Tak Pakai Semen, 4 Bangunan Bersejarah Ini Gunakan Putih Telur

    Anggi Tondi Martaon - 11 Oktober 2019 20:20 WIB
    Tak Pakai Semen, 4 Bangunan Bersejarah Ini Gunakan Putih Telur
    Proses mendirikan bangunan di Indonesia menggunakan putih telur. (dok. MI)
    Jakarta: Banyak hal yang menarik dan unik jika membicarakan bangunan tua, terlebih dari segi aristektur. Dengan material seadanya, orang zaman dahulu mampu mendirikan bangunan yang tetap kokoh hingga saat ini.

    Tak hanya di luar negeri, Indonesia juga memiliki banyak bangunan megah berusia tua yang menjadi bagian dari peradaban. Berbekal teknologi seadanya, manusia pada masa lalu mendirikan bangunan dengan proses dan teknik yang mungkin bikin Anda terperangah.

    Salah satu keunikan proses mendirikan bangunan di Indonesia yaitu menggunakan putih telur. Biasanya, cairan bening dan kental dari telur itu dikombinasikan dengan kapur dan dijadikan sebagai perekat pengganti semen.

    Mengingat, produksi semen baru dimulai setelah didirikan NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM) atau dikenal dengan nama PT Semen Padang. Pabrik semen tertua di Indonesia itu berdiri pada 18 Maret 1910.

    Sebelum kehadiran industri semen, putih telur menjadi andalan perekat bangunan. Meski tidak diketahui kapan dan siapa pencetusnya, penggunaan putih telur sebagai perekat material mulai berkembang di beberapa daerah.

    Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini bangunan tua ikonik yang mengandalkan putih telur sebagai perekat pengganti semen.

    1. Benteng Somba Opu, Makassar

    Benteng Somba Opu dibangun pada 1525. Putih telur diandalkan sebagai bahan perekat bangunan yang dibangun oleh Sultan Gowa ke IX Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi Kallona.

    Benteng yang sempat menjadi pusat perdagangan pada abad 16 itu memiliki luas 1.500 hektare. Bangunan tersebut dipagari oleh dinding tebal.

    Sayangnya, bangunan setinggi 7-8 meter itu dihancurkan oleh VOC pada 1669. Kondisi reruntuhan bangunan Benteng Somba Opu semakin parah karena sering terendam ombak pasang.

    2. Masjid Sultan Riau, Pulau Penyengat

    Tak Pakai Semen, 4 Bangunan Bersejarah Ini Gunakan Putih Telur
    (dok. MI)
    Masjid Sultan Riau dibangun sekitar tahun 1761 hingga 1812. Saat itu, Sultan Kerajaan Riau Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman berinisiatif memperluas masjid yang dulunya merupakan bangunan kayu. Perluasan dilakukan karena tidak mampu lagi menampung jemaah.

    Imbauan itu pun disambut baik oleh masyarakat. Bentuk dukungan berupa membantu menyumbangkan berbagai bentuk bantuan, seperti tenaga, bahan bangunan hingga makanan. Saat itu, makanan yang paling banyak disumbangkan adalah telur.

    Karena mulai bosan mengonsumsi telur, pekerja pun mengakalinya dengan hanya memakan kuningnya saja. Sedangkan putih telur dibuang.

    Tidak ingin terbuang sia-sia, putih telur itu pun dimanfaatkan sebagai bahan perekat. Saat itu, cairan bening itu dikombinasikan dengan pasir dan kapur. Ternyata campuran tersebut mampu membuat Masjid Sultan Riau berdiri kokoh hingga saat ini.

    3. Taman Sari, Yogyakarta

    Tak Pakai Semen, 4 Bangunan Bersejarah Ini Gunakan Putih Telur
    (dok. MI)
    Taman Sari dibangun saat pemerintahan Raja Sri Sultan Hamengkubuwono I. Sebanyak 57 bangunan didirikan di atas kompleks seluas 10 hektar tersebut.

    Pembangunan Taman Sari diarsiteki oleh Tumenggung Mangundipura. Struktur bangunan didominasi oleh batu bata. Batu cetak yang terbuat dari tanah liat itu kemudian direkatkan menggunakan putih telur.  

    Kompleks Pemandian Tamansari terdiri dari empat bagian, yaitu danau buatan, Pemandian Umbul Binangun, Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati.

    4. Jam Gadang, Bukittinggi

    Tak Pakai Semen, 4 Bangunan Bersejarah Ini Gunakan Putih Telur
    (dok. MI)
    Jam Gadang tidak hanya unik dari segi penunjuk waktu yang berada di puncak menara tersebut. Teknik arsitektur landmark Kota Bukittinggi, Sumatera Barat itu juga cukup memukau.

    Jam Gadang dibangun pada 1926 sebagai hadiah Ratu Belanda kepada Sekretaris Fort de Kock Rook Maker. Bangunan setinggi 26 meter itu diarsiteki oleh Jazid Radjo Mangkuto.

    Meski PT Semen Padang sudah berdiri sejak 1910, pembangunan Jam Gadang tidak menggunakan semen. Arsitektur lebih memilih menggunakan adukan putih telur, kapur dan pasir. Uniknya lagi, Jam Gadang tidak menggunakan besi penyangga.

    Seiring berjalannya waktu, semen dan batu bata mulai digunakan dalam beberapa kali proses pemugaran. 




    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id