Virus Korona Pukul Industri Properti

    Husen Miftahudin - 06 Februari 2020 17:42 WIB
    Virus Korona Pukul Industri Properti
    Ilustrasi - - Foto: AFP/ TANG CHHIN SOTHY
    Jakarta: Merebaknya virus korona berimbas pada bisnis dan investasi properti di Tanah Air. Suplai barang-barang pendukung proyek properti dari Tiongkok ke Indonesia terhambat. Hal ini berpengaruh terhadap progres pembangunan proyek-proyek properti di Indonesia.

    "Artinya kalau barangnya terhambat bergerak, maka proyeknya terhambat kan. Nah kalau melihatnya dari sisi dampak akibat terhambatnya pengiriman impor maupun ekspor, maka tentu akan berpengaruh," kata Sekjen Dewan Pengurus Pusat (DPP) Real Estate Indonesia (REI) Amran Nukman dalam Property Outlook 2020 di Sopo Del Tower, Jalan Mega Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Kamis, 6 Februari 2020.

    Amran menyebut proyek properti yang paling terkena imbas ialah rumah vertikal atau apartemen. Pasalnya, proyek tersebut sangat bergantung terhadap industri pendukung dari Tiongkok seperti kebutuhan terhadap lift.

    "Paling pengaruh misalnya developer yang membangun high rise (apartemen), kan butuh lift, lift-nya dari Tiongkok, kan itu setop dulu. Artinya yang tadinya target pembangunannya misalnya selesai dalam tahun ini atau tahun depan, mungkin akan mundur," ungkap dia.

    Sementara dari segi investasi, Tiongkok merupakan salah satu investor terbesar bagi industri properti di Indonesia. Virus korona, sebut Amran, langsung menghentikan aktivitas investasi industri properti di tanah air.


    "Investor yang masuk ke Indonesia ini kan selain Jepang yang sudah lama, juga ada beberapa company properti dari Tiongkok. Karena memang mereka melihat Indonesia sebagai pasar yang cukup besar," jelas Amran.

    Ia melanjutkan investasi pada sektor properti terhenti akibat pembatasan orang bepergian. "Orang yang tadinya mungkin sudah ada rencana business meeting, mau bikin PKS (Perjanjian Kerja Sama) di sini jadi terhambat," ucapnya.

    Menurut Amran barang dan modal menjadi instrumen vital dalam proyek properti. "Virus korona ini menghentikan dengan seketika banyak aktivitas ekonomi (di Tiongkok). Sehingga dari sisi investasi dan barang di properti jadi terhambat, baik dari sini ke Tiongkok ataupun sebaliknya," pungkas Amran.

    Hingga Rabu, 5 Februari 2020, Komisi Kesehatan Tiongkok melaporkan total kematian pasien virus korona mencapai 564 kasus. Sementara itu, penyebaran virus korona tercatat 28.028 kasus di seluruh dunia.




    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id