Indonesia Diminta Waspada terhadap Dampak Kasus Evergrande

    Rizkie Fauzian - 27 Oktober 2021 18:38 WIB
    Indonesia Diminta Waspada terhadap Dampak Kasus Evergrande
    Indonesia harus waspada dalam menghadapi dampak negatif dari Evergrande. Ilustrasi: Shutterstock



    Jakarta: Turunnya kasus harian covid-19 yang melonggarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada Oktober 2021 ke level 2 kembali menggiatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhannya sebesar 7,07 persen di triwulan II 2021, atau lebih tinggi dari triwulan yang sama tahun lalu sebesar 5,32 persen.

     



    Pertumbuhan signifikan terutama dialami bidang transportasi dan pergudangan (25,1 persen) hingga industri pengolahan (6,58 persen). 

    Tren perbaikan ekonomi makro dan stabilitas keuangan Indonesia erat kaitannya dengan perkembangan sektor properti. Kenaikan kurva ekonomi secara tidak langsung memberikan multiplier effect pada pergerakan lanjutan di sektor properti.

    Namun kasus gagal bayar hutang Evergrande dikhawatirkan bisa berimbas ke Indonesia. Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip mengatakan, Indonesia harus waspada dalam menghadapi dampak negatif dari Evergrande.

    "Indonesia harus waspada karena berhubungan erat dengan jumlah investasi asing ke Indonesia," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu, 27 Oktober 2021.

    Membaiknya kondisi sektor properti di Tanah Air terutama didukung dengan program pembangunan infrastruktur dari pemerintah menjadi tulang punggung bagi bergeraknya ekonomi.

    Sektor properti sebagai lokomotif perekonomian dapat ikut tergerak dan mendorong sektor lainnya untuk tumbuh dan berkontribusi dalam pemulihan ekonomi nasional. 

    Agar sektor properti dapat terus berkontribusi secara sehat di dalam siklus perekonomian, nilai pasokan dan permintaan pada sektor properti juga perlu dipantau agar tetap seimbang.

    Porsi alokasi kredit perbankan ke sektor properti dan turunannya pun terlihat masih sehat. Instituasi keuangan dan bank sebagai sumber dana utama dinilai masih memilki cukup banyak ruang untuk membantu berkembangnya sektor properti. 

    "Angka kredit properti di Indonesia masih dapat tumbuh hingga mencapai angka 20-22 persen, "ujar Willson.

    Diinya menambahkan bahwa populasi Indonesia yang besar juga mendukung ketahanan (resiliensi) dan perkembangan sektor properti.

    Dukungan pihak asing juga dinilai penting sebagai pendukung tumbuhnya pasar properti nasional. Hal ini juga dinilai sebagai salah satu solusi dapat tercapainya keseimbangan antara angka pasokan dan permintaan properti.


    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id