Kepala Daerah Korupsi, Warga Rugi Lahir Batin

    Dhika Kusuma Winata - 22 November 2020 03:13 WIB
    Kepala Daerah Korupsi, Warga Rugi Lahir Batin
    Ilustrasi: Medcom.id
    Jakarta: Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati menyebut maraknya korupsi kepala daerah berdampak langsung bagi publik. Masyarakat selalu menjadi korban dari kebijakan kepala daerah yang koruptif lantaran harus memenuhi imbal jasa donaturnya dalam pemilihan.

    "Ini rahasia yang bukan rahasia lagi karena transaksinya di bawah meja. Pilkada (pemilihan kepala daerah) selalu di bawah bayang-bayang cukong. Yang diijon posisi dan kebijakan publik," ucap Asfinawati dalam diskusi virtual 'Pilkada 2020: Wakil Rakyat atau Wakil Donatur?' di Jakarta, Sabtu, 21 November 2020.

    Menurut dia, kebijakan publik kepala daerah yang terkait korupsi kerap merugikan masyarakat. Ia mencontohkan kasus korupsi perizinan yang menjerat eks Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. 

    Baca: KPK Sebut Dinasti Politik Tak Melulu Soal Keluarga

    Data dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mengungkap 136 izin perusahaan tidak dicabut meski terkait kasus Rita. Kemudian, kasus korupsi proyek PLTU Mulut Tambang Riau 1 yang proyeknya tetap berjalan meski masyarakat menolak. 

    "Ada juga kasus korupsi PT Duta Palma Group terkait kasus pengajuan alih fungsi hutan di Riau. Pemberian izin ada kaitannya dengan kebakaran lahan. Izin kebun diberikan di daerah rawan terbakar," ucap dia.

    Korupsi kepala daerah diyakini kuat erat kaitannya dengan pilkada. Mengutip data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Asfinawati mengatakan kasus kepala daerah tertangkap paling banyak di masa pilkada, dengan yang tertinggi pada Pilkada 2018, dengan 29 kepala daerah terjerat kasus rasuah.

    "Kepala daerah yang korupsi mengambil suara masyarakat namun masyarakat sendiri tidak bisa menentukan kebijakan publiknya," ucap dia.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id