Harga Properti Residensial Naik di Kuartal III, tapi Terbatas

    Husen Miftahudin - 12 November 2021 17:42 WIB
    Harga Properti Residensial Naik di Kuartal III, tapi Terbatas
    Harga properti tumbuh pada kuartal III. Foto: Shutterstock



    Jakarta: Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) mengindikasikan harga properti residensial tumbuh terbatas pada kuartal III-2021. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) sebesar 1,41 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 1,49 persen (yoy).

    "Perlambatan IHPR tersebut terutama terjadi pada tipe menengah dan tipe kecil yang masing-masing tercatat tumbuh sebesar 1,39 persen (yoy) dan 2,03 persen (yoy), lebih rendah dari 1,59 persen (yoy) dan 1,39 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya, sedangkan tipe besar tumbuh relatif stabil pada kisaran 0,80 persen (yoy)," jelas BI dalam hasil Survei Harga Properti Residensial Primer, dikutip Jumat, 12 November 2021.

     



    BI menjelaskan bahwa hal ini ditengarai oleh adanya upaya pengembang untuk menghabiskan rumah ready stock di mayoritas kota yang terpantau sehingga cenderung menahan kenaikan harga.

    Berdasarkan wilayah, perlambatan pertumbuhan IHPR terutama terjadi di Kota Medan sebesar 2,96 persen (yoy). Kemudian diikuti oleh Pekanbaru sebesar 2,80 persen (yoy) dan Padang sebesar 0,96 persen (yoy).

    "Pada kuartal IV-2021, harga properti residensial primer diprakirakan masih tumbuh terbatas sebesar 1,19 persen (yoy)," papar survei.

    Dari sisi penjualan, hasil survei mengindikasikan penjualan properti residensial di pasar primer pada kuartal III-2021 masih tertahan. Hal ini tercermin dari penjualan properti residensial pada kuartal III-2021 yang terkontraksi 15,19 persen (yoy).

    Penurunan volume penjualan pada kuartal III-2021 disebabkan oleh penurunan penjualan yang signifikan pada tipe rumah kecil yang terkontraksi sebesar minus 32,99 persen (yoy). Sedangkan tipe rumah menengah dan besar tercatat mengalami kenaikan, masing-masing tercatat 7,01 persen (yoy) dan 45,57 persen (yoy).

    Responden menyampaikan terhambatnya pertumbuhan penjualan properti residensial disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kenaikan harga bahan bangunan sebesar 17,01 persen (jawaban responden).

    Kemudian masalah perizinan/birokrasi sebesar 13,44 persen, suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 12,22 persen, proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR sebesar 11,31 persen, dan perpajakan sebesar 8,43 persen.

    Berdasarkan sumber pembiayaan, hasil survei menunjukkan bahwa pengembang masih mengandalkan pembiayaan yang berasal dari non perbankan untuk pembangunan properti residensial. Pada kuartal III-2021, sebanyak 65,87 persen dari total  kebutuhan modal pembangunan proyek perumahan berasal dari dana internal.

    "Sementara itu, dari sisi konsumen, pembiayaan perbankan dengan fasilitas KPR masih menjadi pilihan utama konsumen dalam pembelian properti residensial dengan pangsa mencapai 75,38 persen dari total pembiayaan," tutup survei Bank Indonesia.

    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id