Makroen Sanjaya
    Makroen Sanjaya

    Doxing, Teror di Dunia Maya dengan Aksi Nyata

    Makroen Sanjaya - 14 September 2020 07:30 WIB
    Doxing, Teror di Dunia Maya dengan Aksi Nyata
    Ilustrasi: Medcom.id
    KASUS doxing atau umbaran identitas pribadi untuk tujuan jahat melalui dunia maya, kembali menyeruak. Kali ini, aksi doxing dialami oleh jurnalis Liputan6.com, Cakrayuri Nuralam. 

    Bermula dari unggahan artikel berjudul Cek Fakta: Tidak Benar Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Cucu Pendiri PKI di Sumbar, 10 September 2020, Cakrayuri kemudian mengalami perundungan. Menurut Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Irna Gustiawati, akibat artikel itu, sehari kemudian, 11 September 2020 Cakrayuri mengalami serangan doxing dengan skala massif. “Sekitar pukul 18.20 WIB, akun Instagram @d34th.5kull, mengunggah foto korban (Cakrayuri) tanpa izin,” demikian rilis pers Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Ahad (12/9/2020). 

    Aksi doxing terhadap jurnalis ini, bukanlah kali pertama. Sebelumnya, doxing juga dialami jurnalis detik.com, Mei 2020 lalu. Bahkan, tindakan doxing terhadap jurnalis detik.com lebih parah, karena diiringi aksi “pengiriman” makanan senilai Rp 900.000 oleh ojek online ke rumah pribadi sang jurnalis, yang tidak pernah dipesannya.

    Orangtua korban juga mendapat ancaman pembunuhan melalui pesan via Whatsapp.  Penyebabnya, jurnalis detik.com itu dianggap “salah” memberitakan kunjungan Presiden Joko Widodo ke sebuah mal di Bekasi. Rentetan aksi doxing terhadap jurnalis, juga terjadi tiga kali di tahun 2018 dan 2019.

    Aksi doxing itu kini berulang, menjadi momok menakutkan bagi kalangan intelektual (jurnalis dan akademisi). Apa dan bagaimana tindakan di dunia maya disebut sebagai doxing? Mengapa aksi doxing menjadi pilihan bagi tindakan teror? Mengapa doxing makin sering muncul?

    Tindakan doxing yang lebih mencekam, juga dialami panitia dan calon pembicara seminar via web (webinar) bertajuk “Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan”, yang akan digelar “Constitutional Law Society” UGM Yogyakarta, Mei 2020. Sebagian mahasiswa panitia diskusi ilmiah itu, bahkan orangtuanya, dirundung, diintimidasi, dan diancam dibunuh. 

    Sama seperti yang dialami jurnalis detik.com, menurut rilis pers Fakultas Hukum UGM Yogyakarta, 29 Mei 2020,  mahasiswa UGM itu juga menerima kiriman pesanan makanan melalui ojek online, yang tak pernah dipesannya. Senyampang dengan itu, guru besar hukum tata negara Universitas Islam Indonesia (UII), Ni’matul Huda, yang sedianya menjadi pembicara di webinar itu, pun mengalami aksi teror. Muncul pesan via Whatsapp berisi ancaman pembunuhan. Bahkan, sejumlah orang jelang tengah malam, menggedor-gedor rumahnya. 

    Aksi doxing itu kini berulang, menjadi momok menakutkan bagi kalangan intelektual (jurnalis dan akademisi). Apa dan bagaimana tindakan di dunia maya disebut sebagai doxing? Mengapa aksi doxing menjadi pilihan bagi tindakan teror? Mengapa doxing makin sering muncul?  

    Muasal Doxing
    Terma doxing, atau doxxing muncul ke dunia internet belum terlalu lama. Menurut “Techopedia” yang dikutip Julia Moyer (2016), doxing didefinisikan sebagai "proses pengambilan, meretas dan menerbitkan informasi orang lain seperti nama, alamat, nomor telepon dan detail kartu kredit”.

    Definisi ini mencakup banyak aplikasi doxing, sehingga dari aspek pemahaman terhadap praktik, orang juga harus memiliki pemahaman yang sama tentang motivasi di balik aksi doxing, berikut implikasinya. Doxing, yang namanya berasal dari ekstensi file ".doc", ditandai dengan aksi pelacakan file dan membaginya kepada pihak lain, baik secara privat maupun publik. 

    “Di antara yang paling menakutkan bagi pengguna Internet sehari-hari adalah doxing, yaitu praktik terjadinya informasi pribadi orang yang tersedia di tempat umum, digunakan untuk keperluan pribadi atau menyebabkan sulit diakses. Informasi pribadi itu diperoleh dari peretasan dan pencarian IP, tetapi lebih sering menggunakan alat online sehari-hari seperti mesin pencari, profil media sosial, dan membalikkan pencarian telepon. Setelah penyerang memperoleh informasi individu, sifat dengki menjadi tidak ada batasan. Teknik intimidasi siber, penghinaan publik, pendaftaran palsu untuk layanan, tebusan permintaan, dan sebagian besar mengancam, menguntit dan bahkan penculikan anak,” demikian Julia Moyer dalam disertasinya berjudul Doxing: Dangers and Defences

    Sedangkan menurut Hayes & Luther dalam buku “#crime” (2018) mengutip Powell and Henry (2016), doxing didefinisikan sebagai “mempublikasikan detail pribadi korban sehubungan dengan ancaman pemerkosaan dan konten kekerasan seksual.” Definisi ini mengacu kasus yang dialami game developer perempuan, Zoe Quinn, yang tahun 2014 menciptakan game berjudul “Depression Quest”, yang dikenal sebagai skandal game “Zoe Quinn.” Kala itu, Zoe Quinn mengalami tindakan yang diistilahkan sebagai aksi “Trolls doxed”, yaitu pengungkapan identitasnya secara lengkap secara maya, hasil “mengail” data melalui internet. Quinn juga mengalami pelecehan dan diancam untuk diperkosa dan dibunuh. Quinn terpaksa harus mengungsi dan berpindah domisili karena kasus doxing itu.

    Dari skandal game Zoe Quinn ini, Hayes & Luther mengkategorikan doxing sebagai perilaku buruk atau bahkan kriminal berat melalui ranah internet, yang meliputi tindakan perundungan siber (cyberbullying), satu rumpun dengan perilaku “trolling” (mengail identitas digital), dan tindakan menghasut orang untuk melecehkan orang lain secara online. Pada level tertentu, perilaku doxing, mungkin bisa disamakan dengan teroris, karena menebar ancaman dan ketakutan. 

    “Media sosial adalah teman teroris terbaik dan terburuk. Tindakan terorisme harus terbuka untuk mendapat perhatian, melalui pernyataan dan menyebarkan ketakutan. Media sosial memperkuat peristiwa-peristiwa ini, memungkinkan orang-orang di seluruh dunia untuk secara instan melihat dan menanggapi kengerian dan merasakan perasaan kerentanan dan kekacauan. Media sosial juga merupakan teman terburuk teroris. Media sosial menunjukkan terorisme sebagai kekerasan yang tidak masuk akal dan tercela. Ini menyatukan orang melawan tujuan mereka,” tulis Rebbeca M. Hayes dan Kate Luther, dalam bab “#Crime: The Theoritical Underpinnings” (2018: 1).

    Dalam kasus doxing di Indonesia, jelas merupakan manifestasi aksi teror di dunia maya dengan aksi nyata. Menurut Ajith Sundaram, peneliti Anna University, Chennai, India, aksi teror melalui dunia maya, harus dihentikan. “…serangan teror besar atau kerusuhan, ketika diselidiki dengan cermat, memperlihatkan bagaimana setiap serangan terungkap pada peran yang dimainkan media sosial.

    Kasus doxing yang cukup heboh terjadi atas artis Scarlett Johansson dan selebriti Hollywood lainnya antara November 2010 dan Oktober 2011. Peretas Christopher Chaney mengumpulkan informasi pribadi selebritas seperti Scarlett Johansson, Mila Kunis dan Christina Aguilera, dari email pribadi mereka, termasuk foto telanjang.

    Modus operandi Chaney, dengan cara penyadapan (intersept) lalu lintas email korban. Atau dengan pengendusan digital, yang menyebabkan korban mengalami kesulitan membuka email pribadi, sehingga memunculkan tautan “Lupa kata sandi Anda?” ketika korban membuka emailnya. Dengan teknik “trolling” (mengail) itu, pelaku berhasil menggaet kata sandi korban, sehingga dengan mudah email disalahgunakan.

    Perlu Tangan Besi
    Dari berbagai contoh kasus doxing, baik yang terjadi secara lokal di Indonesia, maupun yang terjadi di belahan dunia lainnya, mengindikasikan ancaman internet dari sisi gelap (dark side). Seperti yang dimaklumi, tindakan doxing masuk dalam kategori tindakan kriminal berat dan serius: karena tindakan doxing, selain menyertakan intimidasi, ancaman pembunuhan, penculikan dan perkosaan, juga bercirikan ‘menebar ketakutan’ atau teror. Karena itu, dari sisi hukum, aksi doxing ini harus mendapat penanganan serius dari aparat dan institusi hukum.

    Dalam kasus doxing di Indonesia, jelas merupakan manifestasi aksi teror di dunia maya dengan aksi nyata. Menurut Ajith Sundaram, peneliti Anna University, Chennai, India, aksi teror melalui dunia maya, harus dihentikan. “…serangan teror besar atau kerusuhan, ketika diselidiki dengan cermat, memperlihatkan bagaimana setiap serangan terungkap pada peran yang dimainkan media sosial.

    Aliran informasi yang tidak dibatasi dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tapi juga bisa digunakan untuk menyebarkan kejahatan. Dan ketika orang menggunakan media sosial untuk kekerasan, kita perlu menghentikan mereka dengan tangan besi,” demikian Assistante Professor, Ajith Sundaram dalam The Dark Side of Social Media: A Reality Becoming More Contemporary by the Day (2017). 

    Realitasnya, tindakan represif dan transparan atas nama hukum oleh aparatus negara terhadap pelaku doxing, belum tampak. Setidaknya, kasus doxing yang setara dengan terorisme skala kecil itu, belum dikategorikan sebagai masalah serius, yang dalam terminologi penegak hukum sebagai “kasus yang menonjol”. Jika demikian “jalan” yang dipilih aparatus hukum,  jangan harap terorisme doxing akan bisa dihentikan.[]

    Makroen Sanjaya
    Digital Defender dan Dosen Ilmu Komunikasi UMJ


    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id. 

    (SBR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id