Bangunan Tahan Gempa Jadi Kunci Utama Keselamatan

    Antara - 24 Juni 2020 14:47 WIB
    Bangunan Tahan Gempa Jadi Kunci Utama Keselamatan
    Bangunan tahan gempa kunci utama keselamatan.
    Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa kunci utama keselamatan saat peristiwa gempa bumi adalah bangunan yang berkonstruksi tahan gempa.

    "Gempa bumi tidak membunuh dan melukai, tetapi bangunan roboh yang kemudian menimpa penghuninya adalah penyebab timbulnya korban jiwa," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2020.

    Dia mencontohkan peristiwa gempa bumi kuat bermagnitudo 7,5 mengguncang Oaxaca Meksiko pada Selasa 23 Juni 2020 malam. Jika dicermati tayangan video dan foto dampak gempa, tampak banyak gedung bertingkat yang mengalami guncangan dahsyat tetapi tidak mengalami kerusakan parah atau roboh.

    Dampak gempa Oaxaca hingga saat ini baru tercatat lima orang meninggal dunia. Dampak gempa tersebut sangat berbeda dengan gempa Yogyakarta 2006. Dengan kekuatan yang jauh lebih kecil yaitu magnitudo 6,4, gempa Yogyakarta mengakibatkan korban jiwa lebih dari 5.800 orang meninggal.

    Menurut Daryono, Meksiko sudah lama menyiapkan struktur bangunan tahan gempa, sementara di Yogyakarta saat itu masih banyak bangunan yang di bawah standar aman gempa.

    "Pelajaran terpenting yang dapat kita ambil bahwa bangunan tahan gempa adalah kunci keselamatan yang paling utama dalam menghadapi gempa, sehingga cepat atau lambat kita harus merealisasikannya," tambah Daryono.

    Rumah Adat Tahan Gempa

    Meski demikian, sejak zaman dahulu kala nenek moyang kita telah mewariskan teknologi bangunan tahan gempa melalui konstruksi rumah adat.
     
    Umumnya rumah adat terbuat dari kayu, karena pada masa lampau tidak ada semen maupun perekat lainnya. Kayu dipercaya mampu menahan guncangan karena bentuknya yang sangat elastis.

    Dilansir dari infografis yang diunggah dalam akun resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada beberapa rumah adat atau tradisional yang diketahui mampu bertahan dari guncangan gempa.
     
    Omo Sebua dan Omo Hada adalah rumah tradisional masyarakat Nias di kepulauan Nias yang dibangun di atas tumpukan kayu ulin dengan bentuk atapnya yang curam hingga 16 meter. Selain memiliki pertahanan yang kuat, Omo Sebua telah terbukti tahan terhadap gempa.
     
    Rumah Gadang di provinsi Sumatra Barat memiliki bentuk segi empat tidak simetris, bentuknya dipengaruhi oleh kondisi alam wilayah Minangkabau yang dominan dengan dataran tinggi dan rendah sehingga tahan bencana alam seperti gempa.

    Rumah Laheik berasal dari Kerinci, Riau. Rumah tersebut tersusun dari kayu yang disatukan dengan pasak dan antarbagian disatukan dengan ikatan tambang yang terbuat dari ijuk.
     
    Woloan merupakan rumah adat yang berasal dari Tomohon, Sulawesi Utara ini dibangun dengan konsep rumah panggung. Material yang digunakan kayu besi dan kayu cempaka. Rumah Woloan sudah dikenal sejak dulu tahan terhadap gempa.
     
    Rumah Joglo ini merupakan hunian tradisional yang tersebar di Jawa, Cirebon, sampai Banyuwangi. Struktur rumah Joglo yang berbahan kayu ini yang lentur terhadap guncangan.



    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id