Ruang Kosong di Gedung Perkantoran Makin Bertambah

    Media Indonesia - 01 Desember 2020 14:48 WIB
    Ruang Kosong di Gedung Perkantoran Makin Bertambah
    Okupansi perkantoran terus meningkat selama pandemi. Foto: Shutterstock
    Jakarta: Penurunan okupansi pada gedung perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) dan non-CBD telah terjadi sejak masa pandemi. Hal itu lantaran adanya perubahan karakter bekerja selama masa pandemi.

    Senior Manager Colliers International Eko Erfianto menyampaikan sejak awal covid-19 pada akhir Maret lalu, terjadi penurunan okupansi secara signifikan di area CBD dan non-CBD di Jakarta.

    "Aktivitas kantor berubah. Yang tadinya bertemu di kantor, kini kerja dari rumah. Meeting pun dari Zoom atau by phone. Ini amat memengaruhi sampai akhir tahun," kata Eko kepada Media Indonesia, Selasa, 1 Desember 2020.

    Eko mengatakan tren karakter perkantoran seperti saat ini akan terus memengaruhi paling tidak hingga akhir tahun bahkan paling lama hingga pertengahan 2021. Karena itu, secara otomatis para tenant menghitung ulang pengeluaran sewa untuk periode selanjutnya. Itu terutama dilakukan tenant yang masa sewa gedungnya hampir

    "Selama ini misalnya menyewa 500 meter, dihitung ulang, harus save money. Akibat pandemi, bisnis mereka juga terganggu. Bisa jadi di-renewal kontraknya hanya pakai setengah atau 30 persen. Ini yang akan nantinya menambah jumlah ruang kosong perkantoran," jelas dia.

    Selain itu, faktor lain yang terus mempertajam penurunan okupansi pemakaian gedung perkantoran ialah hadirnya gedung-gedung baru, terutama di luar CBD. Saat ini, kata dia, strategi para pengelola untuk mempertahankan penyewa (tenant) adalah dengan menawarkan win-win solution. Jadi, mereka tetap akan memperoleh sewa meskipun harus menurunkan harga.

    "Memang land load dan tenant harus berkolaborasi, harus ada win-win solution, misalnya land load mengurangi sewa gedung di tahun depan asalkan si tenant tetap menyewa atau menggunakan gedung," ungkapnya.

    Dengan kondisi saat ini, para pengelola memang harus bertahan dengan menawarkan berbagai keistimewaan kepada penyewa.

    "Saat ini tenant-lah yang memiliki kekuasaan untuk menentukan kontrak ke depannya seperti apa," jelas Eko.

    Berdasarkan data yang dihimpun Media Indonesia, pada kuartal I okupansi gedung perkantoran tercatat sebesar 82,8 persen di sektor CBD dan 84,2 persen di luar CBD.

    Namun, pada kuartal III, okupansi perkantoran di wilayah CBD turun menjadi 81,9 persen, sedangkan di luar CBD meningkat menjadi 84,9 persen. Selisih okupansi pada kuartal III-2020 dan kuartal I-2020 di sektor CBD kurang lebih sekitar 62 ribu meter persegi. Di luar CBD sekitar 45 ribu meter persegi. Artinya, ada sekitar 107 ribu meter persegi ruang perkantoran yang keluar selama enam bulan terakhir.

    Director Research dan Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus menjelaskan bertambahnya ruang-ruang kosong perkantoran di Jakarta justru akan menguntungkan bagi penyewa. Pemilik dan pengelola gedung perkantoran akan memberikan diskon yang cukup besar bagi penyewa baru serta negosiasi ulang bagi penyewa yang sudah ada.

    "Hal ini sebagai bagian dari strategi untuk mempertahankan tingkat hunian dan menutup ongkos operasional," pungkasnya.

    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id