Calon Tunggal dan Politik Dinasti Cenderung Korup Setelah Terpilih

    Anggi Tondi Martaon - 04 Agustus 2020 18:28 WIB
    Calon Tunggal dan Politik Dinasti Cenderung Korup Setelah Terpilih
    Ilustrasi korupsi. Medcom.di
    Jakarta: Politik dinasti dan calon tunggal dianggap memiliki dampak negatif. Mereka cenderung koruptif paska terpilih sebagai kepala daerah.

    "Praktik korupsi yang melibatkan calon berlatar belakang dinasti politik dan calon tunggal. Ada tendensi praktik korupsi yang mengikuti," kata Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini dalam diskusi virtual, Selasa, 4 Agustus 2020.

    Dia menyebut kaitan korupsi dengan calon tunggal dan dinasti politik terlihat di Kabupaten Buton. Calon tunggal Bupati Buton Samsu Umar Samiun ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Samsu menyuap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar pada 2012. "Di Buton calon tunggal, menang pilkada meski ditahan KPK," papar dia.

    Calon tunggal dan politik dinasti yang melakukan praktik culas juga terjadi di beberapa daerah, yakni Provinsi Banten, Kota Cimahi, Kabupaten Kutai Kertanegara, Klaten, Malang, Bangkalan dan Banyuasin.

    "Ini adalah contoh-contoh kepemimpinan dinasti yang berujung pada perilaku koruptif," ujar dia.

    (Baca: Problematik Calon Tunggal dan Dinasti Politik)

    (REN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id