Situs sejarah dan jejak Daendels

    Rizkie Fauzian - 26 Agustus 2018 09:22 WIB
    Situs sejarah dan jejak Daendels
    Mercusuar di titik nol kilometer Anyer-Panarukan, Cikoneng, Serang, ini dibangun pada 1885 oleh Gubernur Hindia Belanda, Herman Willem Daendels. Antara Foto/Septianda Perdana
    Jakarta: Kawasan kota tua yang penuh dengan gedung-gedung tua, biasanya tak jauh dari pantai, muara dan pelabuhan. Di tempat seperti itulah pelabuhan dibangun dan menjadi cikal bakal pusat kegiatan ekonomi setempat.

    Wilayah pantai pula titik awal dimulainya mega proyek legendaris jalur pos Daendels. Jalan yang membentang dari Anyer, Banten, hingga Panarukan, Jawa Timur, ini menghubungkan sentra-sentra ekonomi di pesisir utara Jawa dan menjadi cikal bakal jalur pantai utara Jawa.

    Situs sejarah dan jejak Daendels
    Interior satu dari 18 lantai mercusuar di titik nol kilometer Anyer-Panarukan, Cikoneng, Serang. Bangunan setinggi total 75,7 meter ini menjadi titik awal dimulainya proyek jalan raya Daendels. Antara Foto/Septianda Perdana

    Tapi tidak sedikit pula bangunan bernilai sejarah yang dibangun jauh dari pantai. Dua di antaranya adalah Rumah Cimanggis dan Pondok Cina yang berdiri tak jauh dari jalan akses Bogor-Jakarta, ruas Depok, Jawa Barat.

    Depok sejak akhir abad ke-17 telah menjadi daerah transit bagi pedagang dari penjuru Jawa Barat yang akan menuju Batavia dan Bogor. Beberapa catatan sejarah menulis, berpuluh tahun sebelum Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels memerintahkan pembangunan De Grote Postweg atau jalan raya pos yang melewati wilayah ini pada tahun 1807, sebuah jalan yang menghubungkan Batavia dengan Buitenzorg telah ada.

    "Dari Batavia ke Buitenzorg (Bogor) sudah ada jalan dengan pengerasan batu, saluran pembuangan air dan sebagainya. Bahkan sejak masa Deandels pusat pemerintahan ada di Buitenzorg (Bogor). Daerah di luar benteng atau Batavia Ommelanden dipilih karena kesuburannya," ungkap Guru Besar Sejarah UI Djoko Marihandono

    baca juga: Ini tangannya nasib Rumah Cimanggis ditentukan

    Faktor keamanan dari serangan militer dan pemberontakan budak, juga keunggulan Batavia Ommelanden. Udaranya yang sejuk dan segar membuatnya dipilih para pejabat VOC untuk mendirikan rumah peristirahatan.

    "Setelah 1730, Batavia sudah menjadi sumpek dan tidak sehat. Banyak elitnya pindah dari dalam kota ke luar kota bahkan ke tempat lebih jauh. Di mulai dari Gubernur Jenderal van Imhoff yang pada 1740 membangun landhuis (villa mewah) yang kini kita kenal sebagai Istana Bogor," papar sejarahwan, JJ Rizal.

    Djoko Marihandono menambahkan, jika dilihat dari fungsinya, rumah-rumah itu merupakan tempat peristirahatan yang dibangun dengan arsitektur pada masa itu. Tempat tersebut dibangun menggunakan model-model yang ada saat zaman tersebut dan dan dijaga oleh orang-orang atau  penduduk bumi putera yang ada di wilayah tersebut.

    Sejarah Rumah Cimanggis

    Di antara sejumlah pejabat voc yang kemudian membangun tempat peristirahatan diluar kota benteng adalah Gubernur Jendral VOC ke-29, Petrus Albertus van der Parra mengikuti langkah Gubernur Jenderal Van Imhoff yang membangun istana Bogor atau Buitenzorg pada tahun 1745.

    Saat itu,  Van Der Parra juga membangun rumah peristirahatan di kawasan Cimanggis, rumah megah yang dibangun pada tahun 1775 hingga 1778 dan kini terletak di kilometer 34 Jalan Raya Bogor ini pada masa lalu berdiri di kawasan perkebunan yang subur.

    "Dia didirikan di satu jalan dan satu jaman yang menyimbolkan mulai dibukanya kawasan diluar kota benteng batavia sebagai kawasan baru, bayangkan 50 tahun sebelum Deandels membangun jalan raya post dan lahir kota-kota modern itu sudah ada cikal bakal kota modern diluar kota benteng batavia dan rumah ini adalah penandanya," ungkap JJ Rizal.

    Situs sejarah dan jejak Daendels

    Rumah cimanggis memadukan arsitektur gaya kolonial dan Jawa, istilahnya saat itu Indische Woonhuis atau rumah tinggal Hindia.  Pada masanya rumah Cimanggis sangat indah dan kokoh.

    "Secara konsep arsitektur ruang, rumah ini adalah pencapaian, prestasi bagaimana dan tradisi arsitektur Eropa itu kawin dan menghasilkan arsitektur ruang yang memulai dalam artian dia merupakan produk Neoclassicism dari masa Louis ke-15 atau ke -4, tapi juga memperlihatkan aroma alam tropis, desain rumah tropis jawa sehingga dari atapnya itu bisa kelihatan," ungkap JJ Rizal.

    baca juga: Rumah Cimanggis, riwayatmu kini

    Sementara itu, menurut arsitek atau ahli tata kota Marco Kusumawijaya yang terpenting adalah bagaimana cara untuk beradaptasi terhadap iklim tropis basah. "Mereka membuat beranda di sekeliling rumah atau setidak-tidaknya di bagian depan atau samping. Itu penting sebab adaptasi iklim tropis basah, ciri bangunan abad 17 sampai 20. Sekaranga malah diabaikan adaptasinya, bangunan-bangunan modern mengandalkan AC," jelasnya.

    Setelah selesai pada 1778 rumah Cimanggis ditempati janda Van Der Parra, Adriana Johanna Bake. Setelah kematiannya pada 1787, kepemilikan dan fungsi rumah Cimanggis beberapa kali berganti hingga akhirnya terlantar dan rusak berat seperti sekarang ini.

    Ketua Depok Heritage Community Ratu Farah Diba menceritakan bahwa bangunan ini baru ditinggali oleh Johanna pada masa 1775-1778. Setelah meninggal diserahkan kepada David J. Smith yang merupakan saudara dari Johanna.

    Situs sejarah dan jejak Daendels

    "Namun David ini memiliki usaha yang sifatnya gambling, akhirnya bangunan ini pun beralih dan tidak diketahui. Kemudian baru saya ketahui pada 1935 bahwa bangunan ini milik Samuel de Meyer. Setelah itu tidak ada datanya hingga 1964 diketahui jadi aset RRI," ungkapnya.

    Pada 1978, bangunan ini menjadi tempat tinggal karyawan RRI yang dibagi dalam 13  kepala keluarga. Namun ada satu catatan bahwa rumah ini pernah menjadi markas tentara belanda pada 1946. Kemudian pada tahun 2002-2003 bangunan ini dikosongkan karena banyak bangunan yang rusak dan seluruh karyawan RRI dipindahkan.

    Upaya penyelamatan Rumah Cimanggis yang kini dalam kerusakan hingga 50 persen dari bangunan aslinya dihadapkan pada banyak kendala. Meski sejak 2011 didaftarkan menjadi salah satu bangunan cagar budaya hingga kini penetapan status yang diharapkan para pencinta sejarah itu belum juga terbit.

     



    (LHE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id