comscore

Perusahaan Rela Bayar Mahal untuk Sewa Gedung Ramah Lingkungan

Rizkie Fauzian - 13 Juli 2021 18:15 WIB
Perusahaan Rela Bayar Mahal untuk Sewa Gedung Ramah Lingkungan
70 persen perusahaan di Asia Pasifik rela bayar maha untuk bangunan ramah lingkungan. Ilustrasi: Shutterstock
Jakarta: Mayoritas perusahaan di Asia Pasifik atau 70 persen bersedia membayar biaya sewa yang lebih mahal untuk bangunan yang lebih ramah lingkungan di masa depan.

Komitmen ini sejalan dengan pengembangan properti dengan konsep berkelanjutan di wilayah Asia Pasifik, sebanyak 40 persen menargetkan emisi karbon nol persen (net zero) dan 40 persen lainnya berencana mewujudkannya pada 2025. 
Upaya dekarbonisasi real estat juga mendorong 80 persen pengguna dari segmen perusahaan untuk lebih memilih lokasi yang membantu mereka mengurangi emisi karbon. Sementara 65 persen investor akan lebih fokus pada investasi bangunan yang ramah lingkungan.

Data ini berasal dari laporan JLL Asia Pasifik bertajuk "Sustainable Real Estate: From ambitions to actions" yang melakukan survei terhadap lebih dari 550 pemimpin perusahaan real estat. 

Sekitar 90 persen perusahaan di Asia Pasifik setuju bahwa mengatasi emisi dari sektor properti sangatlah penting dalam upaya mencapai target emisi karbon nol persen. Hal ini menandakan era baru untuk portofolio sewa dan investasi di industri property regional. 

Menurut Chief Executive Officer APAC JLL Anthony Couse, mayoritas perusahaan penyewa gedung berkonsep ramah lingkungan membayar biaya sewa sebesar 7-10 persen. Hal ini yang dapat menjadi tolok ukur bagi bisnis penyewaan di masa depan.

"Para pengguna mengharapkan solusi properti yang dapat mendukung agenda keberlanjutan mereka. Ini akan mendorong investor untuk memprioritaskan investasi hijau, mengarahkan transformasi industri real estat menuju bangunan ramah lingkungan," katanya dalam laporan, dikutip Selasa, 13 Juli 2021. 

Berdasarkan data JLL, hanya 36 persen pengusaha yang berjanji untuk menindaklanjuti persoalan emisi yang berasal dari pemasok dan pelanggan mereka, selain dari operasional mereka sendiri.

Diperlukan komitmen yang lebih kuat untuk mempercepat pencapaian target emisi karbon nol persen. Para perusahaan juga melihat sejumlah hambatan dalam mengejar target berkelanjutan di sektor properti. 

Sekitar 70 persen pengguna properti melaporkan kurangnya insentif pemerintah dan dukungan dari pemilik properti. Selain itu, tiga dari empat perusahaan yang disurvei melihat infrastruktur teknologi yang kurang memadai sebagai sebuah rintangan dalam mencapai target tersebut.

Chief Research Officer JLL Asia Pacific Roddy Allan mengatakan, di kawasan Asia Pasifik, masyarakat cenderung beralih ke bangunan ramah lingkungan dalam upaya mengatasi risiko iklim.

"Kalangan dunia usaha mulai memperlihatkan tanggung jawab yang lebih besar untuk mengambil tindakan nyata melalui portofolio properti mereka. Portofolio ini akan bergantung pada kemitraan antara penyewa dan investor untuk mengubah target keberlanjutan menjadi aksi nyata," jelasnya.


(KIE)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id