Cara Ahli Menakar Gedung Pencakar Langit yang Ramah Lingkungan

    Anggi Tondi Martaon - 15 Januari 2020 14:12 WIB
    Cara Ahli Menakar Gedung Pencakar Langit yang Ramah Lingkungan
    Pembangunan gedung pencakar langit. Foto: Shutterstock
    Jakarta: Dalam beberapa dekade terakhir pembangunan gedung pencakar langit mengalami peningkatan. Seiring perkembangan waktu, langkah tersebut juga dikaitkan dengan lingkungan.

    Maka tak heran timbul pertanyaan apakah pembangunan gedung pencakar langit memengaruhi lingkungan? Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH) mencoba untuk menganalisis kaitan gedung pencakar langit dengan lingkungan.

    Editor CTBUH Daniel Safarik mengatakan cukup sulit mencari informasi mengenai gedung pencakar langit yang ramah lingkungan. Sebab, desainer, perusahaan konstruksi, dan pemilik bangunan tidak terlalu terbuka terhadap informasi pembangunan yang dilakukan.

    Namun, berdasarkan pengamatannya, ada beberapa generasi baru gedung pencakar langit yang mulai menerapkan beberapa inovasi dalam konstruksi. Hal itu berdampak pada beberapa aspek, yaitu material dan energi.

    Untuk material, beberapa pembangunan gedung pencakar langit mulai beralih ke material terbarukan seperti kayu. Penerapan konstruksi kayu yang dilakukan oleh arsitek Perkins+Will. 

    Dia membangun gedung pencakar langit 80 lantai dengan menggunakan bahan yang dapat diperbarui. Efesiensi bahan juga harus memperhatikan kekuatan gedung terhadap angin. 

    Safarik menilai desain Tianjin World Financial Center bisa menjadi acuan dalam efesiensi bahan. Menurut studi yang akan segera dirilis oleh SOM, desain Tianjin World Financial Center sangat inovatif, salah satunya yaitu Steel plate shear walls. Teknologi ini dianggap mampu menyerap gaya angin.

    Dengan berbagai inovasi teknologi arsitektur yang diterapkan, pembangunan Tianjin World Financial Center mampu menghemat sekitar 19 ribu metrik ton baja, 10.500 meter kubik beton, dan 3.900 metrik ton rebar.

    Tidak hanya bahan, hal lain yang juga harus jadi perhatian yaitu energi. Banyak dorongan agar gedung pencakar langit lebih efesien terhadap penggunaan energi. Dorongan tersebut diwujudkan dalam berbagai bentuk. Salah satunya melalui aturan.

    Seperti yang dilakukan oleh otoritas berwenang di New York. Mereka mengeluarkan aturan agar bangunan pencakar langit melakukan perbaikan lebih hemat energi. Sebab, menyumbang emisi karbon kota hingga 30 persen.

    Salah satu bangunan yang sudah menerapkan imbauan hemat energi yaitu Empire State Building, New York. Gedung tersebut mampu mengurangi penggunaan energi sebesar 38 persen.

    Selain material dan metode, lokasi juga menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam hal efisiensi energi. Safarik menilai sebuah bangunan yang dekat dengan berbagai akses pendukung, seperti angkutan umum dianggap lebih efesien daripada yang berada di pinggiran kota.

    Diharapkan, berbagai inovasi yang ditemukan gedung pencakar langit yang dibangun mampu mengurangi dampak terhadap lingkungan.



    (KIE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id