Strategi Peritel, Pilih Buka Toko di Luar Mal

    Rizkie Fauzian - 14 Oktober 2020 20:58 WIB
    Strategi Peritel, Pilih Buka Toko di Luar Mal
    Pengunjung mal dibatasi. Foto: MI/Bary Fathahillah
    Jakarta: Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi memengaruhi sektor ritel di Jakarta. Peritel diperkirakan lebih konservatif dalam strategi ekspansi mereka.

    "Kami melihat pola yang jelas dari retailer yang mengalihkan fokus mereka dari mal ke pertokoan ruang ritel di sisi jalan atau stand-alone," kata Senior Associate Director Retail Services Colliers International Indonesia Sander Halsema dalam laporannya dikutip, Rabu, 14 Oktober 2020.

    Retailer terlihat melirik pertokoan ruang ritel di sisi jalan atau stand-alone sebagai bagian dari strategi ekspansi mereka karena toko-toko tersebut mungkin masih memiliki potensi untuk tetap beroperasi ketika mal diharuskan untuk tutup.

    "Colliers melihat akan adanya perubahan pada desain toko untuk membuat toko agar lebih sesuai dengan penjualan daring (e-commerce)," jelasnya.

    Operator F&B dan warabala kopi akan semakin membutuhkan bangunan sendiri (bukan di dalam mal) untuk drive thru dan ruang yang cukup bagi pengemudi ojek daring untuk mengambil pesanan, sehingga tidak mengganggu kegiatan operasional reguler.

    "Lalu, retailer fesyen juga mengubah desain tokonya sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai pusat operasional penjualan daring (e-commerce) dengan ruang yang lebih banyak dan terpisah untuk layanan penjemputan dan pengiriman seperti jasa ojek daring, dan lain-lain, serta untuk mencegah gangguan bagi pengunjung reguler toko," ungkapnya.

    Sementara para pemilik mal diharapkan membantu penyewa melewati pandemi ini dan resesi yang diperkirakan akan datang. Sangat penting bagi pemilik mal untuk mempertahankan penyewa.

    "Oleh karena itu, mereka secara umum tetap fleksibel terhadap penyewa mereka atau setidaknya bagi mereka yang sangat membutuhkan potongan sewa, biaya layanan, dan biaya lainnya," jelasnya.

    Untungnya, selama transisi PSBB ini, mal diizinkan untuk tetap beroperasi dan penyewa F&B diizinkan untuk menerima pembeli yang akan makan ditempat. Selain itu, karena adanya pembatasan 50 persen dari total kapasitas, sebagian besar masih akan tetap bergantung pada layanan delivery.

    "Colliers melihat pemilik mal menagih penyewa F&B mereka untuk biaya listrik dan AC pro-rata, daripada mengenakan biaya layanan penuh (jika biaya ini biasanya termasuk dalam biaya layanan). Potongan biaya sewa terus diberikan kepada penyewa untuk membantu mereka melewati periode pandemi dan menurunnya ekonomi saat ini," ungkapnya.

    (KIE)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id