Milenial Bisa Beli Rumah Sendiri

    Antara - 18 Februari 2020 09:42 WIB
    Keluarga Milenial Bisa Beli Rumah Sendiri
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
    Tanjungpinang: Punya rumah pada usia muda atau disebut generasi milenial adalah impian banyak orang, meski tak semua dari mereka dengan mudah dapat mewujudkannya.

    Di Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), kaum milenial dengan rentang usia 20-30 tahun cenderung berkeinginan punya rumah setelah menikah. Demikian yang dilakukan oleh pasangan bernama Arpandi (29) dan Shinta (26). Keduanya sama-sama tercatat sebagai karyawan swasta di daerah tersebut.

    Arpandi bercerita, keinginan punya rumah berawal dari rasa minder karena mereka cukup lama menumpang di rumah mertuanya. Usai menikah, persisnya pada 2014 silam, Arpandi atau akrab disapa Pandi itu, mengaku tak punya pilihan lain, selain ikut istri tinggal di rumah mertua.

    "Memang kondisinya seperti itu, mertua minta tinggal serumah dulu. Cukup lama, sejak 2014 sampai 2018," katanya, dikutip dari Antara, Senin, 17 Februari 2020.

    Dua tahun usia pernikahan mereka berjalan, sekitar 2016, Pandi dan istri mulai menyisihkan sebagian penghasilan mereka buat menabung dan membeli rumah.

    Sebulan menabung sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Gaji pasangan suami-istri itu kalau dikalkulasi sekitar Rp4,5 juta.

    "Tak mungkin selamanya tinggal di rumah mertua. Karena tinggal dengan mertua, ada tak enaknya juga. Salah satu contoh, kalau tidur, tak bisa bangun siang," ujar Pandi menceritakan pengalamannya.

    Sekitar 2017, dari hasil tabungan keduanya, terkumpullah dana belasan juta rupiah. Pada saat yang bersamaan, berbagai tawaran rumah yang merupakan subsidi pemerintah pusat tengah "naik daun".

    Brosur penjualan rumah subsidi dengan beragam promo dan kemudahan yang ditawarkan para pengembang bertebaran di mana-mana. Hingga akhirnya, satu dari sekian banyak tawaran itu berhasil menggungah hati Pandi untuk segera berumah milik sendiri.

    "2017 itu, ada satu pengembang perumahan yang menawarkan rumah subsidi dengan letak yang sangat strategis seharga Rp136 juta. Dekat dengan pusat kota, tepatnya di Pinang Mas, Jalan Raja Ali Haji, Kilometer 8, Tanjungpinang," sebutnya.

    Pandi lantas mengajukan diri dengan melengkapi persyaratan yang diminta pengembang, seperti, uang muka (DP) sekitar Rp30 juta, dengan cicilan selama setahun.

    "Saat itu untuk DP rumah kami minus dana, tabungan tak sampai segitu. Terpaksa pinjam dengan mertua. Alhamdulillah, sekarang sudah dilunasi," kata dia.

    Setahun berselang, tepatnya di awal 2018, Pandi resmi terdaftar sebagai debitur KPR subsidi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan penghasilan pokok maksimal Rp4 juta per bulan.

    Kini, dia dan istri menempati rumah sederhana tipe 36/84 di Perumnas Pinang Mas. Dengan fasilitas rumah terdiri dari dua kamar, satu ruang tamu, toilet, dan air sumur. Diakuinya, rumahnya dibanderol dengan harga yang cukup tinggi, karena tipenya hook, yakni rumah yang posisinya terletak pada bagian paling ujung dari ruas perumahan atau ruas jalan.

    Karena posisinya yang tidak terhimpit antara rumah, maka akan terdapat satu sisi yang terbuka dan salah satu sisi lainnya berbatasan dengan rumah tetangga.

    "Untuk mendapatkan hunian itu, selain DP Rp30 juta, kami membayar cicilan Rp861 ribu per bulan selama 20 tahun, dengan bunga flat lima persen," ujarnya.

    Sementara Muhammad Bunga Ashab (30), yang sehari-hari berkutat di dunia jurnalistik di ibu kota Kepri itu, berinisiatif membeli rumah subsidi setelah setahun menikah. Awalnya, dia dan istri hanya mengambil rumah kontrakan di salah satu sudut Kota Tanjungpinang. Seiring waktu berjalan, pria yang akrab disapa Coki itu pun mulai merasa gerah berstatus penghuni kontrakan.

    "Setelah saya pikir-pikir daripada ngontrak, kenapa tak beli rumah saja. Cicilan per bulan juga tak jauh beda, tinggal tambah sedikit, yang pasti rumah sendiri, milik sendiri," ujarnya.

    Kala itu, 2019, Coki menemukan rumah subsidi yang cocok. Sesuai kemampuan dan kondisi perumahan yang ia inginkan. Bahkan, menurutnya, dari segi lokasi dan spesifikasi rumah yang ia maksud sangat bagus, lebih dekat dengan pasar dan pusat pemerintahan.

    Tak lama, Coki pun mengajukan uang muka senilai Rp3 juta kepada pihak pengembang rumah subsidi. Selanjutnya pengembang mengajukan KPR ke BTN.

    "Total DP dan KPR, habis sekitar Rp6,5 juta. Semua pengembang yang urus KPR di BTN. Saya cuma diwawancara dan tandatangan saja di bank, setelah itu selesai," ucapnya.

    Usai urusan KPR, lantas tak membuat Coki dan istri langsung pindah ke rumah barunya. Dia harus menunggu sekitar tiga bulan sampai rumah tersebut sudah benar-benar siap untuk ditempati.

    "Kebetulan waktu itu, tunggu rehab lantai, pagar, dan kanopi," sebut coki.

    Coki dan istri kini menjadi warga Perumnas Citra Pelita, Jalan Karya. Hunian itu diperolehnya dengan cicilan Rp800 ribu per bulan selama 20 tahun. Artinya kalau saat ini umurnya 30 tahun, maka kredit rumah subsidinya lunas ketika ia berumur 50 tahun.

    "Tipe rumah 36, ada dua kamar, satu toilet, ruang tamu, dapur. Lalu sisa lebih tanah 3,5 meter ke depan, dan tiga meter ke belakang," katanya.

    Sadar memiliki tanggung jawab membayar cicilian rumah, Coki harus berhemat, mengencangkan ikat pinggang, membatasi pengeluaran agar bisa dibagi-bagi, mana buat kebutuhan pokok, bayar rumah, syukur-syukur bisa menabung.

    "Gaji saya per bulan sekitar Rp4 juta. Itulah yang diolah buat kebutuhan saya dan istri. Kebetulan Istri juga belum bekerja, maka itu harus pandai-pandai berhemat," tutur Coki.

    Baik Arpandi maupun Coki, keduanya sama-sama memegang prinsip bahwa pasangan nikah muda tak sulit membeli rumah sendiri, sekalipun dengan penghasilan pas-pasan, asal memiliki niat dan tekad yang sungguh-sungguh, pasti akan terwujud.




    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id