Penataan Agraria Berkelanjutan Mengatur Kepemilikan hingga Penggunaan Tanah

    Rizkie Fauzian - 08 Maret 2021 13:57 WIB
    Penataan Agraria Berkelanjutan Mengatur Kepemilikan hingga Penggunaan Tanah
    Penataan agraria berkelanjutan melakukan pengelolaan sumber-sumber agraria khususnya tanah. Ilustrasi: Shutterstock



    Jakarta: Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) sudah merumuskan suatu kebijakan untuk mendorong reforma agraria yakni dengan penataan yang berkelanjutan.

    Direktur Jenderal (Dirjen) Penataan Agraria Andi Tenrisau mengatakan, penataan agraria berkelanjutan memiliki esensi bagaimana melakukan pengelolaan sumber-sumber agraria khususnya tanah.

     



    "Proses penataan yang baik sehingga tercapai suatu tujuan, seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 33 ayat 3," katanya dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Maret 2021.

    Penataan Agraria Berkelanjutan dikenal empat subsistem, yakni input, pelaksanaan, output serta feedback. Menurutnya, yang dimaksud input di sini adalah Kementerian ATR harus punya data mengenai tata ruangnya. 

    "Selain itu juga harus memiliki struktur penguasaan tanahnya. Kita juga harus memiliki data mengenai sosial ekonomi suatu penduduk di daerah. Kita perlu tahu setiap data tersebut, kemudian setelah itu kita masuk ke fase pelaksanaan," ungkapnya.

    Dalam pelaksanaan Reforma Agraria, ada tiga kegiatan. Andi menyebutkan ketiganya yakni penataan aset, penataan penggunaan tanah, serta yang ketiga adalah penataan akses. 

    "Intinya penataan aset itu bagaimana menata kepemilikan dan penguasaan tanah supaya lebih berkeadilan, melalui kegiatan redistribusi tanah," jelasnya.

    Redistribusi tanah merupakan kegiatan memberikan tanah kepada masyarakat yang tidak punya tanah /petani gurem  dari objek TORA. 

    "Kita juga mengenalkan distribusi manfaat, yaitu apabila kepemilikan tanah sudah settle, baik kepemilikan perorangan, swasta maupun pemerintah, jika kita tidak bisa tata kepemilikannya, kita tata pemanfaatannya melalui distribusi manfaat dengan cara kolaborasi," ujarnya.

    Lebih lanjut, Andi menguraikan bahwa dalam penataan agraria berkelanjutan, Ditjen Penataan Agraria juga mengenalkan penataan penggunaan tanah. 

    "Penataan penggunaan tanah ini maksudnya adalah bagaimana melakukan penataan  pemanfaatan dan penggunaan tanah supaya efisien dan efektif dan berhasil guna. Intinya dalam penggunaan tanah perlu memperhitungkan perspektif kemampuan tanah, misalnya dalam lereng tertentu itu kita tidak bisa manfaatkan untuk budidaya sehingga difungsikqn untuk konservasi," kata Andi.

    Dalam penataan akses, Dirjen Penataan Agraria menyebutkan bahwa dalam fase tersebut Kementerian ATR mengupayakan bagaimana memberdayakan masyarakat selaku pemilik tanah.

    "Hasil akhirnya bagaimana kita menciptakan kepastian hukum hak atas tanah dan mewujudkan kemakmuran masyarakat,"
    ungkapnya.

    Dalam Penataan Agraria Berkelanjutan, dikenal juga feedback. Kegiatan itu dapat dievaluasi secara berkala. Dari evaluasi ini, akan diperoleh input yang baru untuk pelaksanaan tahun berikutnya misalnya tanah dimiliki oleh segelintir orang, kini sudah merata. 

    "Lalu, misalnya apabila pendapatan masyarakat disuatu daerah Rp1 juta sekarang meningkat, itu kemudian kita tata kembali pelaksanaannya secara berulang dan output-nya bisa kita tingkatkan. Inilah yang disebut sistem Penataan Agraria Berkelanjutan," jelasnya.

    Sistem ini merupakan pengejawantahan dari Sustainable Development Goals, karena tujuannya memperhatikan produktivitas serta kelestarian sumber daya alam. 

    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id