Kondisi Bangunan Bersejarah di Beirut Usai Ledakan

    Intan Yunelia - 11 Agustus 2020 17:44 WIB
    Kondisi Bangunan Bersejarah di Beirut Usai Ledakan
    Istana Sursock di Beirut yang terkena dampak ledakan Lebanon. Foto: Anwar Amro/AFP
    Beirut: Evolusi arsitektur di kota Beirut, Lebanon dalam beberapa tahun terakhir sangat masif. Beberapa nama besar arsitek pernah meninggalkan karyanya di kota tersebut.

    Sebut saja arsitek Zaha Hadid dengan Issam Fares Institute, Foster and Partner dengan proyek 3Beirut hingga Beirut Terraces dari Herzog & de Meuron. Karya-karya tersebut membuat arsitektur Beirut semakin indah.

    Namun, ledakan besar yang terjadi pada Selasa, 4 Agustus 2020 membuat kota Beirut luluh lantak. Bahkan pusat ledakan tersebut dekat dengan dua situs paling bersejarah, Gemmayzeh dan Mar Mikhael.

    Ledakan tersebut menghancurkan bangunan di Beirut Timur dan Tengah. Salah satu bangunan yang terkena dampak adalah hotel tua bernama Arthaus yang dibangun pada abad ke-18 di Gemmayzeh.

    Pemiliknya bernama Nabil Debs mengatakan, meski bangunan hotelnya hancur namun dia berencana untuk menjalankan kembali bisnisnya tersebut. Kerusakan yang terjadi pada hotelnya meliputi atap dan jendela.

    "Lantai dasar dan lantai bawah memiliki bentuk yang lebih baik. Apa yang menyelamatkan kota, adalah fakta bahwa ledakan itu tanpa api, jika tidak seluruh area akan lenyap," ujarnya.
    Kondisi Bangunan Bersejarah di Beirut Usai Ledakan
    Foto: Anwar Amro/AFP

    Bangunan bersejarah lainnya yang terkena dampak adalah Istana Sursock. Istana yang dibangun pada 1860 tersebut menjadi salah satu dari ikon kota Beirut.

    Istana tersebut menjadi saksi dari beberapa peristiwa bersejarah. Sejak hancur akibat perang, pemerintah butuh waktu 20 tahun untuk memperbaiki istana tersebut.

    Kini, bangunan warisan budaya tersebut menghadapi kendala yang lebih besar karena perbaikan yang sangat mahal. Beberapa area bangunan tersebut rusak parah.

    Meski demikian ada beberapa bangunan yang selamat dari ledakan, salah satunya Stone Garden rancangan Lina Ghotmeh. Bangunan tersebut memiliki struktur beton yang kuat.

    Muncul kekhawatiran dari beberapa pihak terhadap sikap pemerintah Beirut. Bangunan warisan budaya yang hancur tidak akan diperbaiki justru akan dihancurkan.

    Seorang konsultan perencanaan kota Amira Solh mengatakan, setelah 17 tahun perencanaan kota di Beirut, hambatan terbesar untuk pembangunan berkelanjutan adalah struktur pemerintahan di Beirut.

    "Kami sudah kehilangan sebagian besar bangunan warisan kami sebelum ledakan ini. Sekarang, saat kita berjuang untuk menyelamatkan nyawa, mereka sudah memanipulasi harga kaca," jelas Solh yang sebelumnya bekerja dengan perusahaan yang bertanggung jawab atas rekonstruksi pasca-perang Beirut, Solidere.

    Meski pemerintah Beirut mulai mengirim tim untuk menilai kerusakan yang terjadi, namun beberapa penduduk setempat khawatir ini mungkin hanya menjadi alasan saja.

    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id