Naomi Schalit
    Naomi Schalit

    Akibat Misinformasi, Warga AS Serbu Gedung Capitol

    Naomi Schalit - 11 Januari 2021 07:00 WIB
    Akibat Misinformasi, Warga AS Serbu Gedung Capitol
    Polisi menodongkan pistol ke arah pintu yang di rusak perusuh di Capitol saat sidang Kongres berlangsung pada Rabu, di Washington, D.C. Drew Angerer/Getty Images News via Getty Images
    Catatan editor: Ore Koren adalah peneliti konflik sipil dan kekerasan politik. Sebelum pemilihan umum (pemilu) Amerika Serikat (AS) pada November 2020, ia menulis artikel untuk The Conversation edisi Amerika Serikat (TCUS) soal kemungkinan munculnya kekerasan terkait pemilu di AS. Rekan kami di TCUS mewawancarai Koren terkait kejadian di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat AS, Capitol, pada Rabu malam waktu setempat. Pengunjuk rasa pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Gedung Capitol, memaksa para anggota DPR dan Senat berlindung dan menghentikan rapat pengesahan presiden terpilih Joe Biden oleh Kongres - empat orang dilaporkan tewas.

    Tanya (T): Anda meneliti kekerasan politik. Apa yang ada di benak Anda melihat kejadian di Capitol?

    Koren: Pertama-tama, saya sangat terkejut; ini reaksi yang wajar. Ini adalah situasi baru; kejadian ini menunjukkan besarnya pengaruh misinformasi dan hal-hal yang kita tidak dapat tangani dengan baik.

    Penelitian saya fokus pada kekerasan politik terorganisasi, yang kerap terjadi di wilayah-wilayah yang negara tidak memiliki banyak kekuatan untuk mencegah kekerasan, di negara yang ekonominya belum maju, yang institusi demokrasinya lemah, dan yang memiliki sejarah kekerasan terorganisasi. Dan biasanya kejadian semacam ini mengakibatkan banyak korban; untungnya ini tidak terjadi hari ini.

    Yang terjadi di Capitol, dari yang saya lihat, adalah kerusuhan kacau melibatkan orang-orang yang mengamuk di jantung demokrasi AS, tapi belum jelas apakah ini upaya yang terorganisasi.

    Namun, ini tetap mengejutkan. AS adalah ekonomi terbesar di dunia. Dari yang kami lihat dalam penelitian, kinerja ekonomi yang lemah adalah prediktor kuat terjadinya kekerasan politik terorganisasi.

    Orang-orang yang menyerbu Capitol akan mendapat kerugian lebih besar, ketimbang manfaat, dari kejadian ini, dan bagi saya ini membingungkan.

    AS memiliki presiden yang telah mengkampanyekan agenda penegakan hukum dan ketertiban yang kuat, sehingga banyak orang tidak menduga ini akan terjadi.

    AS memiliki aparat keamanan dalam negeri yang kuat; alih-alih membantu menegakkan, milisi dan vigilante mencederai hukum.

    Yang membedakan AS dan negara-negara demokrasi maju dan memiliki militer kuat dengan negara-negara lain yang menghadapi kekerasan pemilu yang mematikan adalah kemampuan untuk mengerahkan kekuatan negara dengan efektif. Berkat aparat keamanan dalam negeri yang kuat, mereka dengan cepat melakukan penegakkan hukum, menumpas para pelaku dan kelompok-kelompok terkait.

    Satu contoh betapa efektifnya respons negara adalah saat aparat federal menangkap dengan cepat anggota milisi yang berencana menculik gubernur di Michigan.

    T: Bagaimana membandingkan kejadian ini dengan kekerasan politik di negara-negara lain yang Anda teliti?

    Koren: Dibanding negara lain, saya berharap kekerasan ini tidak meningkat menjadi lebih ekstrem. Banyak kekerasan sebenarnya terjadi saat sebuah partai menolak menyerahkan kekuasaan atau sebuah partai menuduh partai lain curang.

    Itu tampaknya yang kita lihat terjadi di AS saat ini, satu partai menyalahkan partai lain karena curang. Bedanya, kita memiliki banyak bukti bahwa kecurangan ini tidak terjadi, dan kita di AS memiliki sarana legal dan institusional untuk membuktikan apakah kecurangan benar terjadi.

    Di AS, sebagian besar penolakan hasil pemilu dilakukan lewat saluran hukum formal. Masalah utama yang terjadi di tempat lain adalah kekerasan terjadi karena mereka tidak memiliki institusi, seperti pengadilan, untuk menangani hal semacam ini; kita di AS memiliki sistem hukum untuk ini.

    Di negara yang institusi hukumnya lemah, negara tidak mampu menangani ini dan tidak mampu menghadapi penolakan hasil pemilu lewat proses damai. Dalam kasus semacam ini, kita dapat melihat pemimpin politik, tidak sekadar warga yang marah, yang mengatakan bahwa insitusi politik yang ada tidaklah sah.

    Di negara-negara lain, kelompok yang melakukan kekerasan biasanya adalah milisi pro-pemerintah. Tapi yang kita lihat di AS bukanlah milisi pro-pemerintah, mereka aktif menentang polisi.

    T: Tapi yang terjadi di AS saat ini adalah sekelompok orang yang tidak percaya pada institusi yang menangani ini. Mereka yakin institusi yang ada itu korup, palsu, tidak nyata, curang, dan berkomplot. Dan sang presiden menyatakan hal yang sama.

    Koren: Trump mengatakan dia dicurangi, dan dia melakukan proses lewat saluran hukum. Sang presiden tidak mengatakan “OK, kita serbu Capital,” walau pidato Trump pada Rabu pagi sangat bisa diinterpretasi sebagai hasutan untuk menyerbu.

    Hingga saat ini, ucapan-ucapan Trump dapat dikategorikan lebih kepada memobilisasi dukungan, dan mencoba menciptakan dukungan untuk mendesak lewat saluran formal.

    Tapi kita memang memiliki petahana yang sangat sulit diprediksi yang terus mendorong batas-batas hukum pada masa pandemi terburuk seabad terakhir.

    Yang kita lihat hari ini, menurut saya, lebih berhubungan dengan sikap Trump yang sulit diduga dan hal-hal yang tidak bisa kita pertimbangkan dalam model-model yang bisanya kami gunakan untuk meneliti kekerasan politik.

    Saat ini sudah lebih dari dua bulan sejak pemilu dan kita tidak melihat kekerasan serius hingga hari ini, namun saat ini pilihan-pilihan legal tertutup, dan situasi menjadi lebih problematik. Kami jarang melihat kekerasan terkait pemilu berbulan-bulan setelah pemilu selesai.

    T: Apa menurut Anda dampak kejadian ini bagi stabilitas pemerintah AS atau pemilu di AS?

    Koren: Saya bukan pakar pemilu, tapi ini preseden buruk. AS tidak memiliki sejarah kekerasan politik dalam beberapa waktu belakang, tapi kini AS punya catatan itu dan itu bukanlah hal yang baik.

    Yang berkontribusi besar di sini adalah misinformasi. Orang-orang bergerak berdasarkan konspirasi tanpa bukti.

    Menurut saya ini adalah problem utama yang harus diatasi; saya tak tahu bagaimana caranya. Tapi sangatlah penting untuk mengatasi akar masalah - bahwa orang yakin pada apa yang mereka rasakan, bukan pada kenyataan.

    Sekali masyarakat terlibat dalam kekerasan politik, mereka akan mudah terulang kembali. Tapi jika ada respons negara yang efektif terhadap kejadian-kejadian ini, maka penting untuk memperkuat institusi-institusi itu.

    Menurut saya, banyak orang akan mengatakan bahwa semua kejadian ini akan memiliki implikasi jangka panjang.

    Namun terbuka juga kemungkinan bahwa hal ini akan justru membantu dengan menunjukkan akibat-akibat buruk dari upaya manipulasi institusi demokrasi demi keuntungan politik.

    Sekali lagi, ini bergantung pada bagaimana negara, politikus, aparat keamanan, dan semua orang merespons. Tapi memiliki catatan sejarah kekerasan politik adalah prediktor kuat terjadinya kekerasan pada masa depan.

    Menurut saya sangat penting otoritas federal AS menunjukkan kemampuan mereka untuk menangani ini. Saat dibutuhkan, pemerintah harus menunjukkan kemampuan untuk melindungi demokrasi Amerika, dengan kekuatan jika perlu.[]

    Naomi Schalit, Senior Editor, Politics + Society, The Conversation

    []
     

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.



    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id