Sektor Perkantoran Masih Tertekan hingga Akhir Tahun

    Rizkie Fauzian - 17 September 2020 18:29 WIB
    Sektor Perkantoran Masih Tertekan hingga Akhir Tahun
    Sektor perkantoran masih tertekan hingga akhir tahun. Foto: Shutterstock
    Jakarta: Pandemi virus korona berdampak pada beberapa bisnis di Indonesia, salah satunya properti. Secara umum, sektor perhotelan dan pusat perbelanjaan dinilai paling terdampak karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

    Tak hanya itu, sektor perkantoran juga masih tertekan akibat kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan oleh beberapa perusahaan.

    Di kawasan Central Business District (CBD) misalnya, penyerapan perkantoran mengalami penurunan 58 persen pada semester I-2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    Sementara itu, tingkat kekosongan ruang atau vacancy berada di kisaran 25 persen. Jika dihitung, maka penyerapan semester I totalnya 38.500 meter persegi.

    "Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, maka turunnya sekitar 58 persen," kata Director Research Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus dalam paparan, Kamis, 17 September 2020.

    Jika dilihat dari kategori, gedung perkantoran dengan grade A paling banyak mengalami kenaikan vacancy. Sebab dari sisi pasokan, banyak pembangunan baru gedung perkantoran grade A.

    Sementara itu, dari sisi lokasi pasokan paling banyak untuk ruang perkantoran tercatat di daerah Sudirman dan Kuningan dengan presentasenya 70 persen.

    Anton memperkirakan sektor perkantoran masih tertekan hingga akhir tahun karena minimnya penyerapan ruang perkantoran. Bahkan diperkirakan penyerapannya di kisaran 30-35 persen.

    "Sampai tahun depan kita perkirakan sewa ruang kantor masih tertekan, ini jadi keuntngan buat penyewa baru, karena para landlord (pemilik gedung) biasanya menurunkan harga sewa," ungkapnya.

    Perkantoran Non-Central Business District (CBD)

    Penyerapan ruang perkantoran di kawasan non CBD juga mengalami penurunan 20 persen. Sedangkan tingkat hunian mengalmi kenaikan di kisaran 27 persen.

    "Kalau kita liat per wilayah itu gedung-gedung di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat mengalami kenaikan tingkat vacancy yang paling tinggi," jelasnya.

    Anton memperkirakan sektor perkantoran di non CBD kondisinya juga kurang lebih sama seperti di daerah CBD, yaitu memiliki pasokan yang berlebih

    Ada sekitar 500.000 meter persegi ruang perkantoran baru yang akan masuk ke pasar dan Jakarta Selatan kawasan yang paling banyak.

    "Sama seperti di CBD, harga sewa juga mengalami tekanan untuk tahun ini dan tahun depan. Dan ini jadi keuntungan bagi penyewa karena bisa minta diskon yang besar," ungkapnya.

     

    (KIE)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id