Politik Uang dan Rendahnya Partisipasi Pemilih Membayangi Pilkada Tangsel

    Indriyani Astuti - 17 November 2020 21:12 WIB
    Politik Uang dan Rendahnya Partisipasi Pemilih Membayangi Pilkada Tangsel
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta: Permasalahan politik uang dan tingkat partisipasi yang cenderung rendah dinilai menjadi tugas besar untuk penyelenggara dan peserta pemilu di Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel). Dari temuan lembaga survei Indikator Politik Indonesia, toleransi masyarakat terhadap praktik poltik uang di Tangsel cukup besar.

    Sebanyak 56,8 persen warga Tangsel mengatakan politik uang bisa diterima atau dinilai wajar. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan pada Agustus 2020 yang hanya 35,3 persen.

    "Meskipun politik uang diangap wajar, (sebanyak) 79,2 persen responden mengatakan uangnya tetap diterima tetapi pilihan politik di bilik suara bisa berbeda," ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Nasional Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei, Dinamika Elektoral Pilwakot Tangsel yang digelar secara daring oleh Indikator Politik Nasional, Selasa, 17 November 2020.

    Dia menuturkan sikap permisif masyarakat terhadap politik uang dapat dipengaruhi perekonomian yang memburuk akibat pandemi. Suplai dari pihak yang ingin meraup suara dengan cara memberikan uang juga meningkat.

    Dia mewanti-wanti agar jangan sampai pilkada yang seharusnya berjalan demokratis dibajak praktik tersebut. "Harus ada pengawasan posko antipolitik uang atau apa pun namanya," ucapnya.

    Baca: Survei: Elektabilitas Muhammad-Saras Tertinggi di Pilkada Tangsel

    Survei Indokator Politik Indonesia juga menemukan hanya 57,9 persen warga Tangsel yang menjawab kemungkinan akan datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada 9 Desember 2020. Sebanyak 24 persen warga Tangsel menyatakan sangat besar kemungkinan datang ke TPS untuk memberikan hak pilih.

    Sedangkan, 12,4 persen warga Tangsel menjawab kecil kemungkinan dan 3,9 persen warga Tangsel menjawab sangat kecil kemungkinan datang ke TPS. Selebihnya tidak memberikan jawaban.

    "Kalau penyelenggara pemilu tidak mengantisipasi ini, bisa jadi golongan putih (golput/tidak memberikan hak pilih) lebih besar," ujar Buhanuddin.

    Survei ini melibatkan 820 warga Tangsel dalam kurun waktu 28 Oktober-3 November 2020. Metodelogi yang dipakai dalam survei ini ialah multistage random sampling dengan toleransi kesalahan atau margin of error sekitar ±3,5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
     

    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id