Korona hingga Geopolitik Tantang Sektor Properti di 2020

    Ade Hapsari Lestarini - 15 Februari 2020 14:07 WIB
    Korona hingga Geopolitik Tantang Sektor Properti di 2020
    Direktur Utama Bank BTN Pahala Mansury - - Foto: Antara
    Jakarta: Sektor properti di 2020 akan menghadapi berbagai tantangan, baik sektor internal maupun eksternal. Ancaman resesi akibat kondisi geopolitik yang memanas serta yang terbaru adalah mewabahnya virus korona di Tiongkok yang diperkirakan melumpuhkan kekuatan ekonomi Tiongkok akan ikut berdampak ke Indonesia.  

    Menilik faktor tersebut, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Pahala N. Mansury optimistis sektor properti yang dikenal memiliki multiplier effect ke-170 industri turunan adalah sektor yang bertahan dan bangkit di tengah ancaman dari faktor eksternal tersebut.

    Apalagi Pemerintah dan Bank Indonesia memberikan dukungan yang cukup ke sektor properti antara lain antara lain peningkatan batasan tidak kena Pajak Pertambahan Nilai (PPN) rumah sederhana dan rumah sangat sederhana, pembebasan PPN atas rumah/bangunan korban bencana alam, penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 atas hunian mewah dari lima perse  menjadi satu persen, dan peningkatan batas nilai hunian mewah yang dikenakan PPh dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPNBM).

    Selain itu Bank Indonesia juga mendukung sektor properti lewat kebijakan moneternya, antara lain relaksasi Loan To Value dan pelonggaran Giro Wajib Minimum dan penurunan suku bunga acuan atau BI Rate.

    "Kami mengapresiasi kebijakan pemerintah untuk mendukung sektor properti tetap tumbuh, karena itu BTN tetap mendukung Program Sejuta Rumah yang telah dicanangkan Pemerintah dengan mengandalkan KPR nonsubsidi dan tetap berkomitmen menjadi bank penyalur FLPP," kata Pahala dalam keterangannya, Sabtu, 15 Februari 2020.

    Pahala mengakui, 2019 sebagai tahun yang tidak mudah bagi sektor properti, karena penjualan properti mengalami penurunan. Berdasarkan survey Bank Indonesia, penjualan properti residensial triwulan IV-2019 turun 16,33 persen (q to q) secara triwulanan dibandingkan triwulan III-2019 yang masih tumbuh 16,18 persen. Penurunan penjualan perumahan pun terjadi secara merata baik rumah tipe kecil, menengah, atau pun besar.

    Oleh karena itu, lanjut dia, 2020 adalah tahun yang tepat untuk membeli properti karena banyak faktor yang membuat investasi pada properti ini menarik pada saat era suku bunga murah berlangsung.

    "Uang muka KPR juga semakin terjangkau setelah aturan relaksasi Loan To Value mulai berlaku Desember lalu dan variasi hunian yang strategis terutama di wilayah Jabodetabek semakin banyak karena sarana dan prasarana transportasi yang sudah jadi seperti LRT, MRT," tambah Pahala.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id