REI Pede Sektor Properti Tumbuh hingga 8% di 2020

    Husen Miftahudin - 06 Februari 2020 16:53 WIB
    REI <i>Pede</i> Sektor Properti Tumbuh hingga 8% di 2020
    Ilustrasi Properti. Foto : MI/Pius.
    Jakarta: Sekjen Dewan Pengurus Pusat (DPP) Real Estate Indonesia (REI) Amran Nukman optimistis kinerja sektor properti bisa tumbuh hingga delapan persen di 2020. Hal ini didukung oleh membaiknya proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik hingga upaya Bank Indonesia dalam mendorong kredit perbankan.

    "Harus optimistis untuk 2020, proyeksinya tujuh sampai delapan persen. Optimistis segitu harus dikeroyok ramai-ramai oleh semua stakeholder," ujar Amran dalam Property Outlook 2020 di Sopo Del Tower, Jalan Mega Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Kamis, 6 Februari 2020.

    Amran ogah pesimistis meski kenyataannya sektor ini mengalami pertumbuhan yang stagnan. Dalam enam tahun terakhir, kinerja sektor properti selalu tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Artinya sejak 2014 pertumbuhan sektor properti hanya berkisar lima persen.

    "2019 kan cuma tumbuh di bawah lima persen. Secara nasional kan pertumbuhan (ekonomi) kita yang dicanangkan 5,3 persen kan (realisasinya) cuma 5,02 persen. Nah, properti di bawahnya lagi. Properti itu lebih tinggi pertumbuhannya dibanding pertumbuhan nasional itu terjadi di 2013 yang bisa sampai tumbuh tujuh persen, setelah itu kemudian turun," ungkapnya.

    Menurut Amran, daya beli menjadi kendala terbesar geliat sektor properti selain kondisi politik. Kenaikan harga-harga barang tidak seimbang dengan kenaikan upah pekerja. Alhasil, daya beli masyarakat terhadap properti merosot drastis.

    "Berdasarkan diskusi internal kami di REI itu, uang bulanan yang diterima pekerja habis untuk biaya tempat tinggal, kemudian biaya konsumsi untuk kehidupan sehari-hari, belum lagi kalau ada biaya pendidikan. Itu saja sekarang sudah menelan hampir seluruh penghasilannya," beber dia.

    Padahal, tujuh tahun sebelumnya penghasilan para pekerja bisa disisihkan untuk mencicil kepemilikan properti. Dulu, sebut Amran, beban harga dan konsumsi bulanan hanya menghabiskan dua per tiga penghasilan pekerja. Sepertiga sisanya bisa dimanfaatkan untuk mencicil rumah.

    "Sementara kalau sekarang ada cicilan motor, nyicil mobil kalau ada cicilan, nyicil handphone, itu kan menghabiskan (penghasilan) bulanan. Jadi ujung-ujungnya menurunkan daya beli," kata Amran.

    Sementara, optimisme pertumbuhan sektor properti di tahun ini dilihat dari kenaikan signifikan penghasilan pekerja di beberapa daerah. Karawang dan Bekasi misalnya, Upah Minimum Regional (UMR) dua wilayah ini naik sebanyak delapan persen.

    "Tapi daerah lain enggak seperti itu. Daerah-daerah tertentu saja yang naiknya sampai delapan persen."

    Di sisi lain, asosiasi para pengembang perumahan ini juga masih melihat besarnya permintaan. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), masih ada 13 juta kebutuhan rumah di seluruh penjuru Tanah Air.

    "Artinya di seluruh Indonesia ada marketnya, bukan hanya di timur Jakarta, bukan hanya di Bekasi. Tinggal bagaimana pengembang mau survive dengan keadaan daya beli seperti ini agar tidak terus-terusan turun. Maka harus disiasati, jualannya di harga lebih rendah," pungkas Amran.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id