comscore
Abdul Kohar
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group

Triple Combo

Abdul Kohar - 25 Mei 2022 05:38 WIB
<i>Triple Combo</i>
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. MI/Ebet
Dunia termasuk Indonesia, sedang berikhtiar keras mencari jawaban atas satu pertanyaan: bagaimana menemukan solusi untuk bangkit dari hantaman krisis, bahkan depresi, ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini? Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan bahwa pemulihan ekonomi bakal dihadapkan pada tantangan triple combo. Tiga masalah besar.

Tantangan pertama bukan lagi didominasi oleh pandemi covid-19, melainkan kenaikan harga-harga karena disrupsi dan kondisi geopolitik internasional. Kondisi tersebut akan memberikan efek domino terhadap banyak hal. Kenaikan harga yang ekstrem memicu suku bunga naik dan likuiditas yang ketat.
Tantangan kedua yang akan dihadapi Indonesia ialah inflasi tinggi. Tanda-tanda inflasi tinggi tidak terbendung sudah tampak di triwulan pertama 2022. Bahkan, ada yang memprediksi di akhir tahun nanti inflasi bakal menyentuh 5%, malah lebih. Padahal, target inflasi di kisaran 4%. Naiknya harga minyak goreng, kebutuhan pangan, mungkin juga naiknya harga BBM, elpiji 3 kilogram, dan tarif listrik, akan mengerek inflasi dan memukul daya beli.

Setelah naiknya inflasi dan terpukulnya daya beli, tantangan ketiga ialah perlambatan pertumbuhan ekonomi. Benar bahwa petumbuhan ekonomi kita dalam dua kuartal ini di atas 5%. Namun, melihat ekonomi global yang tidak sedang baik-baik saja, berat kiranya menjaga pertumbuhan itu hingga di penghujung tahun.

Apalagi, krisis pangan sudah terjadi. Bahkan, menurut Sekjen PBB Antonio Guterres krisis yang dipicu perang Rusia-Ukraina itu bisa berlangsung bertahun-tahun ke depan. Majalah terkemuka The Economist menyebutnya sebagai 'katastrofe pangan', atau perubahan besar pada pasokan dan harga pengan secara tiba-tiba.

Dalam ulasannya di edisi 21 Mei 2022 berjudul The Food Catastrophe, majalah berbasis di Inggris itu mengulas bahwa dengan menginvasi Ukraina, Vladimir Putin akan menghancurkan kehidupan orang-orang yang jauh dari medan perang—dan dalam skala yang bahkan mungkin dia sesali. Perang menghancurkan sistem pangan global yang sebelumnya telah terpukul oleh covid-19, perubahan iklim, dan kejutan energi.

Ekspor gandum dan minyak sayur Ukraina dan Rusia sebagian besar telah dihentikan. Secara bersama-sama, kedua negara memasok 12% kebutuhan kalori dunia. Harga gandum yang naik 53% sejak awal tahun, melonjak lagi 6% pada 16 Mei, setelah India mengatakan akan menangguhkan ekspor karena gelombang panas yang mengkhawatirkan.

Tingginya harga pangan pokok ini, tulis The Economist, telah meningkatkan jumlah orang yang tidak dapat memastikan kecukupan makan dari 440 juta orang menjadi 1,6 miliar orang. Hampir 250 juta berada di ambang kelaparan. Jika perang berlarut-larut dan pasokan dari Rusia dan Ukraina terbatas, ratusan juta orang bisa jatuh ke dalam kemiskinan.

Indonesia tidak luput dari sergapan krisis pangan, krisis energi, dan ancaman inflasi. Dampaknya terasa langsung pada keuangan negara. Realisasi subsidi energi, misalnya, per April tahun ini sudah mencapai Rp56,62 triliun, lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2021, hingga April subsidi sebesar Rp40,73 triliun. April 2020 malah cuma Rp32,83 triliun.

Memang serbarepot menemukan solusi yang pas menghadapi itu semua. Cara gampang mengatasi membengkaknya subsidi energi, misalnya, ialah menaikkan harga atau tarif. Sempat ada ancang-ancang Pertamina bakal menaikkan harga BBM pertalite dan gas elpiji 3 kg. PLN juga sudah menghitung-hitung untuk menaikkan tarif listrik. Dua BUMN tersebut memang sudah sangat berat menahan lonjakan harga yang berujung pada kerugian perusahaan hingga lebih dari Rp30 triliun (Pertamina) dan lebih dari Rp70 triliun (PLN).

Namun, sekali lagi, pilihan menaikkan harga akan membuat inflasi membubung. Dampak selanjutnya, rakyat tak sanggup lagi menjangkau harga-harga karena daya beli mereka roboh dipukul inflasi. Mungkin cara sementara ialah kembali pada resep refocusing anggaran. Bukan menaikkan harga dan tarif. Anggaran infrastruktur boleh ditahan sejenak untuk dialihkan demi melindungi rakyat dari serangan atas daya beli.

Sebagian anggaran pemulihan ekonomi nasional bisa pula digunakan untuk mengamankan subsidi demi melindungi serangan bertubi-tubi terhadap pemulihan ekonomi. Namun, ada syarat dan ketentuan berlaku, yakni subsidi yang digelontorkan mesti tepat sasaran. Percuma menggeber subsidi bila masih ada yang melenceng atau dilencengkan dari sasaran sesungguhnya.

Ibarat baru sembuh dari sakit, kita memang harus siap menghadapi serangan penyakit baru. Tidak hanya satu, tetapi juga malah triple combo. Semoga memang resepnya sudah ada dan jitu pula.

(LDS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING

HOT ISSUE

  • Array
MORE
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id