Perumahan Berbasis Komunitas Paling Relevan di Masa Pandemi

    Antara - 30 Oktober 2020 14:50 WIB
    Perumahan Berbasis Komunitas Paling Relevan di Masa Pandemi
    Perumahan berbasis komunitas dinilai paling relevan di masa pandemi. Foto: Kementerian PUPR
    Semarang: Skema perumahan berbasis komunitas sangat relevan dilaksanakan pada masa pandemi covid-19 karena lingkungannya lebih terbangun dan tertata dengan jarak antarbangunan dan luas rumah yang memadai.

    Pakar perumahan dari Universitas Diponegoro Asnawi Manaf mengatakan bahwa penerapan skema tersebut secara masif juga akan membangkitkan kembali gairah kehidupan ekonomi pada saat ancaman krisis ekonomi yang sedang menghantui bangsa ini.

    Menurutnya skema ini mengubah bisnis model dari model konvensional yang selama ini diterapkan dengan prinsip "menjual" rumah menjadi "membangun" rumah.

    "Kita lihat di dalam tradisi membangun rumah keluarga berpenghasilan rendah yang selama ini mereka terapkan secara swadaya dan individual," katanya di Semarang, Jumat, 30 Oktober 2020.

    Dengan skema membangun rumah berbasis komunitas ini, keswadayaan yang semula individual diorganisasi sehingga masyarakat bisa membangun rumah secara lebih terencana di dalam suatu lingkungan yang lebih tertata.

    Melalui skema ini, menurut Asnawi, tidak hanya memberikan peluang bagi keluarga kurang mampu untuk mewujudkan rumah impiannya, tetapi juga dapat mengurangi dampak dari munculnya lingkungan-lingkungan kumuh (padat tidak tertata) seperti yang terjadi di kota-kota Indonesia selama ini.

    Mengingat begitu besar tantangan pemenuhan kebutuhan perumahan bagi kalangan keluarga dengan pendapatan di bawah Rp6 juta, ditambah lagi dengan situasi pandemi yang sangat berat saat ini, Undip menawarkan suatu gagasan inovatif dan menginisiasi pelaksanaannya dalam bentuk pilot proyek di Desa Branjang, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

    Untuk mewujudkan hal itu, Inclusive Housing and Urban Development Research Center (IHUDRC) Fakultas Teknik Undip bekerja sama dengan Kementerian PUPR dan Kementerian ATR/BPN serta Bank Jateng.

    "Gagasan tersebut adalah skema perumahan berbasis komunitas dengan dukungan program BP2BT (Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan) Swadaya," katanya.

    Ia berharap proyek ini dapat berjalan dengan baik dan menjadi contoh untuk diterapkan di berbagai daerah lain di Indonesia. Melalui skema ini masyarakat dapat memiliki rumah di dalam suatu lingkungan yang aman, sehat, dan nyaman seharga Rp130 juta saja.

    "Bahkan, harga ini pun akan mendapatkan program BP2BT hingga Rp40 juta sehingga untuk cicilan rumah subsidi yang biasanya sekitar Rp1,1juta, mereka cukup mencicil sebesar Rp800 ribuan saja per bulan," kata Asnawi.

    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id