Pasar rumah bekas terdampak kenaikan NJOP

    Rizkie Fauzian - 17 Juli 2018 17:00 WIB
    Pasar rumah bekas terdampak kenaikan NJOP
    Pemukiman padat di salah satu sudut Jakarta. Permintaan rumah bekas di Jakarta masih tinggi, tapi tingginya harga membuat penjualannya rendah. AFP Photo/Adek Berry
    Jakarta: Kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Bumi dan Bangunan DKI Jakarta semakin memberatkan sektor properti. Lantas, bagaimana pengaruhnya kepada pasar perumahan di Jakarta?

    "Pasar yang paling terkena dampak adalah perumahan second, tapi di Jakarta sudah tidak ada pasar primer untuk rumah seperti ini," kata Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda kepada Medcom.id.

    Menurut Ali, pasar perumahan second di Jakarta saat ini hanya 15 persen. Sementara sisanya merupakan pasar perumahan sekunder.

    "Masih ada (perumahan second) dari pengembang, tapi hanya 15 persen. Di Jakarta skala besarnya sudah tidak ada. 88 persen sudah pasar sekunder," jelasnya.

    Daya beli masyarakat

    Kenaikan NJOP sebesar 19,45 persen dikhawatirkan mengganggu daya beli masyarakat karena akan berpengaruh pada kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Artinya, harga jual rumah akan semakin mahal.

    "Mengurangi daya beli. Jual rumah susah, yang beli juga terbatas. Mau menaikkan harga rumah tidak bisa karena takut tidak ada yang beli, tapi pajaknya semakin membebani," jelasnya.



    (LHE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id