Cerita Ciputra, Arsitek yang Ingin Jadi Pengembang

    Rizkie Fauzian - 27 November 2019 18:07 WIB
    Cerita Ciputra, Arsitek yang Ingin Jadi Pengembang
    Ciputra saat mendapat anugrah Indonesia Enterepreneur Of The Year 2007. Foto: dok. MI
    Jakarta: Kepiawaian Ciputra membangun bisnis tak perlu diragukan lagi. Meski berasal dari keluarga sederhana, ia berhasil membuktikan kegigihannya membangun raksasa properti Ciputra Group.

    Ciputra berlatar belakang dari keluarga sederhana di daerah Parigi, Sulawesi tengah. Meski demikian, dirinya tetap gigih menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB).

    Mengambil jurusan arsitektur, Ciputra berharap bisa memperbaiki kondisi keluarganya. Namun seiring berjalan waktu, keinginan menjadi seorang arsitek berubah menjadi pengembang.

    "Saya mau jadi developer, karena arsitek harus mencari pekerjaan yang sudah diciptakan orang lain, tapi kalau developer saya yang menciptakan pekerjaan," ungkapnya, dikutip dalam wawancara di Metro Xinwen.

    Sejak menjadi mahasiswa, Ciputra telah memulai karier. Dia bersama Budi Brasali dan Ismail Sofyan mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan di sebuah garasi.

    Dirinya sukses memulai karier dari bawah dengan bisnis tanpa modal di bidang properti. Meski begitu, Ciputra mengaku apa yang diraihnya tidak datang begitu saja, sejak kecil dia sudah merasakan perjuangan yang berat. 

    "Waktu umur 12 tahun ayah saya meninggal, meninggal tidak dengan wajar, ditangkap oleh penguasa waktu itu, dimasukkan ke penjara dan sampai dia meninggal saya enggak tahu di mana jenazahnya, waktu itu saya putuskan bahwa untuk mengatasi kemiskinan," jelasnya.

    Bahkan, sejak kecil dia harus membantu ibunya berjualan kue dan berburu untuk mendapat makanan yang bergizi untuk keluarganya. Meski demikian, dia tetap semangat bersekolah dengan berjalan kaki sejauh tujuh km tanpa menggunakan alas kaki setiap hari, karena tidak pernah lupa akan impiannya menjadi arsitek.

    "Saya masuk ITB, orangtua enggak sanggup, saya kerja praktek dapat uang di biro arsitek, kontraktor, tetap sebelum saya tamat saya bilang saya tidak mau jadi arsitek, " katanya.

    Menurutnya, modal utama membangun bisnisnya berupa konsep yang menjadi proyek landmark di Jakarta, bahkan konsep ini didukung oleh Presiden Republik Indonesia kala itu, Soekarno.

    "Saya ingin mengubah sistem ruko, dulu ruko hanya untuk mal saja, wah dia (Bung Karno) terenyuh, dia senang, dia juga mengajukan beberapa pertanyaan, oke saya mau bikin janji dengan Presiden, dia bawa saya menghadap Bung Karno, kita bikin presentasi, Bung Karno lihat mengesankan, diajukan beberapa pertanyaan, saya jawab oke laksanakan, jadi saya susun rencana lagi, bagaimana pelaksanaannya, saya bilang kita harus cari partner, pengusaha," jelasnya.



    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id