comscore

Peran Kearifan Lokal dalam Rumah Tahan Gempa

Antara - 18 Mei 2022 20:32 WIB
Peran Kearifan Lokal dalam Rumah Tahan Gempa
Ilustrasi rumah yang dibangun Kementerian PUPR di NTB. Foto: Kementerian PUPR
Praya: Letak geografis Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng besar yaitu Pasifik dan Indo-Australia. Hal ini berdampak terhadap tingginya potensi bencana, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Kebutuhan rumah tahan gempa sangat diperlukan di negeri rawan bencana seperti Indonesia untuk meminimalisasi potensi kerusakan. Indonesia memiliki rumah adat yang bebera di antaranya tahan gempa.
Tokoh masyarakat Lombok Tengah H Lalu Sunting Mentas mengatakan kearifan budaya lokal pada konstruksi rumah balai balak harus dilestarikan dalam menghadapi bencana gempa bumi.

"Daerah kita potensi bencana memang cukup tinggi. Peran kearifan budaya lokal dalam menghadapi atau memitigasi bencana ke depan sangat penting, karena konstruksi rumah suku sasak pada zaman dahulu dirancang tahan gempa, terbuat dari kayu dan bentuknya yang lancip seperti rumah tani yang memiliki teras depan dan rumah balai balak," ucapnya di Praya, Rabu, 18 Mei 2022.

Dikatakan, masyarakat dulu yakin bahwa rumah mereka tahan gempa, hanya saja saat ini bahan bangunan tidak sekuat dulu, sehingga sering kebakaran. Dengan adanya kemajuan zaman dimana konstruksi rumah masyarakat telah banyak berubah pada era digitalisasi saat ini sehingga dirinya berharap kepada pemerintah untuk bisa melakukan kolaborasi konstruksi bangunan supaya tidak melupakan kearifan budaya lokal yang dikenal masyarakat zaman dulu tahan gempa.

"Sekarang banyak bangunan permanen yang dibangun warga, tapi tidak tahan gempa. Walau ada gedung besar yang dibangun, harus ada kearifan budaya lokal yang bisa dikolaborasikan," katanya.

Selain itu juga, tradisi selamat laut juga sangat penting untuk terus dilestarikan dengan cara memotong kerbau warna hitam dan merah yang dipercaya sebagai tumbal untuk menolak balak. 

Meskipun hal tersebut sebagian masyarakat banyak yang menganggapnya sebagai mitos saat ini, tapi orang tua pada zaman dulu selalu melakukan hal tersebut, sehingga warga di Kecamatan Pujut masih melakukan hal itu ketika akan membangun rumah atau gedung besar.

"Kepala kerbau yang dipotong itu dipercaya untuk menolak bencana yang akan datang atau sebagai tumbal kata orang tua dulu," katanya.

Sementara itu, kearifan budaya lokal dalam menghadapi bencana alam seperti tsunami yang pernah terjadi secara tiba-tiba pada tahun 78 itu sangat membantu masyarakat, karena tidak ada alat pengeras suara. 

Namun, tanda ketongan Kul-Kul yang terbuat dari pohon bambu atau kayu memiliki peran dalam menjaga keamanan maupun dalam menghadapi bencana alam.

"Ada tanda pukulan dari kentongan tersebut dalam mengumpulkan warga, maupun sebagai informasi dalam bencana," katanya.

Kearifan budaya lokal tersebut harus dilestarikan dan diharapkan supaya generasi penerus bangsa saat ini harus mengetahui hal tersebut, supaya mereka juga bisa mengenal budaya lokal di Lombok Tengah khususnya dan NTB pada umumnya.

"Generasi penerus kita harus diberikan informasi terkait kearifan budaya lokal yang ada," katanya.

(KIE)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id