Abdul Kohar
    Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group

    Mari Rayakan Keterbatasan

    Abdul Kohar - 12 Mei 2021 06:26 WIB
    Mari Rayakan Keterbatasan
    Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar/Media Indonesia



    ALANGKAH bahagianya Papa berlebaran bersamamu semua, walaupun tidur berdesakan di lantai. Ketahuilah, kebahagiaan itu terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda mewah, pada rumah mentereng dan gemerlapan. Benda sama sekali tak menjamin kebahagiaan hati. Cintaku kepadamu semuanya yang membikin hatiku bahagia. Hati tidak bisa digantikan oleh apa pun iuga. Papa orang yang sudah banyak makan garam hidup. Hanya kejujuran, kepolosan, apa adanya yang bisa memikat hatiku. Bukan hal-hal yang berlebih-lebihan'.

    Kutipan di atas saya nukil dari surat yang ditulis kolumnis amat masyhur di dekade '70-an hingga '80-an, Mahbub Djunaidi. Tokoh yang mendapat julukan 'pendekar pena' itu menulis surat untuk anak-anak dan istrinya dari balik penjara di Nirbaya. Waktu itu, di tahun 1977, Mahbub Djunaidi dipenjara rezim Orde Baru tanpa pengadilan.

     



    Musabab dipenjarakannya tokoh Nahdlatul Ulama itu diduga dipicu dua hal: pertama, karena tulisan-tulisan kritis dan sindiran pedasnya kepada pemerintah Orde Baru; kedua, Mahbub termasuk orang yang menginginkan suksesi kepemimpinan nasional. Isu suksesi makin marak memasuki 1978, tahun bersidangnya MPR hasil Pemilu 1977.

    Pada tahun-tahun itu, sebagai salah seorang politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Mahbub aktif keluar-masuk kampus memenuhi undangan mahasiswa untuk memberikan ceramah dan menyampaikan makalah. Akibat kegiatannya itu, Mahbub pun ditahan selama hampir setahun.

    Di dalam penjara di Nirbaya, ia menyelesaikan sebuah novel, Angin Musim, yang membidik politik Indonesia dari sudut pandang seekor kucing.

    Di Rumah Tahanan Nirbaya itu pula, Mahbub terpaksa melewatkan Lebaran bersama keluarga. Ia lalu berkirim surat kepada keluarganya. Surat itu dibacakan salah seorang anaknya, Fairus, di Pemakaman Assalam, Bandung, saat Mahbub dikebumikan pada 1995.

    Di surat itu Mahbub seolah ingin merayakan Lebaran dalam keterbatasan. Ia membesarkan hati anggota keluarganya bahwa kebahagiaan tetap bisa datang dalam keterbatasan walau di tempat yang berjauhan.

    Surat yang berusia lebih dari empat dasawarsa tersebut kini terasa relevan untuk dimunculkan kembali. Apalagi, tahun ini merupakan kali kedua sejak Indonesia merdeka, umat Islam di Tanah Air harus berlebaran dalam keterbatasan. Pandemi covid-19 telah 'memenjarakan' kita dari kemerdekaan untuk melaksanakan tradisi mudik, juga silaturahim tatap muka secara paripurna.

    Pemerintah telah melarang masyarakat mudik ke kampung halaman. Kebijakan yang diterapkan sejak 6 sampai 17 Mei ini sudah barang tentu demi menyetop laju penularan covid-19 yang biasanya melonjak seusai libur Lebaran.

    Pelarangan yang termaktub dalam Surat Edaran (SE) Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sebab, tahun lalu pun diterbitkan kebijakan serupa, tapi dengan penerapan yang masih lemah dan setengah-setengah.

    Dari tahun lalu pula kita mestinya belajar bahwa keterkaitan jumlah pemudik dan lonjakan angka positif korona ini bukan cuma akal-akalan. Akibat banyak yang abai dan membandel, angka penularan covid-19 seusai libur Idul Fitri 2020 terkerek hingga 93%.

    Meskipun terbilang sudah lebih tegas, toh masih bobol juga. Survei Kementerian Perhubungan menyebut bahwa 7% alias 18 juta warga tetap nekat mudik. Data menunjukkan bahwa di saat petugas melakukan tes covid-19 secara acak pada sekitar 6.000 pemudik membandel ini ditemukan hasil positif covid-19 sebanyak 4.123 orang. Itu artinya, sebanyak 61% pemudik yang bobol hari itu amat potensial membawa dan menularkan virus korona ke kampung halaman mereka.

    Banyak dari kita yang sepertinya belum ikhlas merayakan Lebaran dalam keterbatasan. Padahal agama mengamanatkan bahwa menjaga jiwa dan keselamatan manusia ialah kewajiban. Segala keterbatasan, 'penjara' itu dibuat demi ikhtiar besar menjaga jiwa dan keselamatan manusia.

    Pada titik itu, apa yang dirayakan dalam keterbatasan sebagaimana ditulis oleh Mahbub Djunaidi kepada keluarganya relevan untuk kita renungkan. Ikhlaskan keterbatasan ini karena hati yang ikhlas ialah sumber kebahagiaan. Mari mundur selangkah untuk melesat ke depan.

    Selamat merayakan Lebaran. Mari rayakan keterbatasan.

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id