Usman Kansong
    Usman Kansong Ketua Dewan Redaksi Media Group

    Berkurban Bukan Jadi Korban

    Usman Kansong - 16 Juli 2021 06:56 WIB
    Berkurban Bukan Jadi Korban
    Dewan Redaksi Media Group Usman Kansong/Media Indonesia



    Jakarta: Mengapa Tuhan mengganti Ismail dengan domba untuk disembelih ayahnya Ibrahim? Menurut cendekiawan Islam asal Iran, Ali Shari’ati, itu karena Tuhan tidak menghendaki manusia dikurbankan; Tuhan tidak menghendaki ayah mengorbankan anaknya.

    Sejak covid-19 mendera, kita senantiasa diperingatkan untuk tidak bepergian, supaya kita tidak membawa covid-19 ke rumah. Menjelang peringatan Idul Adha bersamaan dengan covid-19 yang makin menggila, mematuhi peringatan itu sangat relevan supaya kita tidak mengorbankan anak dan keluarga kita di rumah.

     



    Meniadakan salat Idul Adha berjemaah di masjid atau lapangan serta takbiran keliling merupakan upaya mencegah kita bepergian dan berkerumun, supaya kita tidak membawa virus covid-19 kepada keluarga kita ketika kita kembali ke rumah. Meniadakan takbiran keliling serta salat Idu Adha berjemaah mencegah kita mengorbankan diri sendiri dan keluarga kita terjangkit covid-19.

    Baca: Satgas Prediksi Kasus Covid-19 Melandai Tiga Pekan ke Depan

    Berkurban dengan menyembelih hewan ternak sesungguhnya satu ritual simbolis dalam perayaan Idul Adha. Karena ritual simbolis, kita tak harus memaknainya secara harfiah. Kita mesti menangkap makna substansial di baliknya dengan melihat konteks kekinian.

    Ketika konteksnya normal, kita kiranya bisa berkurban dengan menyembelih hewan dan kemudian membagikan dagingnya kepada yang membutuhkan. Akan tetapi, ketika konteksnya kita tengah dilanda pandemi covid-19 saat ini, kita bisa mengalihkannya serupa yang direkomendasi Muhammadiyah.

    Muhammadiyah merekomendasi dana untuk pengadaan hewan kurban di momen Idul Adha 2021 dialihkan membantu warga tidak mampu akibat terdampak covid-19. “Misalnya mereka yang bekerja jualan, lalu ada keluarga yang terkena covid-19 dan tidak bisa jualan, mereka ini sangat perlu santunan karena tidak ada pemasukan sama sekali,” kata Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah Syamsul Anwar.

    Ali Shari’ati mengatakan hakikat berkurban ialah kurbankan domba untuk mereka yang lapar. Mereka yang lapar substansinya ialah mereka yang membutuhkan. Dalam situasi pandemi covid-19 ini, boleh jadi orang lebih membutuhkan santunan uang tunai daripada daging kurban. Rekomendasi Muhammadiyah relevan dengan pernyataan Ali Shari’ati dan konteks saat ini.

    Apalagi, tradisi menyembelih hewan kurban selama ini menciptakan kerumunan. Orang-orang berkerumun menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurban. Orang-orang juga berkerumun untuk mendapatkan jatah daging kurban. Kerumunan salah satu pemicu covid-19. Sangat mungkin mereka pulang ke rumah membawa virus covid-19. Berkurban menjadikan mereka dan keluarga korban pandemi covid-19.
     



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id