3 Bangunan Bersejarah di Jakarta

    Antara - 17 Agustus 2020 11:43 WIB
    3 Bangunan Bersejarah di Jakarta
    Museum Gedung Joang '45 di Jl. Menteng Raya 31, Jakarta Pusat. Foto: MI/Ramdani
    Jakarta: Peringatan ke-75 tahun kemerdekaan Indonesia sudah tiba. Tak salah jika masyarakat merayakannya dengan kembali menjelajahi waktu 75 tahun silam ke tempat-tempat bersejarah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang bisa dikunjungi secara kronologis.

    Berikut adalah tiga tempat yang bisa dikunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan, dan merasakan detik-detik jelang naskah proklamasi berkumandang untuk pertama kalinya.

    1. Museum Gedung Joang '45

    3 Bangunan Bersejarah di Jakarta
    Foto: MI/Ramdani

    Museum Gedung Joang '45 yang terletak di Jl. Menteng Raya 31, Jakarta Pusat ini menyimpan sejumlah catatan sejarah mengenai berbagai peristiwa menjelang kemerdekaan Indonesia.

    Gedung Joang 45 awalnya merupakan salah satu bangunan hotel terkenal di Batavia bernama Schomper Hotel, yang dioperasikan sekitar 1938.

    Hotel ini dinamai dan dikelola oleh pemiliknya, seorang wanita Belanda bernama L.C. Schomper. Ia membangun hotel itu khusus untuk para pedagang asing dan para pejabat tinggi Belanda yang singgah di Batavia.

    Ketika pendudukan Jepang, hotel ini diambil alih oleh Ganseikanbu Sendenbu (Departemen Propaganda Jepang) pada 1942, dan diserahkan kepada para pemuda Indonesia.

    Adam Malik, Sukarni, Chaerul Saleh, dan A. M. Hanafi, menjadikan Gedung Menteng 31 sebagai Asrama Angkatan Baroe Indonesia (ABI) dan menjadikannya pusat kegiatan gerak cepat komando pemuda antara pusat dan daerah.

    Asrama itu berfungsi sebagai tempat pendidikan politik kebangsaan, yang pengajarnya antara lain Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Moh. Yamin, Ahmad Soebarjo, hingga Ki Hajar Dewantara, dan Amir Syarifudin.

    Sementara, tokoh-tokoh muda pada saat itu, seperti Sukarni, Chaerul Saleh, A. M. Hanafi, Wikana, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Armunanto, Maruto Nitimihardjo, Kusnaeni, Djohar Nur, Ismail Wijaya, dan Burhanuddin Mohammad Diah, dikenal sebagai "Pemoeda Menteng 31".

    Para "Pemoeda Menteng 31" merupakan aktor-aktor di balik penculikan Soekarno, Hatta, dan Fatmawati ke Rengasdengklok sehari sebelum kemerdekaan.

    Sebelum diresmikan sebagai museum oleh Presiden Soeharto pada 19 Agustus 1974, gedung ini pernah beralih fungsi. Mulai dari asrama para pekerja wanita, Kantor Kementerian Pengerahan Tenaga Rakyat (1957-1960), Kantor Dewan Harian Nasional Angkatan '45 yang diketuai oleh Chaerul Saleh (1960-1965), hingga dijadikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).
     
    Pengunjung akan langsung disambut dengan tokoh-tokoh bangsa sesaat setelah membuka pintu museum. Terdapat pula beberapa diorama, lukisan, foto-foto dan patung dada dari para tokoh pergerakan kemerdekaan.

    Koleksi lainnya yang terdapat di museum ini adalah tiga kendaraan kepresidenan yang digunakan Presiden dan Wakil Presiden pertama RI.

    Untuk tiket masuknya hanya seharga Rp5.000 per orang, dan menggunakan kartu JakCard.
     

    Halaman Selanjutnya
      2. Museum Perumusan Naskah…
    Read All


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id