Melirik Investasi Properti di Negeri Kanguru

    Media Indonesia - 26 November 2019 10:48 WIB
    Melirik Investasi Properti di Negeri Kanguru
    Pasar Australia dipandang cukup menguntungkan bagi sejumlah investor asing. Foto: Shutterstock
    Jakarta: Banyak pengembang asing yang cukup gencar memasarkan produknya di Indonesia, salah satunya pengembang Australia Crown Group. Beberapa produk menawarkan properti di beberapa kota, seperti Sydney dan Melbourne.

    Menurut GM Strategic & Corporate Communication Crown Group Indonesia Bagus Sukmana, potensi pasar Australia dipandang cukup menguntungkan bagi sejumlah investor asing yang masuk, termasuk Indonesia.

    "Pembeli orang Indonesia sekitar 10 persen, pembeli lokal Australia mencapai 60 persen dan 20 persen berasal dari Tiongkok dan 10 persen berasal dari negara-negara Asia lain," ungkap Bagus.

    Crown Group telah membangun sekitar 23 unit hunian vertikal. Perusahaan tersebut melihat Australia masih kekurangan pasokan hunian sehingga daya serap pasar tetap besar.

    Menurutnya, proyek-proyek di Australia memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen asal Indonesia. Misalnya, keamanan investasi ditunjukkan dari pembeli hanya dibebankan uang muka sebesar 10 persen.

    Kemudian, selama proyek masih dibangun dan pelunasan dilakukan setelah bangunan layak huni. Dari segi investasi pun cukup menguntungkan, secara konservatif tingkat kenaikan harga khususnya di Sydney 8-10 persen per tahun.

    Begitu juga legal status kepemilikan yang diberikan pemerintah Australia kepada investor asing, yaitu free hold alias seumur hidup. Padahal, di Singapura hanya 99 tahun.

    Selain itu, Australia tergolong memiliki stabilitas ekonomi dan politik tertinggi di sekitar kawasan. "Salah satu asal kota investor Indonesia yang paling banyak memiliki unit properti di Australia, yaitu Bandung," kata Bagus.

    Associate Director Coldwell Banker Commercial (CBC) Indonesia Kiagus Ariodamar menyebutkan secara umum penyerapan pasar properti di Australia oleh orang Indonesia masih belum menggeliat. Meskipun demikian, pihaknya belum memiliki penelitian secara khusus tentang hal tersebut.

    "Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan harga sektor hunian di dalam negeri kurang dari lima persen. Di samping itu, pilihan unit yang diluncurkan untuk kelas menengah atas sampai kelas atas masih relatif terbatas. Kontribusi pengembangan hunian vertikal masih di kelas menengah sampai menengah bawah," jelas Ario.

    Pertumbuhan sektor properti nasional pada 2019 diperkirakan sekitar tiga persen. Proyeksi itu tidak jauh dari realisasi pertumbuhan sektor properti 2018 sebesar 3,58 persen. Dalam lima tahun terakhir, kontribusi sektor properti terhadap perekonomian domestik juga berkisar tiga persen.

    Hal itu, menurut Ario, membuat investor kelas menengah hingga kelas menengah atas mencari alternatif properti yang lebih menarik di luar negeri seperti Australia. Apalagi, iklim investasi properti di Australia dinilainya sangat baik dari sisi harga dan pertumbuhan.



    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id