Mahrus el-Mawa
    Mahrus el-Mawa Filolog, Koordinator Diklat Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)

    Spiritual Manuskrip Nusantara, Berkaca pada Naskah Kuno Cirebon

    Mahrus el-Mawa - 15 Juni 2020 09:00 WIB
    Spiritual Manuskrip Nusantara,  Berkaca pada Naskah Kuno Cirebon
    MI/NURUL HIDAYAH
    NASKAH kuno atau manuskrip kuno di Nusantara selalu punya cerita. Salah satu ceritanya bahwa manuskrip itu kental dengan spiritualitas. Selama penulis menggeluti naskah kuno di Cirebon, mulai dari eksplorasi, digitalisasi dan penulisan dari konten naskah kuno memang merasakan bau spiritualitas tersebut. 

    Spiritualitas yang dimaksud adalah bagian dari dalam diri individu (core of individuals) yang tidak terlihat (unseen, invisible) yang berkontribusi terhadap keunikan serta dapat menyatu dengan nilai-nilai transendental (suatu kekuatan yang maha tinggi/high power dengan Tuhan/God) yang memberikan makna, tujuan, dan keterhubungan (McEwen, 2004).

    Spiritualitas manuskrip dengan begitu dapat dikatakan sebagai pengalaman personal selama melakukan proses penyelamatan dan pelestarian pernaskahan.

    Cirebon menjadi salah satu kota penting dalam pernaskahan di Indonesia dewasa ini. Kehadiran Kesultanan Cirebon pada era Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah (abad XIV/V) menjadi milestone awal. 


    Sejak itu, Cirebon menjadi kota kosmopolitan awal di bagian barat Jawa. Pelabuhan Cirebon adalah destinasi utama dalam dunia perdagangan sebagai jalur sutera ekonomi Nusantara. 

    Naskah kuno dan keraton atau kesultanan itu ibarat koin mata uang. Tidak mungkin ada keraton, tanpa naskah kuno. Sebab, catatan tulisan tangan (the manuscript) saat itu menjadi satu-satunya media komunikasi politik. 

    Nuansa spiritual

    Tulisan tangan itulah naskah kuno yang dimaksud di sini. Ketika terdapat nuansa spiritual, tidaklah mengherankan, sebab dalam proses penulisan naskah kuno itu beraneka macam ceritanya. 

    Untuk naskah-naskah khusus sebagai sumber utama ajaran Islam, sebutlah naskah kuno tarekat (baca; tasawuf/mistisisme), tidak jarang harus diawali dengan berwudlu atau penulis naskah haruslah dalam keadaan bersuci. 


    Tempat penyimpanan naskah di Cirebon, selain keraton, juga ada di pesantren dan komunitas masyarakat. Baik koleksi pesantren ataupun koleksi masyarakat, tak jarang pula menjadi bagian dari keraton di Cirebon. 


    Salah satu sebabnya, kyai di pesantren juga adalah penghulu agama di keraton Cirebon. Sedangkan koleksi masyarakat itu berasal dari keturunan keraton yang tidak tinggal di sekitar keraton. 

    Hal itu dapat dimaklumi, karena naskah kuno atau kertas sebagai alat tulis hanya dimiliki kalangan tertentu, baik bangsawan/ningrat atau begawan/intelektual/kyai. Jumlah naskah Cirebon dalam inventarisasi 5 (lima) tahun terakhir sudah ribuan naskah. 

    Terakhir, informasi penyusunan katalog naskah Cirebon sudah menjadi satu buku tersendiri, bukan gabungan koleksi naskah di Jawa Barat. Artinya, pemeliharaan naskah Cirebon sudah setingkat naskah kuno lain di Nusantara, yang terlebih dahulu dibuat katalognya, seperti Katalog Naskah Buton, Katalog Naskah Puro Pakualaman, dst. 

    Pengalaman spiritual

    Pengalaman pertama penulis terkait spiritualitas manuskrip ini terjadi pada tahun 2008, awal mula penulis melangkahkan kaki untuk mendalami naskah kuno di Cirebon. Saat itu, penulis harus membawa naskah kuno Cirebon sebagai prasyarat mengikuti pendidikan dan pelatihan lektur/naskah kuno agama dan keagamaan di Nusantara oleh Badan Litbang Agama dan Keagamaan Kementerian Agama RI. 

    Pesertanya selain dosen dari perguruan tinggi keagamaan Islam, juga para peneliti di lingkungan Badan Litbang Kementerian Agama, baik di pusat maupun di daerah dari balai penelitian agama seluruh Indonesia. Pengalaman spiritual itu penulis rasakan pada saat membaca naskah kuno yang pertama kalinya. 

    Naskah kuno itu milik salah satu keturunan Sunan Gunung Jati ke-7 yang ada di Ciputat. Pemilik naskah kuno, lebih tepatnya pewaris naskah kuno, saat itu pun pertama kali bertemu dengan penulis. 

    Akan tetapi, pertemuan pertama itu seperti sudah lama sekali terjadi. Kemungkinan karena sesama wong Cerbon yang hidup di rantau. Spiritualitas itu muncul ibarat magnet yang dirasakan pada saat membaca kata perkata, kalimat per kalimat, hingga merasakan ada tautan keagamaan saat ini hingga masa lalu melalui naskah kuno yang terbaca tersebut. Sungguh unik. 

    Ingatan penulis langsung kembali ke tajug kampung halaman saat sebelum masuk sekolah di madrasah. Naskah kuno itu seperti tali sambung dan pererat penulis dengan teks di dalamnya. Sebuah teks ajaran Islam yang sering dilantunkan jelang salat lima waktu. 

    Sependek pertemuan dengan sesama pemerhati dan pengkaji naskah kuno di Indonesia, pengalaman spiritual dalam manuskrip itu hampir dirasakan pula oleh sebagian mereka. Pengalaman spiritualitas lain terkait manuskrip, penulis rasakan pada beberapa momen penting lainnya. Yaitu saat melakukan digitalisasi naskah dan penelusuran konten kajian dalam naskah kuno (tekstologi). 

    Saat digitalisasi naskah, di mana prosesnya diawali dengan koding, inventarisasi, lalu pemotretan dan terakhir deskripsi, peristiwa spiritual terjadi pada beberapa hasil pemotretan naskah yang hilang. 

    Hasil pemotretan hilang ini, kejadiannya bersamaan dengan fisik naskah kuno yang tidak ada dalam penyimpanan kolektor naskah. Tentu saja, hal itu cukup mengenaskan dan menjadi pengalaman buruk selama ini. 

    Yang membuat penulis heran dan takjub adalah hilangnya itu bersamaan dengan hilangnya fisik naskah kuno dari kolektornya. Untungnya, penulis saat ini masih menyimpan beberapa hasil jepretan sebelum proses digitalisasi naskah kuno tersebut. 

    Adapun pengalaman spiritual melalui konten teks naskah kuno itu pada saat penulis sedang menuliskan hasil penelitian, di mana penulis seperti dibimbing atau dituntun untuk tetap duduk sembari membaca setiap bagian teks dalam naskah kuno. 

    Walhasil, penulis menemukan teks yang dicari tersebut. Padahal sebelumnya, sudah berkali-kali membaca naskah kuno pada saat siang hari tidak pernah ditemukan, tetapi pada malam hari itulah ternyata baru penulis temukan. 

    Suasana hening

    Atas dasar pengalaman itu, penulis menyakini, sebaiknya membaca naskah kuno itu pada suasana hening dan konsentrasi, syukur dalam keadaan bersuci bagi orang Islam untuk berwudlu terlebih dahulu.

    Di luar pengalaman personal spiritualitas di atas, penulis dapat membuat kategorisasi spiritual manuskrip dari naskah Cirebon terdapat pada 3 (tiga) aspek. Pertama, spiritualitas akan diraih apabila berasal dari naskah tarekat (sufstik), yakni teks dzikir untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt. Sekalipun, selain tarekat, sebenarnya dapat pula temukan pada teks fikih (hukum Islam) dan mujarobat (doa-doa). 

    Kedua, spiritualitas dalam naskah Cirebon dapat dilihat pada perilaku pemilik naskah kuno yang sederhana dan baik perangainya, tidak berfoya-foya padahal secara ekonomis sudah menengah ke atas, yang biasanya hidup bergelimpang materialistis. 

    Ketiga, spiritualisas manuskrip pada naskah kuno Cirebon akan terlihat pada saat para budayawan atau seniman atau para kyai sedang melakukan pelestarian budaya, antara lain pembacaan naskah kuno untuk seni brai, sebuah kesenian bernuansa sufistik. Pembaca naskah dan penarinya terkadang merasakan fana’ atau tidak sadar tetapi sedang melangsungkan praktik baca naskahnya. 


    Pelestarian budaya semacam ini belakangan mulai disemarakkan lagi oleh para pemangku kepentingan. Tentunya, hal itu sangat membantu pada proses pembangunan sumber daya manusia secara spiritual.


    Dengan demikian, spiritualitas manuskrip melalui kasus naskah Cirebon dapat diperoleh selain pengalaman personal para pengkaji naskah kuno --antara lain aspek luar naskah-- penulis diminta harus bertawasul terlebih dahulu, jika ingin lancar membaca naskah dan hasil maksudnya.

    Sebab penulis pernah diingatkan oleh pemilik naskah karena lupa bertawasul, padahal penulis membaca naskahnya bukan koleksinya, ternyata secara spiritual mampu diketahuinya. Juga spiritualitas manuskrip dari naskah Cirebon dapat diraih ketika melalui aspek dalam naskah kuno atau substansi naskahnya, teks yang ada di dalamnya. 

    Teks semacam ini biasanya ditemukan dari naskah tarekat dan naskah yang digunakan sebagai laku oleh budayawan. Spiritualitas manuskrip ini menjadi sumbangan penting dalam ilmu pengetahuan yang cenderung rasional dan menafikan spiritualitas. []

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.


    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id