comscore

Konsep Green Building dalam Pengembangan Properti di Australia

Rizkie Fauzian - 21 Juni 2022 13:46 WIB
Konsep <i>Green Building</i> dalam Pengembangan Properti di Australia
Penerapan green building dalam pengembangan properti. Foto: Crown Group
Jakarta: Berbagai negara di dunia telah menerapkan kebijakan Net-Zero Emissions pada 2050 untuk berbagai aspek. Kebijakan tersebut diharapkan bisa bermanfaat bagi lingkungan hingga perekonomian dunia.

Salah satu negara yang juga menerapkan Net-Zero Emissions adalah Australia. Dalam pemilihan umum federal Australia belum lama ini dibahas tentang konsep hijau dan berkelanjutan di semua bidang termasuk pengembangan properti.
CEO Crown Group Iwan Sunito mengatakan konsep green building telah menjadi tren di seluruh dunia. Pihaknya telah menerapkan prinsip-prinsip dasar green building semenjak 2010 yang terlihat dari beberapa proyek yang tengah dibangun.

"Australia juga sudah banyak mengurangi pembangunan gedung yang menghadap ke Barat. Penggunaan cross flow ventilation untuk sirkulasi udara sehingga membantu mengurangi konsumsi listrik, dan pemakaian energi," katanya dalam media briefing,Selasa, 21 Juni 2022.

Menurutnya, penerapan green building tak hanya dilakukan secara teknis saja. Bukan hanya desain bangunan yang dibuat dengan konsep green building, tapi psikologi orang-orang yang tinggal di gedung tersebut.

Seperti dalam proyek Arc by Crown Group, Infinity by Crown Group, Waterfall by Crown Group, The Grand Residences dan sekarang Mastery by Crown Group.

"Konsep yang menyatu dengan alam, penggunaan material berbahan dasar kayu dan bisa daur ulang, ruang tamu yang luas dengan sirkulasi udara maksimal serta keberadaan pintu kaca besar yang memungkinkan sinar matahari dapat menyinari secara alami," ungkapnya.

Kebijakan Migrasi Australia

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menjadikan Indonesia sebagai negara pertama
yang dikunjungi setelah terpilih pada Mei 2022. Pertemuan antara kedua kepala negara tersebut membahas tentang perdagangan dan investasi bilateral, kerja sama di bidang iklim dan energi, serta kepentingan regional dan global.

Salah satu agenda penting dalam kunjungan ini adalah keinginan kedua belah pihak untuk membuka potensi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Joko Widodo juga menyampaikan harapannya kepada Anthony Albanese mengenai penambahan kuota working holiday hingga 5.000 peserta per tahun.

Kebijakan ini akan memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi para pekerja usia muda dari Indonesia, dan membantu Australia dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja musiman.

Kunjungan tersebut juga menggambarkan bahwa pemerintah Australia kini ingin lebih fokus pada hubungan dengan Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan perubahan iklim, sebuah isu yang penting bagi negara-negara tetangga di kawasan Pasifik.

Business Council of Australia (BCA) menyerukan adanya tambahan arus migrasi yang cukup tinggi selama dua tahun ke depan.  Menurut Iwan Sunito meningkatnya jumlah migran yang masuk ke Australia yang dapat membantu pemulihan ekonomi Australia.

“Migrasi turun selama pandemi dan saat ini dibatasi pada 160 ribu jiwa. Business Council of Australia ingin meningkatkan batasan tersebut menjadi 220 ribu jiwa pada 2022-2023 dan 2024, dan kemudian kembali lagi ke 190 ribu jiwa," jelasnya.

Dampak penutupan perbatasan internasional terkait pandemi covid-19 mengakibatkan penurunan jumlah migrasi selama enam kuartal secara berturut-turut. Jumlah migrasi dari luar negeri berkurang 67.300 jiwa selama periode tersebut.

"Oleh karena itu, pemerintah Australia telah mengeluarkan kebijakan pelonggaran jumlah  waktu kerja bagi mahasiswa asing yang sebelumnya dibatasi hanya 20 jam seminggu," ujarnya.

Langkah ini akan berlaku segera untuk semua siswa saat ini sudah berada di Australia ataupun yang baru akan tiba, termasuk mereka yang baru mengajukan izin kerja siswa baru.

Para pelajar tersebut bahkan dapat bekerja sebelum program studi mereka dimulai. Mereka juga akan dapat bekerja lebih dari 40 jam setiap dua minggu di sektor ekonomi mana pun.

Berdasarkan Biro Statistik Australia, pada akhir Juni 2019, 88.740 orang kelahiran Indonesia tinggal di Australia, 29,4 persen lebih banyak dari jumlah (68.570) pada 30 Juni 2009.

Ini adalah salah satu komunitas migran terbesar di Australia, setara dengan 1,2 persen komunitas migran Australia dan 0,3 persen dari total populasi Australia. 

“Sementara jumlah mahasiswa Indonesia di Australia yang tercatat per tanggal 28 Juni 2021 yakni sebanyak 12.645 mahasiswa. Ini menempatkan Indonesia di peringkat 6 jumlah mahasiswa asing terbanyak di Australia setelah Tiongkok, India, Nepal, Vietnam dan Malaysia," ungkapnya.

Proyek terbaru

Sebelum akhir 2022,  Crown akan diluncurkan ONE Global Capital sebuah holdings baru yang akan berfokus kepada ritel, pembangunan hunian, hotel dan convention.

"Kami saat ini sedang dalam tahap finalisasi sebelum kami perkenalkan kepada publik.  Keberadaan ONE Global Capital sangat dibutuhkan untuk kegiatan ekspansi usaha ke sektor-sektor yang saat ini belum tersesentuh” jelas Iwan.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan akan membangun proyek hunian perdananya di kawasan Chatswood, Sydney. Sementara itu, kinerja SKYE Suites mengalami lonjakan yang signifikan menjelang berakhirnya pandemi covid-19 di Australia.

"Rataan keterisian kamar hotel kami di 3 lokasi mencapai di atas 80 persen. SKYE Suites terpilih sebagai official partner dari AfterPay Australian Fashion Week selama 3 tahun yang merupakan pencapaian teritama karena pemain baru di industri perhotelan Australia,” ungkanya.

(KIE)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id